Minggu, 22 November 2015

SENGGUK TANGIS ABU BAKAR OLEH AL-QUR'AN



Tidak ada generasi yang lebih pantas untuk dijadikan rujukan hidup selain para Sahabat Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Mereka adalah khairul quruun (sebaik-baik generasi) yang telah Alloh ta’ala pilih dari seluruh hamba untuk menjadi teman, pendamping, penolong, dan pembela utusan-Nya tercinta.

Di dalam Al-Qur’an dengan tegas Alloh ta’ala memaklumatkan keridhoan-Nya kepada mereka dan orang-orang yang mau mengikuti kebaikan mereka, “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS.At-Taubah: 100).

Salah satu sisi keteladanan yang bisa kita ambil dari mereka adalah bagaimana mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an. Para pembela Rasul ‘alaihis sholatu wassalam itu adalah saksi mata bagaimana Al-Qur’an diturunkan dan apa sebabnya. Mereka tahu persis bagaimana Al-Qur’an dipahami oleh Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam dan di-implementasikan dalam keseharian. Mereka bisa segera bertanya atas apa yang mereka bingungkan, sebagaimana mereka akan diluruskan jika salah pemahaman dan pelaksanaan. Maka praktis bagi kita manusia akhir zaman, mereka adalah sumber pegangan kedua setelah hadits-hadits Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam dalam ta’aamul bersama Al-Qur’an.

Di antara para sosok agung sahabat Rasul ‘alaihis sholatu wassalam yang penting bagi kita untuk bercermin kepadanya adalah Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Sahabat yang bernama asli Abdullah bin Abi Quhafah itu digelari As-Shiddiiq karena menjadi orang yang pertama kali beriman dan membenarkan apa pun kata Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Ia lah pendamping Nabi ‘alaihis sholatu wassalam saat hijrah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40).

Sosok dermawan bertubuh kurus yang telah memerdekakan Bilal bin Rabbah itu terkenal sebagai lelaki yang bakkaa’, banyak menangis dan cepat meneteskan air mata saat membaca Al-Qur’an. Maka ketika suatu hari Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam memerintahkannya untuk menjadi imam sholat, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha putrinya tercinta berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Abu Bakar adalah lelaki yang berhati sangat lembut. Jika ia menggantikanmu menjadi imam, orang-orang tidak akan bisa mendengarkan suaranya karena banyak menangis” (HR. Imam Muslim).

Menurut Abu Bakar, tangis seseorang saat membaca Al-Qur’an merupakan bukti kelembutan hatinya. Sebaliknya, saat sang qaari’ bebal dengan lantunan Al-Qur’an, itu merupakan salah satu tanda kekerasan hatinya. Sebagaimana yang Abu Bakar katakan di hadapan orang-orang Yaman saat menceritakan betapa dulu para Sahabat selalu menangis saat mendengar Al-Qur’an, “Begitulah kami dahulu, namun sekarang hati-hati telah mengeras”.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga terkenal dengan suaranya yang sangat jernih dan merdu dalam membaca Al-Qur’an. Ia membacanya dengan tartil, penuh kekhusya’an dan penghayatan. Hingga ketika itu, pada awal da’wah Islam di Makkah, para pemuka Quraisy meminta Abu Bakar untuk tidak membaca Al-Qur’an di tempat umum. Mereka memintanya sholat dan membaca Al-Qur’an sesuka hatinya di rumah. Itu semua karena banyak perempuan dan anak-anak Quraisy yang trenyuh dan terpengaruh saat mendengar tilawah Abu Bakar.

Namun ketika akhirnya sosok yang selalu terdepan dalam beramal itu menuruti keinginan mereka untuk sholat dan membaca Al-Qur’an di rumahnya, justru para perempuan dan anak-anak Quraisy berduyun-duyun mendatangi rumahnya untuk mendengarkan bacaannya yang terisak-terisak menyentuh hati. Para pemuka Quraisy pun menyerah, tidak bisa berbuat apa-apa karena Abu Bakar termasuk kalangan terhormat dan bernasab tinggi di antara mereka.

Lelaki mulia itu, yang Rasulullah pernah bersabda tentangnya: “Jika aku mengangkat seseorang sebagi kekasih, maka aku akan mengangkat Abu Bakar As-Shiddiq sebagai kekasihku” (HR. Bukhori Muslim), selain terkenal dengan banyak tilawah, ia juga masyhur dengan pemaknaan yang dalam terhadap Al-Qur’an. Itu terlihat dari kalimat-kalimat yang ia tuturkan yang tak pernah kosong dari ayat-ayat Al-Qur’an. Ia selalu berusaha mengkaitkan ayat Al-Qur’an dengan realita hidup keseharian, yang membuat firman Alloh itu menjadi terasa hidup dan membumi.

Seperti yang diceritakan Ibnu Abbas saat tersiar berita wafatnya Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Ketika itu kaum Muslimin banyak yang tidak percaya dengan berita tersebut. Bahkan Umar bin Khattab mengancam akan memenggal leher orang yang mengatakan bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam telah meninggal. Hingga akhirnya datang Abu Bakar memintanya duduk dan meminta orang-orang yang sudah ramai berkumpul di dekat Masjid Nabawi untuk tenang.

Setelah Abu Bakar keluar dari rumah Rasulullah dan menyeka air matanya, ia berkata: “Barangsiapa yang selama ini menyembah Muahammad, maka ketahuilah bahwa ia telah wafat. Namun barangsiapa yang selama ini menyembah Allah ta’ala, maka Ia adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan mati!”.

Lalu Abu Bakar membaca ayat, “Dan tidaklah Muhammad kecuali hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imron: 144).

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengomentari apa yang terjadi di atas: “Demi Alloh, seolah orang-orang tidak tahu bahwa Alloh ta’ala pernah menurunkan ayat ini hingga Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang pada waktu itu menerimanya, lalu kami mendengar setiap orang melantukannya”.

Begitu melekatnya Al-Qur’an dalam hati, pikiran dan lisan Abu Bakar juga terlihat saat ia sendiri menjelang wafat. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah kisah bagaimana ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bersyair sedih di sisi Abu Bakar saai ia sedang sakaratul maut: “Tidak dapat dipungkiri betapa tak bergunanya menghindari kematian, saat nyawa di kerongkongan dan dada mulai kesempitan ”.

Dengan terbata-bata Abu Bakar menjawab putrinya tercinta itu dengan mengatakan, “Bukan begitu wahai putriku, akan tetapi katakanlah:”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya”(QS. Qaaf: 19). Lalu ia meminta ‘Aisyah agar nanti mengkafaninya dengan dua helai kain yang ia gunakan, karena menurutnya orang yang masih hidup lebih membutuhkan kain yang baru dari pada orang mati.

Itulah beberapa fragmen kehidupan Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bersama Al-Qur’an, yang memberi pesan kepada kita bahwa sejatinya menjadi Ahlul Qur’an bukan sekedar soal kuantitas bacaan, merdunya lantunan, atau kuatnya hafalan. Namun lebih dari itu, penghayatan dan pemaknaan atas apa yang kita baca, juga sejauh mana Al-Qur’an mempengaruhi hati, jiwa, dan tingkah-laku kita, menjadi tolok ukur yang utama. Semoga kita manusia akhir zaman, mau dan mampu meneladani ta’alluq dan ta’attsur sahabat termulia itu dengan Al-Qur’an. Radhiyallahu ta’ala ‘anhu wa ‘anis shohabati ajma’aiin.

:: Artikel ini ditulis untuk rubrik Jejak Salaf di www.ibnu-abbas.com

0 komentar: