Sabtu, 28 November 2015

TADABBUR AL-QUR`AN DAN KEMENANGAN DA’WAH



“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad: 29).

Tinta emas sejarah telah mencatat, dalam kurun waktu hanya 23 tahun Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam berhasil melahirkan generasi terbaik dengan kulaitas ilmu dan amal yang pantas diteladani. Dengan keterbatasan materi dan sulitnya kondisi, muncul kader-kader da’wah yang tangguh, dengan soliditas dan kemampuan survival yang tak diragukan lagi. Di bawah ancaman musuh dan tekanan tirani, justru terbina angkatan mujahid terhebat yang di kemudian hari menjadi para penakluk dan pemakmur sepertiga bumi.

Tentu capaian dahsyat itu bukan sekedar soal yang menempa mereka adalah seorang Nabi, atau soal mu’jizat dan kepentingan Alloh ta’ala untuk memenangkan agama-Nya. Tapi yang harus kita renungi adalah rahasia apa di balik capaian dahsyat itu? Toh dalam sejarah panjang para Nabi dan Rasul, sunnatullah atau sunnah kauniyah tetap berlaku. Artinya, keajaiban demi keajaiban itu baru akan muncul jika ikhtiar manusiawi sudah maksimal diupayakan. Justru dengan inilah, generasi penerus da’wah berikutnya mendapatkan celah untuk mencontoh dan meneladani.

Salah satu rahasia kesuksesan yang harus diteladani dari para pioner da’wah itu adalah bagaiamana ta’aamul atau interaksi mereka dengan Al-Qur`an. Bukan sekedar kualitas dan kuantitas bacaan yang menonjol dari mereka, namun tadabbur dan tafakkur terhadap firman-firman Alloh itu, membuat mereka kokoh dan tegar menempuh perjuangan. Al-Qur`an yang memang turun secara munajjaman (bertahap) mereka baca dengan penuh penghayatan dan perenungan yang mendalam, hingga melekat kuat pada lisan, pikiran, dan jiwa. Mereka tidak akan berpindah dari sepuluh ayat ke sepuluh ayat berikutnya, sebelum benar-benar memahami dan mengamalkannya.

Seperti Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallohu ‘anhu yang terkenal “cengeng” saat membaca Al-Qur`an. Penghayatannya yang mendalam terhadap Al-Qur`an membuatnya selalu terisak saat tilawah. Hingga ketika suatu hari Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam memerintahkannya untuk menjadi imam sholat, ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha mencegahnya, “Wahai Rasulullah, sungguh Abu Bakar adalah lelaki yang berhati sangat lembut. Jika ia menggantikanmu menjadi imam, orang-orang tidak akan bisa mendengarkan suaranya karena banyak menangis” (HR. Imam Muslim).

Atau seperti yang diceritakan ‘Ubbad bin Hamzah, bahwa suatu hari ia pergi ke rumah Asmaa binti Abi Bakar radhiyallohu ‘anhuma dan mendapatinya sedang membaca surat At-Thuur ayat 27, “Maka Alloh memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka”. Lalu ‘Ubbad meninggalkannya sendirian dan pergi ke pasar untuk sebuah urusan. Ketika ‘Ubbad kembali lagi, ternyata Asmaa masih membaca ayat tersebut berulang-ulang sambil bercucuran air mata.

Imam Nawawi menukil perkataan Hasan bin ‘Ali radhiyallohu ‘anhuma yang menggambarkan bagaimana hubungan para Sahabat dengan Al-Qur`an, “Sesungguhnya generasi sebelum kalian (para Sahabat) melihat Al-Qur`an seperti surat cinta dari Rabb mereka. Mereka mentadabburinya di waktu malam, dan memperjuangkannya di siang hari”.

Generasi salafus sholeh setelah mereka pun tak jauh berbeda. Seperti Sa’id bin Jubair yang mengulang-ulang surat Al-Baqarah ayat 281, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Alloh. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. Sa’id mengulangi satu ayat tersebut lebih 20 kali untuk bisa mentadabburinya.

Atau seperti Hasan Al-Bashri yang membaca surat An-Nahl ayat 18 berkali-kali hingga pagi: “Dan jika kamu menghitung-hitung ni`mat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, sebagaimana dikutip Ibnu Abid Dunya, dalam Attahajjud wa Qiyamullail.

Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya juga menyitir perkataan Muhammad bin Ka’ab Al-Qorodhy: “Tatkala aku hanya membaca surat Al-Zilzalah dan surat Al-Qori’ah, namun kuulang berkali-kali dan kutadabburi, maka itu lebih aku sukai dari pada semalam suntuk khatam membaca Al-Qur`an”.


Lalu dalam Al-Qur`an sendiri, Alloh ta’ala berkali-kali memuji tadabbur orang-orang beriman terdahulu: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58).

Alloh juga memuji tadabbur Ahlul Kitab yang mau menerima kebenaran Islam,”Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui seraya berkata: wahai Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi” (QS. Al-Maidah: 83).

Bahkan Alloh menyebutkan bahwa tadabbur dan ta’attsur seorang hamba terhadap Al-Qur`an merupakan tanda sempurnanya iman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Rabb mereka jualah mereka berserah” (QS. Al-Anfal: 3).

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam Miftah Daaris Sa’adah menegaskan, “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, dalam kehidupan dunia dan akheratnya, selain membaca Al-Qur`an dengan penuh penghayatan dan memusatkan segenap pikiran untuk merenungi artinya”.

Sebaliknya, kecaman dan ancaman Alloh menanti orang-orang yang enggan memahami dan merenungi Al-Qur`an, “Maka apakah mereka tidak mau mentadabburi Al Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Dalam surat Al-Baqarah ayat 78, Alloh mencela orang-orang terdahulu yang hanya tilawah saja tanpa mau tadabbur: “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab, kecuali amaaniyya dan mereka hanya menduga-duga”. Imam Syaukani dalam tafsirnya menjelaskan, yang dimaksud dengan amaaniyya disini adalah sekedar menjadi bacaan tanpa upaya pemahaman dan penghayatan.

Juga dalam surat Al-Furqon ayat 30, dimana Rasulullah mengadukan perilaku sebagian umatnya: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang mahjur (tidak dipedulikan)”. Ibnul Qoyyim kembali menjelaskan bahwa salah satu bentuk dari hajrul Qur’an adalah dengan tidak berusaha memahami dan merenungi kandungannya.

Kita patut bersyukur melihat perkembangan umat dewasa ini terkait dengan Al-Qur`an. Bagaimana antusiasme masyarakat untuk belajar Al-Qur`an meningkat pesat. Dimulai dari marhalah attilawah (membaca), dengan banyaknya metode belajar membaca Al-Qur`an, maraknya gerakan bebas buta Al-Qur`an, atau ramainya komunitas gemar tilawah, seperti ODOJ (one day one juz).

Kemudian meningkat ke marhalah al-hifzh (menghafal), dengan banyak berdirinya Pesantren Tahfizhul Qur`an, menjamurnya jaringan rumah Al-Qur`an, atau meriahnya audisi Hafizh Cilik di berbagai stasiun televisi. Fenomena menggembirakan di tanah air ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu.

Namun demikian, bersamaan dengan rasa kesyukuran itu kita tidak boleh cepat berpuas diri. Umat harus segera dibawa melangkah pada marhalah ta’amul ma’al Qur`an (tahapan berinteraksi dengan Al-Qur`an) berikutnya, yaitu tadabbur. Untuk kemudian bisa teraih marhalah al-‘amal wadda’wah ilaih (tahapan pengamalan dan menyeru kepadanya). Itu semua harus dimulai dari diri kita sendiri, para pejuang da’wah. Minimal membiasakannya pada program dan agenda di internal barisan. Jika tidak, petunjuk macam apa yang ingin kita berikan kepada umat, kalau kita sendiri belum tertunjuki?

Alasan-alasan klasik, seperti tidak mampu berbahasa Arab, hanya akan mempertontonkan kekufuran kita atas nikmat akal dan kesempatan hidup puluhan tahun yang telah Alloh berikan. Lagian sudah tersedia terjemah Al-Qur`an dengan berbagai macamnya. Pun sudah banyak tafsir Al-Qur`an dalam bahasa Indonesia. Kemalasan dan kelalaian diri lah yang membuat kita belum juga beranjak, yang itu semakin memperlambat datangnya kemenangan.

Syekh Musthofa As-Siba’i, dalam kitabnya Hakadzaa ‘Allamatni Al-Hayah mengingatkan kita: “Sesungguhnya pengaruh yang dahsyat dari Al-Qur`an atas jiwa-jiwa orang beriman hanya bisa dengan merenungi maknanya, bukan sekedar menikmati keindahan lantunannya. Juga dengan tilawah orang-orang yang mengamalkannya, bukan sekedar dengan tajwid orang-orang yang mahir membacanya. Sungguh, orang-orang beriman terdahulu bisa mengguncangkan bumi saat jiwa mereka mampu terguncang oleh makna-makna Al-Qur`an. Mereka sukses membuka dunia, saat akal-akal mereka terbuka menerima hakikat Al-Qur`an. Mereka berhasil menguasai alam semesta saat perilaku dan keinginan mereka dikuasai oleh prinsip-prinsip Al-Qur`an. Dan begitulah sejarah kejayaan masa lalu itu akan terulang!”.

:: Artikel ini ditulis untuk situs dakwah dan ukhuwah www.manhajuna.com

0 komentar: