Kamis, 26 November 2015

BEASISWA S2 & S3 KING SAUD UNIVERSITY, RIYADH



Tahun ini, King Saud University (KSU) kembali membuka beasiswa untuk pelajar internasional tingkat pascasarjana. Pelamar beasiswa dapat mengajukan aplikasi permohonan beasiswa secara online, yang akan dibuka pada tanggal 14 Desember 2015. Pendaftaran dapat dilakukan secara online lewat portal pendaftaran di https://dgs.ksu.edu.sa/DGS3/Login.aspx

Jurusan yang Ditawarkan
Tidak setiap jurusan di KSU menawarkan progam S2 dan S3 untuk mahasiswa asing. Jurusan yang menawarkan program S2 dan S3 pun tidak setiap tahun membuka pendaftaran. Namun, secara umum hampir seluruh jurusan membuka pendaftaran program studi S2 & S3 yang ia miliki. Daftar jurusan yang dibuka pendaftarannya dapat dilihat di:

Untuk mendapat gambaran umum tentang jurusan/program studi yang ditawarkan bisa menuju website masing-masing jurusan (http://ksu.edu.sa/en/colleges). Jurusan yang dibuka untuk perempuan juga bisa dilihat di http://womencampus.ksu.edu.sa/ (Arabic). Kampus laki-laki dan perempuan terpisah.Disyaratkan ada mahram (Suami, bapak atau saudara laki-laki) yang tinggal di Arab Saudi.

Persyaratan Pendaftaran
Persyaratannya adalah sebagai berikut (dalam bahasa Arab):

Untuk program Master/S2: 
-Usia pemohon beasiswa tidak melebihi 30 tahun untuk program S2/Master 
-Paspor 
-Ijazah S1 dan Transkrip 
-GRE (151 Quantitative Reasoning) atau test “Qudrat Jam’iyah” (Test ini hanya di Saudi Arabia, diadakan oleh Qiyas) 
-TOEFL, IELTS (Tergantung jurusan yang diambil) 
-Rekomendasi dari 2 dosen 

Untuk program Doctoral/S3: 
-Usia pemohon beasiswa tidak melebihi 35 tahun untuk program S3/Doctoral 
-Paspor 
-Ijazah S2 dan Transkrip 
-TOEFL iBT 61 (atau yang setara), IELTS 5, STEP 81 (STEP hanya ada di Saudi Arabia, diadakan oleh Qiyas) 
-GRE (151 Quantitative Reasoning) atau test “Qudrat Jam’iyah” (Test ini hanya di Saudi Arabia, diadakan oleh Qiyas) 
-Rekomendasi dari 3 dosen 
Untuk jurusan agama juga diminta TOEFL, dan GRE atau tes Qudrat Jami’ah.

Cara Mendaftar
Sebelum mendaftar secara online pastikan Anda sudah membaca petunjuk pendaftaran (English) dan(Arabic). Langkah pertama adalah membuat account di portal pendaftaran (klik bagian “New Student Registration” untuk membuat account baru). Setelah memiliki account Anda bisa login dan mulai mengisi form yang ada. Anda akan diminta mengupload berkas-berkas yang dibutuhkan (paspor, ijazah, transkrip, hasil tes TOEFL, dll).

Secara umum form pendaftaran berisi hal-hal berikut: 
-Student’s basic information (Informasi tentang pendaftar) 
-Type of study and academic degree (Program yang mau diambil. Pilih ‘Normal’ lalu pilih Master/PhD. Untuk jenis scholarshipnya pilih “External Scholarship”) 
-Basic requirements (Informasi tambahan tentang Anda) 
-Experience information (TOEFL, GRE, dll) (Bisa dilewati, tetapi hendaknya segera dikirim) 
-Whom to contact in emergencies (CP saat darurat) 
-University degree information (Ijazah Anda sebelumnya) 
-Information on recommendation letters (Rekomendasi bisa online, dengan mengirim scannya) 
-Selecting the discipline desired (Jurusan yang akan Anda daftari) 
-Sending the application 
-Exit. 

Setelah selesai mengisi form pendaftaran Anda memili dua pilihan: sent (kirim) atau preview (lihat kembali). Jika Anda telah yakin mengisi seluruh informasi yang dibutuhkan maka pilih sent, jika masih ragu cek kembali dengan klik preview. Sebagai catatan penting, Anda dapat mengupdate aplikasi/data yang telah dikirim sampai batas akhir masa pendaftaran.

Pengumuman diterima atau tidak, akan disampaikan lewat email. Biasanya agak lama prosesnya. Jika butuh info lebih lanjut silahkan kontak bagian pendaftaran Pascasarjana KSU, Email: dgsad@ksu.edu.sa. Twitter: @DGS_KSU Sudah siap mendaftar di KSU?!, langsung klik link berikut: https://dgs.ksu.edu.sa/DGS3/Login.aspx

Sumber: www.manhajuna.com

Beasiswa Diploma di Riyadh untuk Guru Bahasa Arab


Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud berlokasi di kota Riyadh, Arab Saudi didirikan pada tahun 1974 M. Saat ini sedang membuka masa pendaftaran untuk mahasiswa asing pada jurusan Diploma tinggi untuk pengajar bahasa arab dengan masa kuliah 1 tahun dan mendapatkan semua fasilitas beasiswa secara penuh seperti umumnya mahasiswa asing (Non-arab) yang kuliah di universitas-universitas di Arab saudi.

Berikut ini persyaratan untuk calon penerima besiswa dari luar Arab Saudi;
- Mengisi form pendaftaran yang dapat diunduh disini
- Terjemahan ijazah S1 asli dan transkip nilai (nilai rata-rata di ijazah minimal 8)
- Terjemahan akte lahir
- Terjemahan surat keterangan sehat
- Terjemahan SKCK
- Fotocopy paspor
- 2 Surat rekomendasi dari perseorangan atau yayasan islam
- Pendaftar harus sebagai pengajar bahasa arab saat mendaftar dan dibuktikan dengan surat keterangan dari tempat ia mengajar
- Foto terbaru

Terjemahan yang dimaksud di atas adalah terjemahan dalam bahasa arab yang diterjemahkan oleh penerjemah yang resmi dan tersumpah dan dilegalisasi oleh Menkumham & Menlu.

Jika semua persyaratan sudah terpenuhi, silahkan di scan terlebih dahulu dengan format JPG atau PDF, kemudian kirim semua dokumen persyaratan ke alamat email: arabicdip@gmail.com atau jika memungkinkan, bisa langsung menyerahkan ke bagian “علم اللغة التطبيقي” di gedung Arabic Institute di Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab saudi. (Manhajuna)

Selasa, 24 November 2015

Materi Ta'dhim As-Sholah (Agar Sholat Terasa Dahsyat)


























Materi ini pernah disampaikan dalam beberapa acara: Daurah Ta'mir se Karanganyar, Kajian Jaliayat di Damam, Kajian Jaliyat di Riyadh, Kajian I'tikaf Masjid Bilal bin Rabah Isykarima, Kajian Ramadhan Masjid Istiqlal, Kajian Ahad Pagi di Pesantren Solo Peduli Karanganom, Kajian I'tikaf Masjid Ar-Ridho, Kajian I'tikaf DSH Klaten, dll. Untuk mendapatkan materi dalam format PPT silakan click: http://www.slideshare.net/hakimuddinsalim/tadhim-assholah-upaya-merevitalisasi-sholat-lima-waktu-kita

Minggu, 22 November 2015

SENGGUK TANGIS ABU BAKAR OLEH AL-QUR'AN



Tidak ada generasi yang lebih pantas untuk dijadikan rujukan hidup selain para Sahabat Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Mereka adalah khairul quruun (sebaik-baik generasi) yang telah Alloh ta’ala pilih dari seluruh hamba untuk menjadi teman, pendamping, penolong, dan pembela utusan-Nya tercinta.

Di dalam Al-Qur’an dengan tegas Alloh ta’ala memaklumatkan keridhoan-Nya kepada mereka dan orang-orang yang mau mengikuti kebaikan mereka, “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS.At-Taubah: 100).

Salah satu sisi keteladanan yang bisa kita ambil dari mereka adalah bagaimana mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an. Para pembela Rasul ‘alaihis sholatu wassalam itu adalah saksi mata bagaimana Al-Qur’an diturunkan dan apa sebabnya. Mereka tahu persis bagaimana Al-Qur’an dipahami oleh Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam dan di-implementasikan dalam keseharian. Mereka bisa segera bertanya atas apa yang mereka bingungkan, sebagaimana mereka akan diluruskan jika salah pemahaman dan pelaksanaan. Maka praktis bagi kita manusia akhir zaman, mereka adalah sumber pegangan kedua setelah hadits-hadits Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam dalam ta’aamul bersama Al-Qur’an.

Di antara para sosok agung sahabat Rasul ‘alaihis sholatu wassalam yang penting bagi kita untuk bercermin kepadanya adalah Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Sahabat yang bernama asli Abdullah bin Abi Quhafah itu digelari As-Shiddiiq karena menjadi orang yang pertama kali beriman dan membenarkan apa pun kata Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Ia lah pendamping Nabi ‘alaihis sholatu wassalam saat hijrah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40).

Sosok dermawan bertubuh kurus yang telah memerdekakan Bilal bin Rabbah itu terkenal sebagai lelaki yang bakkaa’, banyak menangis dan cepat meneteskan air mata saat membaca Al-Qur’an. Maka ketika suatu hari Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam memerintahkannya untuk menjadi imam sholat, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha putrinya tercinta berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Abu Bakar adalah lelaki yang berhati sangat lembut. Jika ia menggantikanmu menjadi imam, orang-orang tidak akan bisa mendengarkan suaranya karena banyak menangis” (HR. Imam Muslim).

Menurut Abu Bakar, tangis seseorang saat membaca Al-Qur’an merupakan bukti kelembutan hatinya. Sebaliknya, saat sang qaari’ bebal dengan lantunan Al-Qur’an, itu merupakan salah satu tanda kekerasan hatinya. Sebagaimana yang Abu Bakar katakan di hadapan orang-orang Yaman saat menceritakan betapa dulu para Sahabat selalu menangis saat mendengar Al-Qur’an, “Begitulah kami dahulu, namun sekarang hati-hati telah mengeras”.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga terkenal dengan suaranya yang sangat jernih dan merdu dalam membaca Al-Qur’an. Ia membacanya dengan tartil, penuh kekhusya’an dan penghayatan. Hingga ketika itu, pada awal da’wah Islam di Makkah, para pemuka Quraisy meminta Abu Bakar untuk tidak membaca Al-Qur’an di tempat umum. Mereka memintanya sholat dan membaca Al-Qur’an sesuka hatinya di rumah. Itu semua karena banyak perempuan dan anak-anak Quraisy yang trenyuh dan terpengaruh saat mendengar tilawah Abu Bakar.

Namun ketika akhirnya sosok yang selalu terdepan dalam beramal itu menuruti keinginan mereka untuk sholat dan membaca Al-Qur’an di rumahnya, justru para perempuan dan anak-anak Quraisy berduyun-duyun mendatangi rumahnya untuk mendengarkan bacaannya yang terisak-terisak menyentuh hati. Para pemuka Quraisy pun menyerah, tidak bisa berbuat apa-apa karena Abu Bakar termasuk kalangan terhormat dan bernasab tinggi di antara mereka.

Lelaki mulia itu, yang Rasulullah pernah bersabda tentangnya: “Jika aku mengangkat seseorang sebagi kekasih, maka aku akan mengangkat Abu Bakar As-Shiddiq sebagai kekasihku” (HR. Bukhori Muslim), selain terkenal dengan banyak tilawah, ia juga masyhur dengan pemaknaan yang dalam terhadap Al-Qur’an. Itu terlihat dari kalimat-kalimat yang ia tuturkan yang tak pernah kosong dari ayat-ayat Al-Qur’an. Ia selalu berusaha mengkaitkan ayat Al-Qur’an dengan realita hidup keseharian, yang membuat firman Alloh itu menjadi terasa hidup dan membumi.

Seperti yang diceritakan Ibnu Abbas saat tersiar berita wafatnya Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Ketika itu kaum Muslimin banyak yang tidak percaya dengan berita tersebut. Bahkan Umar bin Khattab mengancam akan memenggal leher orang yang mengatakan bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam telah meninggal. Hingga akhirnya datang Abu Bakar memintanya duduk dan meminta orang-orang yang sudah ramai berkumpul di dekat Masjid Nabawi untuk tenang.

Setelah Abu Bakar keluar dari rumah Rasulullah dan menyeka air matanya, ia berkata: “Barangsiapa yang selama ini menyembah Muahammad, maka ketahuilah bahwa ia telah wafat. Namun barangsiapa yang selama ini menyembah Allah ta’ala, maka Ia adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan mati!”.

Lalu Abu Bakar membaca ayat, “Dan tidaklah Muhammad kecuali hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imron: 144).

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengomentari apa yang terjadi di atas: “Demi Alloh, seolah orang-orang tidak tahu bahwa Alloh ta’ala pernah menurunkan ayat ini hingga Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang pada waktu itu menerimanya, lalu kami mendengar setiap orang melantukannya”.

Begitu melekatnya Al-Qur’an dalam hati, pikiran dan lisan Abu Bakar juga terlihat saat ia sendiri menjelang wafat. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah kisah bagaimana ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bersyair sedih di sisi Abu Bakar saai ia sedang sakaratul maut: “Tidak dapat dipungkiri betapa tak bergunanya menghindari kematian, saat nyawa di kerongkongan dan dada mulai kesempitan ”.

Dengan terbata-bata Abu Bakar menjawab putrinya tercinta itu dengan mengatakan, “Bukan begitu wahai putriku, akan tetapi katakanlah:”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya”(QS. Qaaf: 19). Lalu ia meminta ‘Aisyah agar nanti mengkafaninya dengan dua helai kain yang ia gunakan, karena menurutnya orang yang masih hidup lebih membutuhkan kain yang baru dari pada orang mati.

Itulah beberapa fragmen kehidupan Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bersama Al-Qur’an, yang memberi pesan kepada kita bahwa sejatinya menjadi Ahlul Qur’an bukan sekedar soal kuantitas bacaan, merdunya lantunan, atau kuatnya hafalan. Namun lebih dari itu, penghayatan dan pemaknaan atas apa yang kita baca, juga sejauh mana Al-Qur’an mempengaruhi hati, jiwa, dan tingkah-laku kita, menjadi tolok ukur yang utama. Semoga kita manusia akhir zaman, mau dan mampu meneladani ta’alluq dan ta’attsur sahabat termulia itu dengan Al-Qur’an. Radhiyallahu ta’ala ‘anhu wa ‘anis shohabati ajma’aiin.

:: Artikel ini ditulis untuk rubrik Jejak Salaf di www.ibnu-abbas.com

Jumat, 20 November 2015

Mengenang "Dua Menara" dari Kampung Dua Menara (2)


Mengapa semua ayat tentang jihad (kecuali ayat shafqah dalam surat At-Taubah), perintah berjuang dengan harta selalu didahulukan dari pada berjuang dengan jiwa? Menurut sebagian ulama hal itu karena harta bersifat darurat dan multi fungsi dalam perjuangan. Ada juga yang berpendapat karena sifat bakhil yang menghinggapi kebanyakan manusia. Betapa banyak orang yang ringan berkorban dengan tenaga, lisan, keringat, bahkan nyawa, namun berat untuk berkorban dengan harta. Hanya sedikit orang yang bisa terjaga dari kekikiran dan kebakhilan, “Dan barangsiapa yang terjaga dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. At-Taghabun: 16).

Salah satu yang kami kenal dari mereka yang sedikit itu adalah dokter Tunjung. Menara kedermawanan yang menutup hidup pada usia 71 itu, mengajarkan kepada kita bagaimana berhubungan dengan harta dunia. Bahwa ia cukup di tangan saja, tak perlu masuk sampai ke dada.

Bukti nyata dari kedermawanan beliau adalah adanya Isykarima. Ma’had yang didirikan pada tahun 1998 itu adalah saksi bisu lapis-lapis al-‘athaa al-mutawaashil yang tak pernah henti mengalir. Beliau adalah pendiri sekaligus sebagai donatur utama, sehingga nama Isykarima menjadi sangat identik dengan beliau. Tentunya tanpa menafikkan peran donatur dan perintis lainnya.

Masih segar di ingatan, saat dulu kami masuk Isykarima hanya membayar uang sebesar Rp. 500.000 saja. Itu pun kembali kepada kami dalam wujud peralatan pribadi seperti ranjang dan kasur, bukan sebagai uang gedung atau sumbangan pendidikan. Uang SPP bulanannya pun hanya Rp. 150.000, tak sebanding dengan fasilitas dan menu makan harian yang jauh di atas rata-rata pesantren pada umumnya. Itu pun kami beberapa tahun sempat mendapat beasiswa prestasi, tanpa harus membayar uang sepeser pun.

Masih segar di ingatan juga, saat tiap bulan Pak Dokter beserta istri menengok kami sambil membawa aneka snack dan makanan, lalu dengan penuh kelembutan dan kebapakan bertanya, “Antum butuh apa lagi?”. Berbagai kebutuhan fasilitas belajar dan olahraga, tanpa harus repot meminta segera terpenuhi. Benar-benar seperti ayah kandung bagi para Asatidz dan santri.

Waktu itu kami pernah jatuh sakit hingga harus diopname di Kustati. Setelah dirawat intensif dan istirahat cukup kami diperbolehkan kembali ke Ma’had. Saat kami bertanya bagaimana dengan biaya rumah sakit? Salah seorang Ustadz menjawab, “Alhamdulillah sudah diselesaikan Pak Dokter”.

Kedermawanan itu terus melimpah kepada kami bahkan saat kami sudah lulus. Sebelum berangkat ke Madinah kami sempat berpamitan khusus kepada beliau. Maksud kami adalah ingin berterima kasih atas segala kebaikan beliau selama ini. Namun lagi-lagi tangan panjang Pak Dokter seperti tak mau berhenti menggapai keutamaan. Seamplop tebal uang beliau sisipkan saat salaman. Alasan bahwa seluruh kebutuhan untuk ke Madinah sudah dicukupi oleh orang tua pun tertolak mentah-mentah. “Nggak papa, terima aja, buat tambah sangu”, kata beliau.

Itu pun masih berlanjut setelah kami di Madinah. Setiap beliau berangkat umroh, semua alumni Isykarima di Madinah selalu mendapat “jatah” khusus dari beliau layaknya seorang ayah yang menengok anaknya. Fasilitas lebih dari cukup buat kami dari kampus seperti tak digubris oleh beliau. Tak lupa beliau selalu mengingatkan kami, “ Hafalan Qur’annya gimana?” atau “Jangan lupa sama ma’had ya...”. Pun demikian yang kami dengar dari beberapa alumni di tempat yang lain.

Suatu saat kami pernah membawa seorang teman mahasiswa Madinah dari Papua yang sakit lutut cukup akut menemui beliau. Berbagai rumah sakit dan dokter spesialis, plus pengobatan alternatif sudah dicoba tanpa hasil yang signifikan. Alhamdulillah, melalui tangan dingin beliau kini teman kami tersebut bisa berjalan normal. Lagi-lagi itu beliau lakukan tanpa sepeser pun memungut biaya. Sampai malu rasanya menerima kebaikan yang bertubi-tubi itu.

Tentunya hilir kedermawanan beliau bukan hanya kami. Berapa banyak lembaga dan proyek dakwah yang teraliri sakhaa’ dan karam beliau? Berapa banyak santri dan aktifis Islam yang telah beliau tolong? Berapa banyak pasien yang beliau obati dengan membayar sebagian atau bahkan gratis keseluruhan? Belum lagi kedermawanan “ringan” yang banyak diceritakan orang. Seperti cerita orang tentang pengajian di rumah beliau yang selalu disediakan makan malam. Cerita orang tentang para pedagang kecil yang dipersilakan numpang berjualan. Cerita orang tentang kran air yang sengaja ditaruh di luar pagar bagi siapa saja yang membutuhkan. Cerita-cerita kesaksian itu begitu riuh terdengar saat beliau menutup usia kemarin.

Putra dari Pahlawan Nasional Prof. Dr. dr. R. Soeharso itu juga menaruh perhatian besar pada nasib Muslimin di belahan bumi lain. Bukan saja darah biru yang beliau warisi dari sang ayah, namun juga darah juang. Jika mendiang R. Soeharso dulu tercatat aktif melawan penjajah Jepang, hingga harus masuk daftar hitam Nippon yang harus dimusnahkan, begitu pula dengan dokter Tunjung yang terkenal royal memberi donasi untuk daerah konflik di berbagai dunia Islam. Tercatat juga bersama Sahabat Al-Aqsha beliau pernah menembus Gaza membawa bantuan dan alih teknologi bedah.


Yang lebih indah dari itu, menara kedermawanan itu berdiri kokoh tanpa sedikit pun berkabut keangkuhan. Justru ketawadhu’an dan kesederhanaan lah yang dipancarkan. Setidaknya itu yang yang kami rasakan dan diceritakan banyak orang. Masih terkesan di ingatan saat orang sepenting dan sesibuk beliau mau mendatangi walimahan sederhana kami di pelosok Jatinom sana. Beliau yang hadir bersama Ustadz Syihab, Syekh Hisyam, Mas Hanif, dan beberapa Asatidz lain begitu sabar menunggu hingga acara usai. Padahal saat menyerahkan undangan kami sempat su’udzon.Alah paling-paling beliau ga dateng, mana sempat?”, batin kami saat itu.

Beberapa kali bertemu, pakaian yang beliau pakai pun juga biasa-biasa saja. Rumah tempat tinggal beliau adalah rumah khas jawa “biasa” yang sederhana, sangat kontras dengan deretan mall dan perkantoran elit di jalan Slamet Riyadi. Beberapa kali berkesempatan masuk ke rumah ahli bedah anggota International College of Surgeons itu, tidak ada perabotan yang istimewa dan mewah di ruang tamunya. Wallahu hasiibuhu walaa uzakkii ‘alallahi ahada.

Itulah sekelumit kesaksian, di hamparan kebaikan yang tak terjangkau penglihatan. Berharap coretan ini menjadi obat kesedihan, saat raga tak turut hadir mensholatkan. Jika bukan karena harapan akan pertemuan kedua di surga, mungkin empedu hati ini akan pecah menahan duka. Kami menyayangi kalian berdua, namun Alloh lebih besar sayang dan rahmat-Nya. Selamat jalan wahai dua menara...

Kembali ke: Mengenang "Dua Menara" dari Kampung Dua Menara (1)

Mengenang "Dua Menara" dari Kampung Dua Menara (1)


Sesungguhnya milik Allah lah apa yang Ia ambil, dan segala sesuatu di dunia pasti menemui ajalnya. Kurang dari dua bulan, Kampung Dua Menara (sebutan familiar Ma’had Tahfizhul Qur’an Isykarima di kalangan alumni) kehilangan dua tokoh sentralnya. Bukan hanya Isykarima saja yang berduka, segenap kaum Muslimin bahkan masyarakat umum juga merasa lara, karena kiprah juang keduanya menembus batas-batas golongan, strata sosial, teritorial, bahkan agama. Siapa lagi kalau bukan gurunda tercinta Ust. H. Eman Badru Tamam, Lc dan ayahanda tercinta dr. H. Tunjung Sulaksono Soeharso, Sp.OT, FICS.

Bagi kami pribadi, Ustadz Badru adalah menara keilmuan yang tak pernah goyah memberi keteladanan. Ustadz muda asli Cirebon itu pertama memberi sentuhan ilmunya saat menjadi kepala Madrasah Mutawasithoh di Ponpes Al-Mukmin Ngruki tahun 1999. Saat itu beliau belum lama lulus dari Universitas Islam Madinah.

Di mata kami yang baru usai sekolah dasar, penampilan berwibawa dan enerjik ustadz alumni KMI Al-Mukmin itu dengan cepat membuat kami jatuh hati dan mengidolakannya. Suaranya yang merdu dan lagunya yang khas seperti imam Majidil Haram membuat kami berbinar-binar dan berebut shaf terdepan tiap yang muncul menjadi imam sholat jama’ah adalah beliau. Entah kenapa, jika beliau yang memimpin sholat terasa lebih khusyu’ dan syahdu.

Pun demikian ketika mengajar di kelas. Saat itu beliau mengajar materi fiqih, dengan kitab pegangan Minhajul Muslim karya Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza`airy. Cara mengajarnya yang sistematis, dengan penjelasan yang gamblang, ditambah gaya beliau yang motivasional, membuat materi fiqih yang biasanya rumit dan membosankan menjadi mudah dan menarik. Jadwal mengajarnya pun menjadi moment yang ditunggu-tunggu setiap minggu.

Dua tahun di Mutawasithoh bersama Ustadz Badru membuat semangat menuntut ilmu kami menggelora dan cita-cita untuk kuliah di Madinah makin membara. Cerita-cerita tentang Al-Jaami’ah Al-Islamiyah yang sering beliau sampaikan, memotivasi kami untuk terus berdoa dan menyiapkan diri meniti jalan menuju kota Nabi. Hingga akhirnya di tahun ketiga kami harus berpisah dengan ustadz yang selalu tampil rapi itu karena perubahan sistem unit sekolah. Beliau tidak lagi mengajar di Mutawasithoh.

Namun demikian, karena ikatan hati yang sudah terjalin dengan kuatnya, saat itu dengan beberapa teman kami berinisiatif meminta beliau mengisi kajian kitab khusus buat kami. Beliau pun dengan senang hati bersedia. Meski yang hadir tidak banyak, dengan sabar dan telaten beliau membedah kitab fadhaail ‘ilmi di rumah dinas beliau yang hanya beberapa meter saja dari komplek asrama.

Bahkan saking ngefansnya sama beliau, bersama seorang teman bernama Saiful Shiddiq, kami rela kabur dari pondok tiap Jum’at pagi untuk menghadiri kajian kitab I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang beliau sampaikan di masjid Istiqomah, Penumping. Hingga kemudian kami melanjutkan studi ke Isykarima dan bersua kembali dengan Ustadz yang mempunyai kunyah “Abu Harits” itu.

Di Isykarima, sebagai mudir beliau diakui berperan sangat vital dalam membesarkan lembaga. Bukan sekedar sebagai konseptor utama atas manahij dirosiyah dan ansyithoh thullabiyah yang ada, namun figur kharismatik beliau benar-benar menjadi menara keilmuan dan keteladanan bagi kami para santri. Ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran terpadu apik dengan sikap arif dan bijak dalam menanggapi masalah di lapangan.

Di kelas, beliau pernah mengajar kami materi Ushul Fiqih dan Dirosatul Firoq. Materi-materi pelajaran super njlimet itu menjadi ringan jika beliau yang menyampaikan. Apalagi Ustadz Badru terkenal mudah dalam ujian dan murah dalam memberi nilai. Tak terasa sudah dua belas tahun berlalu, beberapa kaidah Ushul dan definisi Firoq yang beliau ajarkan masih melekat di kepala.

Beliau juga sering berbagi tips dalam menuntut ilmu. Di antaranya yang masih kami terapkan sampai sekarang adalah soal membaca buku. Beliau selalu memotivasi kami untuk banyak membeli buku. Kalau belum sempat membacanya, minimal baca muqoddimah dan daftar isinya. Suatu saat kalau kita butuh, kita tahu kemana harus merujuk.




Setelah kami melanjutkan studi ke Madinah, hubungan baik guru-murid antara kami masih terjalin. Dua kali beliau berangkat umroh pun kita ketemuan. Dengan penuh ketawadhu’an beliau mau kami bonceng naik Dio (motor matic 50 cc) keliling Madinah untuk berburu ponsel bekas. Kadang saat libur musim panas, kami sowan ke kontrakan beliau di Ngruki, yang beliau sambut dengan welcome penuh kehangatan.

Beliau lah yang memberi taushiyah dalam acara akad pernikahan kami. Resep keluarga sakinah yang beliau sampaikan hingga kini masih rapi tersimpan dan sering kami putar kembali. Masih terngiang-ngiang doa indah beliau untuk kami, “Semoga keluarga ini menjadi keluarga ilmu, seperti keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fathimah, yang dibimbing langsung Rasulullah ‘alaihis sholaatu wassalaam”.

Saat itu Ustadz Badru sudah terkena penyakit gula. Kemana-mana harus bawa suntik insulin sebagai pereda. Bahkan beberapa tahun berikutnya implikasi dari penyakit gula itu mulai merembet ke mata. Penglihatan beliau menjadi samar dengan radius kurang dari semeter, bahkan kadang gelap total. Namun demikian, semangat beliau untuk berdakwah menyebarkan ilmu tak pernah padam. Beliau masih aktif mengisi beberapa kajian, salah satunya kajian kitab Riayadhus Solihin, dengan cara matannya dibacakan orang lain lalu beliau yang memberi syarh.

Hingga waktu libur shoifiyah bulan Ramadhan lalu, saat kami bersama teman-teman IKARIMA Madinah datang menjenguk, beliau terlihat tambah lemah. Efek dari penyakit gula itu mulai menjalar ke ginjal. Namun demikian, beliau masih semangat memberi kami wejangan. Dengan asyik kami ngobrol tentang bahaya Syi’ah, fenomena neo Khawarij, dan problematika umat yang lain. Bahkan beliau menyampaikan rasa sedih dan kesepiannya karena tidak bisa lagi keluar rumah untuk berda’wah. Beliau berharap ada sebagian asatidz atau santri yang mau datang ke rumah beliau, sekedar untuk membaca bersama sebuah kitab.

Dua hari setelah lebaran, kami bersama Ustadz Muin berkesempatan kembali datang menjenguk. Mau menangis rasanya melihat kondisi Ustadz yang terkenal tegas itu. Muka beliau sangat pucat bahkan cenderung gelap karena efek gangguan ginjal yang beliau rasakan. Beliau tidak bisa minum banyak karena untuk buang air sangat susah. Bahkan yang membuat kami tidak mampu membendung air mata, beliau menyatakan khawatir tidak mampu melewati ujian sakit ini. Lalu Ustadz Mu’in pun membacakan beberapa ayat ruqyah dan ayat-ayat motivasi untuk beliau.

Hingga pada Haji kemarin, saat kami baru pulang dari Mina, di pagi hari tiba-tiba Ummu Kannaz (istri Mas Irfan Tunjung)  yang waktu itu serombongan dengan kami menyapa, “Ustadz, sudah tahu kabar belum? Ustadz Badru meninggal”. Deg! Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un. Kami terdiam tidak bisa berkata-kata. Seperti tak percaya bahwa menara keilmuan itu telah tiada.

Saat melaksanakan thowaf ifadhoh, bukan bimbingan doa Ustadz Mu’in yang kami tirukan, namun doa mohon keampunan untuk beliau yang bisa keluar dari lisan. Sepanjang perjalanan di bus, kami dan Ustadz Mu’in pun bersenandung sendu, “Hal turaanaa naltaqi am annahaa, kaanatil luqyaa ‘alaa ardhis saroobi…”.

Rabu, 11 November 2015

EFEK MAKSIAT PRIBADI PADA KEHIDUPAN BERJAMA'AH




Siang itu, tepat sepekan setelah perayaan ‘Idul Fitri tahun ketiga Hijriah, sebuah peristiwa paling naas sepanjang sejarah Muslimin di Madinah terjadi. Sorak kemenangan yang menggema di kaki Uhud pada awal peperangan tiba-tiba berubah menjadi pusaran duka. Kemilau ghanimah di pelupuk mata mendadak menjelma menjadi genangan lara. Mayoritas kafir Quraisy yang lari tunggang-langgang ternyata masih menyisakan pasukan berkuda pimpinan Khalid bin Walid yang melakukan manuver dan menyerang balik.

Menyedihkan! Tujuh puluh Sahabat Rasulullah SAW gugur seketika. Salah satunya adalah Mush’ab bin ‘Umair, sang duta agama. Termasuk Hamzah bin ‘Abdul Muthallib, sang paman tercinta yang dibelah dadanya dan dimamah hatinya, sebagai balas dendam atas kematian keluarga mereka pada perang Uhud setahun sebelumnya.

Rasulullah SAW pun menjadi target utama para durjana Quraisy. Utbah bin Abi Waqqash melukai bibir beliau dengan lemparan batu. Abdullah bin Shihab Az-Zuhry menciderai pipi beliau hingga berdarah-darah. Abdullah bin Qim’ah menyabetkan pedangnya pada pundak beliau yang terlapisi baju besi, hingga menyisakan rasa sakit lebih dari sebulan. Lalu tanpa ampun Abdullah bin Qimah kembali menyabetkan pedang ke arah muka beliau hingga gigi beliau pecah. 

Sebanyak tujuh orang gugur dari sembilan orang Sahabat yang melindungi Rasulullah SAW. Adapun dua orang yang tersisa adalah Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallah ‘anhum. Dua sahabat mulia itulah yang bertahan melindungi Rasulullah SAW sampai putus beberapa jari-jemari mereka.

Tragedi memilukan itu terjadi saat sekelompok Rumaat (pasukan pemanah) dari Muslimin yang berada di atas bukit tidak mengindahkah perintah Rasul SAW, untuk tetap berjaga di atas bukit apa pun yang terjadi hingga peperangan usai. Mereka tergoda turun ke bawah saat melihat pasukan Muslimin yang lain mulai memunguti harta rampasan yang ditinggalkan pasukan Quraisy. Melihat kejadian itu, Khalid bin Walid yang belum masuk Islam segera mengkomando pasukan berkudanya utuk menyerang balik dari belakang bukit.

Allah ta’ala menyinggung kejadian itu dalam surat Al-Baqarah ayat 152 yang artinya, “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan bermaksiat (mendurhakai perintah Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat”.

Ada yang perlu kita catat dari ayat dan kejadian tersebut: pertama, Allah ta’ala menggunakan kata wa’ashoitum (bermaksiat) atas kedurhakaan pasukan pemanah kepada Rasulullah SAW. Kedua, jumlah pasukan pemanah yang “bermaksiat” hanya empat puluh (40) orang saja. Itu berarti jumlah mereka hanya 5,7 % dari keseluruhan pasukan Muslimin yang totalnya 700 orang.

Fakta ini memberi kita pesan yang dalam, betapa kemaksiatan yang dilakukan sebagian kecil individu ternyata mempunyai implikasi pada kehidupan berjama’ah yang melingkupinya. Dosa dan kesalahan yang diperbuat afraad sebuah kumunitas dakwah, ternyata berpengaruh nyata pada eksistensi komunitas tersebut. Bahkan jika maksiat yang dilakukan adalah kemaksiatan pribadi yang tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan jama’ah.

Hal ini akan lebih gamblang dengan menyelami kembali sejarah Perang Hunain. Perang yang terjadi pada 10 Syawal 8 Hijriah itu, pasukan Muslimin berjumlah 12.000 orang, 10.000 dari Madinah dan sisanya dari Makkah. Jumlah yang sangat banyak jika dibandingkan dengan perang-perang sebelumnya, ditambah dengan persiapan logistik dan amunisi yang kuat. Hingga saat melihat iring-iringan konvoi belasan ribu pasukan Muslimin itu, dengan penuh kekaguman dan kebanggaan salah seorang Sahabat berujar, “lan nughlabal yaum!”.

Apa akibat dari dosa ‘Ujub dan Maghrur yang dilakukan seorang Sahabat tersebut dengan mengatakan “kita tidak akan kalah hari ini”? Allah ta’ala menyebutkan dalam surat At-Taubah ayat 25 yang artinya, “Dan ingatlah pada Perang Hunain, saat banyaknya jumlah kalian membuat kalian kagum, maka itu tidak memberi kalian manfaat sedikit pun, dan bumi yang begitu luas menjadi sempit, lalu kalian lari ke belakang”.

Perasaan bangga dan kagum pada pada diri sendiri itu dijawab kontan oleh Allah dengan kekacauan di awal perang. Padahal dalam catatan Shirah Nabawiyah kata-kata penuh ‘Ujub itu keluar dari lisan satu orang Sahabat saja. Bahkan menurut salah satu riwayat, Sahabat tersebut termasuk orang-orang yang baru masuk Islam pada Fathu Makkah, yang bisa dikatakan ia adalah seorang “pemula” dalam barisan dakwah.

Dua fragmen peperangan di atas hendaknya membuat setiap aktifis atau siapa pun yang beramal bersama barisan dakwah untuk lebih hati-hati menjaga dirinya sendiri dari dosa atau maksiat. Ia harus menyadari bahwa efek maksiat lisan, maksiat mata, juga maksiat hati yang ia lakukan bukan hanya akan menimpa dirinya secara pribadi, tapi juga akan berpengaruh buruk terhadap barisan dakwah yang ia bersamai.

Bukan sekedar dosa atau maksiat saja, bahkan bisa jadi kelalaiannya dalam beribadah juga akan berpengaruh pada eksistensi barisan dakwah. Semisal kemalasannya dalam qiyamullail dan tilawah, atau tidak displinnya dalam dzikir pagi-petang dan sholat berjama’ah, sedikit-banyak akan melunturkan’izzah mereka di hadapan ummat dan musuh-musuh dakwah.

Karena sebuah jama’ah dakwah di era ini ibarat kumpulan banyak lampu yang terang benderang menyinari kegelapan. Saat satu atau dua lampu darinya redup, maka akan berkurang kekuatan cahaya yang dipancarkan. Apalagi jika semua redup secara bersamaan, meski itu terjadi sendiri-sendiri tanpa kesepakatan. Wallahu muwaffiq ilaa aqwamit thariq.

::: Artikel ini ditulis untuk situs dakwah www.manhajuna.com