Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2016

Pengemban Panji yang Paling Mengilmui Al-Qur'an



Haamilul Qur’aan haamilu raayatil Islam. Para penghafal Al-Qur’an, mereka adalah pengemban panji Islam. Kata-kata emas ini sungguh telah diwujudkan oleh sahabat agung, ‘Ali bin Abi Thalib, baik secara harfi maupun ma’nawi. Satu dari sahabat Nabi yang paling hafal Al-Qur’an ini, tercatat selalu terdepan dalam medan peperangan. Bahkan ‘Ali lah yang terpilih memegang panji kepemimpinan.

Seperti saat perang Khaibar. Diriwayatkan bahwa malam hari menjelang peperangan, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Sungguh besok aku akan berikan panji ini kepada seseorang, yang melalui tangannya Alloh akan memberi kemenangan. Ia mencintai Alloh serta Rasul-Nya, dan Alloh serta Rasul-Nya pun mencintainya” (HR. Imam Bukhori).

Mendengar sabda Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam tersebut, berdebar lah dada para sahabat. Semua berharap bahwa lelaki beruntung yang dijanjikan sang Rasul itu adalah mereka. Tapi ternyata keesokan harinya yang dipanggil untuk diberi panji adalah ‘Ali bin Abi Thalib yang saat itu sedang sakit mata. Dan benar saja, kemudian hari pasukan pimpinannya berhasil mendobrak benteng Yahudi Khaibar dan meraih kemenangan.

Sebelumnya, kehebatannya di medan laga juga sudah dibuktikan ‘Ali bin Abi Thalib dalam perang Badar. Pada permulaan peperangan, ‘Ali lah yang maju kedepan untuk melakukan mubarazah sebelum perang dimulai. Dengan pedangnya Dzulfikar yang bermata dua, ‘Ali berhasil memenangkan perang tanding itu. Sampai akhir peperangan, ‘Ali mampu menumbangkan sepertiga dari total korban musuh yang berjumlah 70 orang.

‘Ali bin Abi Thalib juga terkenal memiliki keahlian yang unik sepanjang sejarah, yaitu menyelam dalam pasir, untuk kemudian menyergap musuh secara tiba-tiba. Saat perang Ahzaab, ia berhasil membunuh Amru bin Wud Al-‘Amiri, seorang jagoan Mekkah yang terkenal dengan kebengisan dan keganasanya. Hingga pasukannya pun lari ketakutan.

Dalam perang Hunain, ‘Ali juga terdepan dalam barisan. Bahkan di saat hampir 12.000 pasukan Muslimin mendapatkan serangan mendadak, hingga mereka lari tunggang langgang meninggalkan Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersama segelintir sahabat, ‘Ali bin Abi Thalib lah yang sigap menguasai keadaan dan mengumpulkan kembali pasukan yang berserakan. Dari situlah kekalahan di awal peperangan berbalik menjadi kemenangan.

Bahkan semenjak belia, sepupu Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam itu, pernah bertaruh nyawa dengan menggantikan Rasulullah di tempat tidur beliau, untuk mengelabuhi para jagoan Makkah yang telah merencanakan pembunuhan. Seandainya para utusan kabilah-kabilah Quraisy itu langsung menikam sosok berselimut hijau yang sedang berbaring itu, maka tamat lah hidup ‘Ali yang masih berusia muda.

Pemuda perkasa yang menikahi Fathimah binti Rasulillah itu, bernama lengkap ‘Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthallib Al-Hasyimi Al-Qurasyi karramallahu wajhah. Ia termasuk dalam sahabat yang pertama kali masuk Islam (assabiqunal awwalun) dan termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga (almubassyarin bil jannah). Surat Al-Baqarah ayat 207, ”Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”, ayat itu turun berkenaan dengan dirinya.

Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam pernah mendoakan ‘Ali secara khusus, “Ya Allah, tetapkanlah lisannya dan berilah petunjuk pada hatinya” (HR. Imam Ahmad). Tak ayal ia pun menjadi salah satu dari delapan sahabat yang berhasil menyetorkan hafalan Qur’annya langsung kepada Rasulullah dan bermuara kepadanya sanad al-qiro’ah al-‘asyrah, sebagaimana dinukil dari Imam Dzahabi dalam Ma’rifatu Kibaril Qurra'.

Bukan sekedar hafalan Al-Qur’an yang kuat, ‘Ali juga terkenal di kalangan sahabat sebagai orang yang paling mengilmui Al-Qur’an. Ia paling paham makna dan maksud yang terkandung pada setiap ayat. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Apa yang aku ambil dari tafsir Al-Qur’an, maka itu dari ‘Ali”. Jika seperti itu perkataan Ibnu Abbas yang dijuluki sebagai turjumanul Qur’an, maka bagaimana dengan ‘Ali bin Abi Thalib yang menjadi sumber utama tafsirnya?

Sahabat yang mempunyai sifat zuhud itu, juga terkenal sebagai orang yang paling mengerti tentang asbaabun nuzul (sebab diturunkannya Al-Qur’an). Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah menukil perkataan ‘Ali bin Abi Thalib, “Demi Allah, tidak lah ayat Al-Qur’an turun, kecuali aku telah mengetahui dimana dan tentang apa ia diturunkan. Dan sungguh Rabbku telah mengkaruniakan kepadaku hati yang peka dan lisan yang selalu bertanya (tentang ilmu)”.

‘Ali bin Abi Thalib juga sangat menekankan pentingnya tadabbur Al-Qur’an. Hal itu tersurat jelas dalam kata-kata emasnya, “Sungguh seorang faqih sejati adalah yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah, dan tidak membuat mereka merasa aman dari adzab-Nya, serta tidak memberi keringanan untuk berbuat maksiat, juga tidak meninggalkan Al-Qur’an karena mengutamakan yang lain. Tidak ada kebaikan pada ibadah yang tidak disertai ilmu, dan tidak ada kebaikan pada ilmu yang tidak disertai dengan pemahaman, juga tidak ada kebaikan pada bacaan Al-Qur’an yang tidak disertai tadabbur”.

Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam At-Tibyan, Khalifah Rasyidah keempat itu juga mengingatkan akan pentingnya pengamalan dari apa yang dibaca. ‘Ali bin Abi Thalib memberi nasehat khusus kepada para huffadh, “Wahai para pengemban Al-Qur’an, amalkanlah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ulama sejati adalah yang mengamalkan ilmunya dan amalannya sesuai dengan ilmu yang dimilikinya”.

Lalu ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Akan ada sekelompok manusia, mereka mempunyai ilmu tapi ilmu mereka tidak pernah melewati kerongkongan mereka. Amalan mereka tidak sesuai dengan ilmu mereka. Kondisi mereka di waktu sendiri berbeda dengan saat dilihat orang banyak. Mereka duduk dalam halaqah dan saling membanggakan diri. Sampai terjadi seorang dari mereka marah dan membenci temannya, karena ia duduk bersama yang lain dan meninggalkannya”. Radhiyallahu ta’ala ‘anhu wa ‘anis shohabati ajma’in.


:: Artikel ini ditulis untuk rubrik Jejak Salaf di www.ibnu-abbas.com

Minggu, 28 Februari 2016

Ikhlaskan Hati Untuk Berbagi Suami


Di sebalik tabir keberhasilan seorang pejuang, selalu ada sosok perempuan hebat di belakangnya. Bersama langkah para qaadah dan ‘udhoma dalam sejarah umat ini, selalu ada dukungan istri yang setia mendampingi. Para kaum berhati lembut itu, bukan sekedar berstatus istri, tapi berhasil menggandakan perannya sebagai peneguh keyakinan, penajam pikiran, telaga keteduhan, selimut ketenangan, dan penghibur dalam kesedihan.

Ada kesetiaan Hawa, bersama tugas berat Adam sebagai khalifah. Ada qona’ah Hajar, di samping kuatnya tauhid Ibrahim. Ada dukungan moral dan material dari Khadijah, saat Muhammad berhadapan dengan para thoghut Mekkah. Ada nasehat emas Moudhy, di balik gerakan tajdid Muhammad bin Saud. Ada kesabaran Lathifah, di belakang langkah juang Al-Banna. Ada kelembutan Masrurah, yang memperindah wibawa Hasyim Asy’ari. Ada peran serta Siti Walidah, bersama kecemerlangan Ahmad Dahlan.

Namun demikian, tak sedikit para pejuang yang surut langkahnya setelah bertengger di pelaminan. Apalagi para pejuang akhir zaman. Alih-alih kiprah dan prestasi dakwahnya bertambah, pernikahan yang diharapkannya bakal menghasilkan lompatan-lompatan hebat, justru membuat semangat juangnya sekarat. Tentu banyak sebab atas degradasi militansi yang terjadi, tapi acapkali salah satu sebab itu berasal dari sang istri.

Ada yang semenjak menikah, menjadi jarang kelihatan di agenda-agenda dakwah. Padahal ia dulu terkenal sebagai aktifis yang militan dan produktif. Bagaimana mau aktif berdakwah, jika hendak keluar rumah untuk rapat atau mengisi kajian, sang istri selalu pasang wajah cemberut. Apalagi jika pamit mau mukhoyyam, sang istri langsung bermuram durja dan meneteskan air mata. Lalu bagaimana jika panggilan jihad tiba?

Ada pula yang terkendala perbedaan fikrah. Sang akhwat yang dinikahinya, ternyata tak sepakat dengan visi dan misi dakwahnya. Perdebatan hebat sering terjadi, yang tak jarang berakhir pada pertengkaran sengit. Demi menyelamatkan bahtera rumah tangga, terpaksa ia undur diri dari komunitas dakwahnya. Sayangnya, di komunitas yang baru ia merasa tak nyaman. Sampai saat ini ia masih vakum dan kebingungan, laa ilaa haa-ulaa’ walaa ilaa haa-ulaa’.

Ada juga yang terganjal semangatnya untuk tholabul ‘ilmi. Sebenarnya kebutuhan umat terhadap kafa’ah syar’i telah membuatnya bertekad untuk kuliah hingga doktor di luar negeri. Namun tekad itu melemah setelah ia menikah. Rengekan dan keluhan sang istri yang tak tahan hidup di perantauan, membuatnya urung mewujudkan impian. Ia pun pulang ke tanah air dengan tangan hampa dan pupus harapan.

Pun ada yang terbelit masalah ekonomi. Pendapatannya sebagai guru di pesantren dan penceramah di berbagai mejelis ta’lim, terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu diperparah dengan gaya hidup sang istri yang cenderung boros dan tinggi selera. Terpaksa ia harus banting setir keluar dari pesantren dan menyibukkan diri dengan dagangannya. Hingga tak ada lagi bagi dakwah waktu yang tersisa.

Cuplikan fenomena di atas semestinya tidak perlu terjadi jika para istri memahami dan menyadari peran besar mereka sebagai tulang punggung perjuangan. Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menjanjikan kepada perempuan yang mendukung suaminya untuk berjihad, berdakwah, menuntut ilmu, dan bersabar atas itu semua, dengan pahala yang sama dengan pahala yang didapatkan oleh suaminya.

Sebagaimana hadits tentang Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah radhiallahu ‘anha, bahwa dia mendatangi Rasulullah, sementara beliau sedang duduk di antara para sahabatnya. Asma’ pun berkata, “Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu wahai Rasulullah. Aku adalah utusan para wanita di belakangku kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada Rabbmu. Kami para perempuan selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat dan mengandung anak-anak kalian”.
Asma’ pun melanjutkan, “Sementara kalian kaum laki-laki mengungguli kami dengan shalat Jum’at, shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji dan yang lebih utama dari itu adalah jihad fi sabilillah. Jika lah seorang dari kalian pergi haji atau umrah atau jihad, maka kamilah yang menjaga harta kalian, yang menenun pakaian kalian, yang mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan itu sama seperti kalian?”.
Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam pun memandang para sahabat dengan segenap wajahnya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang perempuan yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya dari pada perempuan ini?” mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia”.
Maka Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menengok kepadanya dan bersabda, “Pahamilah wahai perempuan, dan beritahu para wanita di belakangmu, bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhanya dan kepatuhannya terhadap keinginannya menyamai semua itu.” Wanita itu pun berlalu dengan wajah berseri-seri. (HR. Imam Baihaqi).
Harus disadari dan diyakini, saat para pejuang itu banting tulang untuk membela dan menolong agama Allah ta’ala, hingga tak ada waktu dan tenaga yang tersisa buat keluarga, apakah Allah akan membiarkan keluarga yang dicintainya terlantar? Allah ta’ala telah menjanjikan, “Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (QS. Muhammad: 7).

Seperti juga yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu” (HR. Imam Tirmidzi). Tinta sejarah telah mencatat, bahwa penjagaan Allah terhadap siapa yang mau menjaga agama dan hukum-hukum-Nya disini tidak hanya bagi diri yang bersangkutan, tetapi dengan izin Allah penjagaan itu juga mencakup anak dan istri yang menjadi tanggungannya.

Tentu wujud pertolongan dan penjagaan Allah di atas bukan melulu berupa materi. Semua itu bisa terwujud dalam keberkahan hidup, anak-anak yang sholeh dan sholehah, kemudahan urusan, dijauhkan dari musibah, dan terpautnya hati manusia kepadanya. Itu semua adalah berkah perjuangan yang datang dari arah yang tak disangka.

Memang, para suami juga harus diingatkan untuk tidak lalai menunaikan kewajibannya terhadap keluarga. Namun kadang terjadi, meski sudah diatur dan diupayakan sedemikian rupa, realita perjuangan menuntut pengorbanan lebih hingga tak ada waktu tersisa. Lagi pula hangatnya hubungan tak selalu harus bersama. Bahkan perpisahan sementara akan membuncahkan rindu di dada dan cinta pun semakin membara. Sometimes we need to disconnect to make a fresh connection.

Hari ini, agenda besar nahdhotul ummah (kebangkitan umat) membutuhkan lebih banyak pengorbanan dan relawan sebagai martirnya. Ini akan meminta apa pun yang kita miliki, termasuk orang-orang terdekat yang kita cintai. Maka dari itu, tidak ada jalan lain bagi para istri, kecuali ikhlas dan ikhtisab untuk berbagi suami. Ya, berbagi suami dengan dakwah demi tegaknya panji Ilahi.

Semoga kebersamaan yang tertahan di dunia ini, berbuah kebersamaan abadi di surga nanti. “Dan orang-orang yang bersabar karena mengharap ridha-Nya, mendirikan shalat, dan berinfaq dari rizki yang Kami berikan kepada mereka, sembunyi atau terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan; mereka itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik. Yaitu syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang yang saleh dari bapak-bapak, isteri-isteri dan anak cucu mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 22-23).

:: Artikel ini ditulis untuk situs dakwah www.manhajuna.com

Jumat, 29 Januari 2016

Bersama Al-Qur'an Hingga Tetes Darah Penghabisan

Lelaki hebat itu bernama lengkap ‘Utsman bin ‘Affan bin Abil ‘Aash Al-Umawi Al-Qurashi. Ia dijuluki Dzun Nurain (pemilik dua cahaya), karena Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam menikahkannya dengan kedua putrinya. Yang pertama dengan Ruqayyah radhiyallahu ‘anha. Setelah Ruqayyah wafat, ia dinikahkan lagi dengan Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha.

Sahabat yang termasuk dalam assabiqun al-awwalun itu, adalah saudagar kain yang kaya dan dermawan. Sebagai contoh, ia pernah membeli sumur yang harganya setara dengan emas 2,5 kg, lalu diwakafkan untuk umat Islam Madinah. Pada perang Tabuk, ia mendermakan 1000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham. Saat musim paceklik di zaman Khalifah Abu Bakar, ia mendonasikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta.
Meski demikian, ‘Utsman terkenal sebagai sahabat yang low profile, rendah diri, bahkan pemalu. Saking pemalunya, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam sendiri juga malu dan segan dengannya. ‘Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ketika Abu Bakar masuk, engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Lalu ‘Umar masuk, engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika ‘Utsman masuk engkau langsung duduk dan membetulkan pakaian, mengapa?" Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?” (HR. Imam Muslim).
Ia pun termasuk salah satu dari al-mubassyarin bil jannah, para sahabat yang dijamin masuk surga. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bazzar, bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Wahai ‘Utsman, sesungguhnya setiap Nabi memiliki teman, dan engkau adalah temanku di surga”. Juga yang diceritakan oleh Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa suatu hari ‘Utsman mengetuk pintu Rasulullah, maka beliau bersabda, “Bukakan untuknya, dan berilah ia kabar gembira dengan surga atas cobaan yang menimpanya” (HR. Imam Bukhori).
Selain dari itu semua, ‘Utsman adalah teladan utama dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sepenuh hidupnya seperti sudah diwakafkan untuk Al-Qur’an. Saat Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam masih hidup, ia termasuk jajaran huffadzh dan penulis wahyu. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, dahulu Rasulullah suka bersandaran di rumahnya, sedangkan ‘Utsman duduk di depan beliau. Lalu datang Jibril ‘alaihis salam membawa wahyu, hingga Rasulullah bersabda, “Tulislah wahai ‘Utsman”.
Hidup ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu tak pernah lepas dari Al-Qur’an. Itu tercermin dari kata-kata terkenalnya, “Sungguh aku sangat benci jika datang suatu hari dan aku tidak melihat mushaf sama sekali”. Ia juga pernah berkata, “Dijadikan kecintaanku ada pada tiga hal: memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian orang yang membutuhkan, dan membaca Al-Qur’an”.
Di antara kata-kata emasnya yang lain adalah, “Ada empat hal yang dhohirnya adalah keutamaan namun di dalamnya ada kewajiban: bergaul dengan orang sholeh adalah keutamaan, namun meneladani mereka adalah kewajiban. Membaca Al-Qur’an adalah keutamaan, namun mengamalkannya adalah kewajiban. Ziarah kubur adalah keutamaan, namun bersiap untuk mati adalah kewajiban. Menengok orang sakit adalah keutamaan, namun mengambil hikmah darinya adalah kewajiban”.
Imam Nawawi menyebutkan dalam At-Tibyan, bahwa ‘Utsman termasuk sahabat yang biasa khatam Al-Qur’an dalam sehari semalam. Bahkan ‘Utsman pernah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu roka’at sholat. Hasan Al-Bashri juga meriwayatkan, saking rajinnya membaca Al-Qur’an, saat ‘Utsman meninggal dunia, mushaf kesayangannya sangat lusuh dan hampir berhamburan.
‘Utsman mengingatkan kita, bahwa tilawah Al-Qur’an bisa menjadi tolok ukur kebersihan hati dan jiwa. Semakin bersih hati seseorang, semakin betah ia berlama-lama membaca Al-Qur’an. Sebaliknya, jika ia tak pernah tahan lama saat membacanya, dipertanyakan kesucian hatinya. ‘Utsman pernah mengatakan, “Andai hati kita suci, maka kita tak akan pernah kenyang membaca firman Rabb kita”.
Sahabat yang masuk Islam lantaran dakwah Abu Bakar As-Shiddiq itu, juga menekankan akan pentingnya pemahaman dan pengamalan dari apa yang dibaca. Abu Abdirrahman As-Sullami mengisahkan, “Dahulu ‘Utsman tidak pernah melewati sepuluh ayat dari Al-Qur’an, kecuali ia telah menghafalnya, memahaminya dan mengamalkannya. Maka ia belajar ilmu dan amal bersamaan”.
Tidak berhenti sampai disitu, ‘Utsman juga sangat giat mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain. Tercatat beberapa qurra’ terkenal adalah hasil didikan ‘Utsman, seperti Mughirah bin Abi Syihab, Abul Aswad, Abu Abdirrahman As-Sullami, dan Zirr bin Hubaisy. Ia lah perawi utama hadits yang sangat terkenal di kalangan Ahlul Qur’an: “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Imam Bukhori).
Kemudian ketika ‘Utsman mendapatkan amanah menjadi Khalifah yang ketiga menggantikan ‘Umar bin Khattab, tugas-tugas kenegaraan sama sekali tidak menjauhkannya dari Al-Qur’an. Justru ‘Utsman menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk lebih maksimal berkhidmat untuk Al-Qur’an. Tercatat dalam sejarah, di masa Khalifah ‘Utsman lah proyek besar pembukuan Al-Qur’an tuntas dilaksanakan.
Saat itu wilayah kaum Muslimin semakin luas, hingga sampai ke Syiria, Khurasan, Persia dan Afrika Utara. Jumlah orang-orang yang masuk Islam pun semakin banyak. Sedangkan perselisihan tentang bacaan Al-Qur’an sudah mulai bermunculan. Bahkan di pusat kekhilafahan sendiri, banyak yang saling mengkafirkan karena kesalahan dan perbedaan bacaan.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Qilabah, ‘Utsman pun berdiri dan bekhutbah kepada mereka, “Kalian saja yang disini banyak salah bacaan dan saling berselisih, tentu mereka yang berada di negeri-negeri yang jauh dari kita lebih dahsyat salah dan perselisihannya. Berkumpullah wahai para Sahabat Muhammad, dan bukukan untuk manusia sebuah mushaf sebagai rujukan!”.
Kemudian ‘Utsman mengutus seseorang untuk mengambil lembaran-lembaran Al-Qur’an yang berada di rumah Hafshah, istri Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Lalu ia perintahkan kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits, untuk menyusun dan menyalin mushaf, serta mengirimkannya ke berbagai wilayah Islam sebagai patokan.
Kedekatan ‘Utsman dengan Al-Qur’an terus belanjut hingga usianya yang senja. Saat Ahlul Fitnah mengepung rumahnya selama 40 hari, usia ‘Utsman sudah 88 tahun. Sebagai upaya perlindungan, rumahnya dijaga ketat oleh Zubair bin ‘Awwam, Muhammad bin Thalhah, dan Ali bin Abi Thalib beserta kedua putranya. Walau sebenarnya pengepungan itu tidak berpengaruh apa-apa bagi ‘Utsman, selain ia tambah dekat dengan Al-Qur’an.
‘Utsman terus membaca Al-Qur’an sampai waktu sahur. Lalu ia berpuasa dan tertidur. Setelah terbangun ia berkata kepada istrinya, “Aku akan terbunuh malam ini”. Sang istri pun menyanggah, “Tidak wahai Amirul Mukminin, mereka tidak akan melakukannya!”. ‘Utsman pun berkata, “Aku tadi mimpi bertemu Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar. Mereka berkata: engkau akan berbuka bersama kami malam ini”.

Lalu ia kembali mengambil Al-Qur’an dan membacanya. Hingga para ahlul fitnah menerobos masuk ke rumahnya sambil menghunuskan pedang. Ketika darah ‘Utsman tertumpah, bacaannya sampai pada surat Al-Baqarah ayat 137, Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka dan Dia lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. Ibnu Jarir menjelaskan, tidak satu pun orang yang terlibat dalam pembunuhan itu, kecuali kemudian hari juga mati terbunuh. Radhiyallahu ‘anhu wa ‘anis shohabati ajma’ain.

:: Artikel ini ditulis untuk kolom Jejak Salaf Bersama Al-Qur'an di www.ibnu-abbas.com

Selasa, 26 Januari 2016

Perintah Sujud kepada Nabi Adam dan Ujian Ketaatan


“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: sujudlah kalian kepada Adam! Maka bersujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan yang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 34)

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Qashasul Anbiya’, Nabi Adam ’alahis salam adalah utusan Alloh ta’ala yang diberi empat kemuliaan khusus, yaitu: diciptakan oleh tangan Alloh sendiri, ditiupkan kepadanya ruh ciptaan-Nya, diajarkan kepadanya al-asmaa’ (nama-nama benda), dan diperintahkan kepada para Malaikat untuk sujud kepadanya.

Dalam terminologi ‘aqidah, sujud ada dua macam. Yang pertama adalah sajdah ‘ibadah, sujud dalam rangka ibadah, yang hanya boleh diperuntukkan kepada Alloh ta’ala. Yang kedua adalah sajdah tahiyyah, yaitu sujud penghormatan, yang merupakan syari’at umat terdahulu dan sudah dihapuskan. Perintah sujud kepada Nabi Adam adalah sujud penghormatan.

Ketika itu, Malaikat yang diperintahkan sujud kepada Nabi Adam ’alahis salam langsung taat dan menunaikannya. Malaikat yang diciptakan dari nuur (cahaya), sama sekali tidak ragu untuk sujud dan menghormat kepada Adam yang tercipta dari tanah. Makhluk mulia yang digambarkan tak pernah membangkang dan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan itu, mau bersujud kepada manusia yang sering khilaf dan salah.

Ini adalah teladan ketaatan yang luar biasa. Dalam ranah perjuangan dakwah, ketaatan kepada qiyadah adalah rukun yang utama. Selagi tidak bertentangan dengan hukum Alloh, at-tho’ah adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Sebagaimana sabda Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam yang diriwayatkan oleh ‘Irbadh bin Sariyah, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Alloh dan mendengar juga taat (kepada pemimpin) meskipun ia seorang budak hitam dari habsyi”. (HR. Imam Ahmad)  

Memang, selalu terbuka celah untuk bertanya, menyampaikan argumentasi, atau mengajukan persepsi lain kepada pimpinan. Namun terkadang untuk rasionalisasi perintah, butuh waktu dan teknis yang tidak mudah. Atau alasan itu tidak bisa disampaikan karena masalah etika dan keamanan. Saat seperti ini, ketaatan harus didahulukan. Sambil membangun husnudhon bahwa ada hikmah dan pertimbangan tertentu di balik semua itu. Seperti yang dicontohkan para Malaikat.

Bukan seperti Iblis, yang enggan melaksanakan perintah Alloh ta’ala untuk bersujud. Bahkan ia takabbur dan membandingkan dirinya dengan Adam. Sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu? Iblis menjawab: aku lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang ia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 34).

Padahal, argumen qiyas yang diajukan Iblis tak sepenuhnya benar. Justru tanah yang lebih baik dan lebih bermanfaat. Sebab pada tanah terkandung sifat-sifat keseimbangan, kesantunan, kelembutan dan pertumbuhan. Sedangkan api terkandung padanya sifat-sifat liar, ringan dan cepat membakar.

Meskipun sebenarnya masalah utama bukan tentang siapa yang lebih baik. Semua bisa saja diperdebatkan dan Allah Maha Tahu mana yang benar. Tapi problem utamanya adalah pembangkangan terhadap perintah. Yang diperparah dengan sikap sombong dan merasa lebih dari yang lain.

Sebagai hukuman atas kedurhakaannya, akhirnya Iblis diusir dari surga dalam keadaan terlaknat. Alloh ta’ala berfirman, "Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan". (QS. Shaad: 77-78).

Tapi sayang hukuman tersebut tidak membuatnya sadar dan bertobat. Pembangkangan dan kesombongannya malah berlanjut pada dendam dan permusuhan. Ia meminta diberi tangguh hingga hari kiamat dan selama itu ia bertekad menyesatkan Adam dan keturunannya, "Demi kekuasaanMu, aku akan menyesatkan mereka semuanya!” (QS. Shaad: 82).

Inilah contoh lapis-lapis kedurhakaan yang harus dijauhi. Padahal dulunya Iblis adalah hamba yang taat dan setia, hingga berhak tinggal di surga. Berawal dari mendebat perintah, lalu merasa lebih dan sombong, kemudian membangkang, yang berlanjut pada penyesatan dan permusuhan abadi. Hingga tidak ada lagi baginya jalan untuk kembali.

Kalau dipikir-pikir, apa susahnya bagi Iblis untuk sekedar bersujud? Bukan kah itu sangat mudah jika dibandingkan dengan konsekuensi terusir dari surga dan bakal kekal di neraka? Itulah hakikat perintah. Sering kali ia hanya sebuah ujian dan cobaan. Yang bukan hanya menguji ketaatan, namun sebagai tolok ukur seberapa kokoh ketawadhu’an, keikhlasan, dan kesejatian dalam pengabdian.


:: Artikel ini ditulis untuk perintisan buku Jejak Dakwah Para Nabi 

Kamis, 14 Januari 2016

Wahai Dakwah,Jangan Rebut Suamiku Dariku!


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (QS. At-Tahrim: 6)

Kisah nyata ini, terjadi di sebuah komunitas ilmu dan dakwah. Yang mana ada seorang istri dari mereka yang sudah menikah bertahun-tahun, namun belum bisa membaca surat Al-Fatihah. Bukan hanya tidak mengenal tajwid, Al-Fatihah yang tanpanya sholat tidak syah, ia tidak hafal dan terbata-bata membacanya.
Padahal konon sang suami adalah seorang kandidat doktor ilmu agama. Pemahaman dan komitmen dakwahnya juga tidak diragukan. Entah karena terlalu rajin menulis desertasi atau sibuk berdakwah, musibah itu benar-benar terjadi dalam keluarganya.
Realita itu baru terungkap saat di komunitas mereka diadakan halaqah tahfizh Al-Qur’an bagi para istri. Dari sinilah terpaksa pimpinan komunitas tersebut menetapkan kurikulum khusus yang wajib diajarkan kepada para istri, disertai mekanisme evaluasi atau ujian secara periodik dan berkala. Jika salah seorang istri tidak lulus, maka ada konsekuensi khusus untuk suaminya.
Itu baru satu kisah. Ada banyak cerita yang lain tentang para aktivis dan da’i, yang mungkin karena terlalu sibuk berdakwah di masyarakat, terlalu banyak amanah di organisasi, ia lupa mendakwahi dan mengajari ilmu orang terdekatnya: istrinya sendiri. Ironis memang, tapi itulah faktanya.
Seperti seorang istri yang mengeluhkan suaminya yang tidak pernah ada di rumah. Dari pagi hingga siang bekerja di luar. Baru pulang sebentar, sorenya sudah pergi lagi hingga larut malam. Alih-alih mau membantu kerjaan istri, saat ada sedikit waktu di rumah, ia memilih khusyu’ di depan laptop atau gadget. “Afwan Mih, Abi lagi banyak amanah nih!”, begitu jawabnya ketika ditanya.
Ada lagi yang sudah lama memendam sebel kepada suaminya, yang sepanjang pekan tak pernah ada waktu untuk keluarga. Senin sampai Jum’at sibuk bekerja. Sabtunya adalah jadwal rutin untuk liqo, rapat dan ngisi kajian umum. Hari Ahad yang tersisa, lebih sering terpakai untuk hadir kondangan, seminar, daurah, tabligh akbar, atau acara insidental yang lain.
Atau ada juga yang gundah tentang suaminya yang penghafal Al-Qur’an, namun sepanjang usia pernikahannya, belum pernah diajak tadarus bareng. Jangankan tahsin berdua atau saling menyimak hafalan, sang suami yang sering menjadi imam qiyamullail di berbagai acara dakwah itu, hampir tak pernah menjadi imamnya saat tahajud di rumah.
Beda lagi yang terhimpit masalah ekonomi. Saat suaminya yang belum mapan terlalu sering bepergian, tanpa meninggalkan uang pegangan. Mau berangkat khuruj katanya. Awalnya cuma sepekan. Lalu bertambah sebulan, kemudian menjadi berbulan-bulan. Hingga sang istri pun menanggung malu karena harus menjadi beban bagi kerabat dan tetangga. Tentu alasannya adalah perjuangan. Namun ceritanya akan lain, jika semua diatur dan disiapkan.
Lebih parah dari itu, cerita tentang seorang istri pendakwah ternama yang terjerumus dosa. Pesona keilmuan sang suami ternyata hanya benderang di depan para mad’u-nya, namun meredup dalam kehidupan berkeluarga. Ia tak pernah dinasehati, diajak berdiskusi, apalagi belajar mengaji. Walhasil, bukan hanya pakaian dan cara berhias yang jauh dari kriteria agama, sang istri pun terlibat perselingkuhan dengan teman lama. Wal ‘iyadzu billah.
Itulah beberapa cuplik cerita dari fenomena yang ada. Para istri aktivis itu, jika bukan karena rasa malu, mungkin mereka akan pasang status besar-besar, “Aku juga butuh ilmumu!”. Atau membentang spanduk lebar-lebar, “Aku juga butuh dakwahmu!”. Yang lebih ekstrim, mereka akan menyalahkan dakwah dan berteriak keras-keras, “Wahai dakwah, jangan rebut suamiku!”.
Sayangnya, sering para suami hanya bisa menjawab jeritan hati para istri tersebut dengan satu kata: sibuk. Padahal Rasulullah 'alaihis sholatu wassalam sebagai qudwah utama para aktivis, di tengah kesibukannya sebagai Nabi, pemimpin negara, bahkan panglima perang sekalipun, ia tetap meluangkan waktu untuk mentarbiyah dan mendakwahi istri-istrinya. Para ummahatul mukminin itu, tidak hanya kebanjiran hormat, namun juga berkelimpahan ilmu dan nasehat.   
Banyak sekali fragmen tarbiyah Rasul 'alaihis sholatu wassalam untuk mereka. Seperti Aisyah binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma, yang tidak hanya sekedar menjadi zaujah bagi Rasulullah, tetapi juga sebagai murid utama dan tersetia. Dia merasakan betul “ada bedanya” menjadi istri seorang pendakwah, karena sang suami sangat giat mengajarinya berbagai disiplin ilmu seperti akhlak, aqidah, fiqih, faraidh, dan tafsir.
Hingga Aisyah pun menjadi sosok perempuan Islam yang paling faqih, yang menjadi rujukan keilmuan para sahabat pada waktu itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Atho’ bin Abi Rabbah radhiyallahu ‘anhu, “Aisyah adalah manusia yang paling paham dengan agama, paling berilmu dan paling baik pendapatnya”.
Aisyah juga menjadi sumber utama periwayatan hadits, tercatat sebanyak 2210 hadits telah diriwayatkan oleh para sahabat dari Aisyah. Hingga Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tidaklah kami mendapatkan suatu masalah tentang hadits, lalu kami datang dan bertanya kepada Aisyah, kecuali pasti kami mendapatkan jawabannya”.
Takdirnya sebagai perempuan, tak menghalanginya berkiprah dalam kancah ilmiah. Hingga dari didikan Aisyah telah lahir para imam dan ulama terkemuka dari kalangan Tabi’in seperti: ‘Urwah bin Zubair, Masruq bin Ajda’, dan Qosim bin Muhammad, yang menimba ilmu dari Aisyah di balik hijab di Masjid Nabawi.
Saat sang istri berbuat kesalahan, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam juga tidak segan dan bosan untuk mengingatkan. Tentunya dengan kelemah-lembutan. Seperti suatu hari ketika Aisyah membeli kain penutup yang bergambar makhluk hidup. Sebagai pengingkaran, Rasulullah tidak jadi masuk dan berdiri di depan pintu.
Saat itu Rasulullah hanya terdiam dan menampakkan ekspresi tak suka. Aisyah pun merasa bersalah dan berkata, “Wahai Rasululullah, aku bertaubat kepada Alloh dan Rasul-Nya, apa salahku?”. Maka Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bertanya dengan lembut tentang kain bergambar itu. Aisyah pun menjelaskan semampunya.
Hingga Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Sesungguhnya para pembuat gambar ini akan diadzab di hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka: hidupkanlah apa yang telah kalian buat!”. Lalu Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam melanjutkan, “Sesungguhnya rumah yang terpajang di dalamnya gambar mahluk hidup, tidak akan dimasuki Malaikat” (HR. Imam Bukhari).
Lain lagi para aktivis yang pandai berkilah. Saat dikritisi tentang istrinya yang bertolak belakang dengan apa yang diperjuangkan, cepat-cepat berapologi dengan kisah Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam. Alih-alih melakukan evaluasi dan introspeksi diri, mereka seperti terhibur dengan kekufuran para istri utusan Alloh itu.
Padahal di belakang cerita pengkhianatan mereka berdua, ada sejarah panjang ratusan tahun kegigihan dan kesabaran Nabi Nuh dan Nabi Luth dalam mendakwahi keluarga. Apalagi para Ulama bersepakat, bahwa pengkhianatan dan kekufuran keduanya bukan dalam baghyu dan fahisyah.
Allah ta’ala telah mengingatkan para suami untuk serius menjaga istrinya dari siksa neraka. Bahkan sebagai penekanan, deskripsi tentang dahsyatnya neraka begitu jelas disini, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).
Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam juga telah mewanti-wanti, “Sesungguhnya Alloh akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya atau menterlantarkannya. Hingga Alloh akan bertanya kepada para lelaki tentang istrinya”. (HR. Ibnu Hibban).
Meluangkan waktu untuk mentarbiyah istri menjadi sangat penting lagi, jika para suami menyadari bahwa itu bukan sekedar kewajiban, namun kebutuhan yang sulit tergantikan. Karena para istri adalah al-madrasah al-ula (sekolah yang pertama) bagi anak-anak. Hasil didik macam apa yang akan lahir jika sekolahnya tak terawat bahkan rusak?

Cerita-cerita ironis di awal tadi mungkin hanya secuil fenomena yang menggejala. Semoga yang terjadi pada sebagian besar keluarga dakwah tidak demikian adanya. Seorang aktivis sejati tentu memahami bahwa istrinya adalah objek dakwah yang utama. Ia sadar betul bahwa tahapan dakwah kedua setelah memperbaiki diri sendiri (islahun nafs) adalah membina keluarga yang Islami (takwin bait muslim), bukan yang lainnya.
:: Artikel ini ditulis untuk situs dakwah www.manhajuna.com

Minggu, 13 Desember 2015

7 Pendapat Cemerlang Umar yang Direstui Al-Qur'an


Membaca kisah perjalanan hidup para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum terasa seperti menyelam di telaga biru yang jernih nan sejuk. Cerita penuh hikmah mereka begitu dalam menginspirasi jiwa-jiwa yang dahaga suri tauladan. Salah satu telaga biru yang perlu diselami itu adalah Umar bin Khattab. Seperti yang diriwayatkan oleh Hudzaifah, bahwa suatu hari Rasulullah ‘alahis sholatu wassalam pernah bersabda, “Ambillah teladan dari dua orang setelahku, yaitu: Abu Bakar dan Umar” (HR.Imam Ahmad).
Ia adalah Abu Hafshah ‘Umar bin Al-Khattab Al-‘Adawi Al-Qurasyi. Satu-satunya sahabat yang berani hijrah ke Madinah secara terang-terangan itu, digelari Al-Faruq oleh Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Dengan sangat lugas ia pilah kebenaran dan kebathilan. Ia selalu berdiri tegak di sisi Al-Qur’an. Tegas menerapkan hukum-hukumnya, tidak sudi untuk selangkah di belakangnya atau selangkah di depannya. Bukan saja orang-orang kafir yang ketakutan tiap berhadapan dengannya, bahkan syetan pun lari terbirit-birit jika berpapasan di jalan.
Umar lah pencetus dan pengusul utama pembukuan Al-Qur’an. Ia juga Khalifah Rasyidah kedua yang menjadikan para penghafal Al-Qur’an sebagai dewan penasehat dan majelis musyawarah kekhalifahannya. Dalam majelisnya, seringkali Umar meminta Abu Musa Al-Asy’ari untuk membacakan beberapa ayat sebagai pelipur dan pengingat.
Meski sangat menghormati para Ahlul Qur’an, Umar tidak suka jika mereka mengharap dan menggantungkan hidup dari orang lain. Sebagaimana dinukil Imam Nawawi dalam At-Tibyan, dengan tegas Umar pernah mengatakan, “Wahai para penghafal Al-Qur’an, angkatlah kepala kalian! Telah terbentang di hadapan kalian jalan menuju kemuliaan. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Janganlah kalian menjadi beban bagi manusia!”.
Namun demikian, sifat berani dan tegas yang melekat kuat padanya tak menghalanginya untuk tertunduk menangis saat membaca Al-Qur’an. Suatu hari, ketika Umar menjadi imam sholat Subuh dan membaca surat Yusuf, ia menangis tersedu-sedu. Hingga lama-lama para ma’mum di belakang tak mendengar suara yang biasanya keras itu. Tangisannya pun makin menjadi-jadi saat sampai pada ayat, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya" (QS.Yusuf: 87).
Pernah juga Umar menangis sesenggukan saat membaca surat Al-Muddattsir ayat 8-10, “Apabila ditiup sangkakala. Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit. Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah”. Setelah itu ia mengurung diri di rumah beberapa hari. Orang-orang mengira Umar sakit parah karena tak pernah keluar rumah. Di kedua matanya ada bekas hitam karena banyaknya menangis.
Mertua Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam yang masuk Islam lantaran dibacakan surat Thoha itu, juga pernah jatuh sakit selama satu bulan penuh karena mendengar seseorang yang sedang qiyamullail membaca sebuah ayat, “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi. Tidak seorangpun yang dapat menolaknya” (QS.At-Thuur: 7-8).
Pada sisi lain, Umar sangat menekankan ‘amal dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hal itu tercemin dalam kata-katanya, “Ketika dulu kami menghafal sepuluh ayat dari Al-Qur’an, kami tidak berpindah ke ayat berikutnya hingga kami mengamalkannya”. Diriwayatkan bahwa untuk menghafal surat Al-Baqarah, Umar membutuhkan waktu selama sembilan tahun. Yang demikian itu bukan karena ia sibuk, namun karena ketelitian dan kedalamannya dalam memaknai dan mengamalkan apa yang ia hafal.
Hifdzul Qur’an bil qolbi wal ‘amal; menghafal Al-Qur’an dengan hati dan amalan. Mungkin pola interaksi seperti itulah yang membuat Al-Qur’an begitu melekat pada lisan, hati dan akal pikiran Umar bin Khattab. Jiwanya tercelup dengan kuat oleh shibghah qur’aniyah, hingga yang keluar dari lisannya hampir selalu tepat dan benar. Sampai-sampai Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan Al-Haqq ada pada lisan dan hati Umar” (HR.Imam Ahmad dan Imam Thabrani).
Bahkan Imam Suyuthi dalam Taarikh Al-Khulafa mencatat lebih dari 20 (dua puluh) pendapat Umar yang direstui dan di-iyakan oleh Al-Qur’an. Yang pertama, saat Umar usul kepada Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam, “Wahai Rasululullah, andai kita jadikan sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat sholat?”. Maka turunlah surat Al-Baqarah ayat 125, “Dan ketika Kami jadikan Baitullah tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”.
Yang kedua tentang syari’at hijab. Ketika Umar merasa risih melihat para istri Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam yang kadang harus bertemu dengan berbagai jenis manusia; yang baik maupun yang buruk. Maka Umar mengusulkan agar para Ummahatul Mu’minin itu menggunakan hijab agar lebih terjaga. Lalu turunlah ayat tentang hijab atau yang menyetujui pendapat Umar itu.
Yang ketiga, waktu Hafshah dan Aisyah sedang cemburu berat karena madu yang sering dihadiahkan oleh Mariyah Qibthiyah, sampai Rasulullah harus mengharamkan atas dirinya madu. Maka Umar mengatakan kepada Hafshah putrinya, “Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi  Rabb-nya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu”. Maka turunlah surat At-Tahrim ayat 5, dengan redaksi kata yang mirip.
Yang keempat, tentang pengharaman khamr (minuman keras). Tatkala Umar berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamr dengan penjelasan yang memuaskan”. Maka turunlah ayat yang mengharamkan khamr dan penjelasan mengenai madhorot yang diakibatnya dalam surat Al-Baqarah ayat 219.
Kelima, tentang larangan mensholatkan jenazah orang munafik. Saat Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam diminta untuk mensholatkan jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafiqun di Madinah. Maka Umar bertanya kepada Rasulullah, “Apakah kita mensholatkan musuh Alloh, wahai Rasulullah?”. Lalu turunlah surat At-Taubah ayat 84, yang melarang kaum Muslimin untuk mensholatkan jenazah orang-orang munafik.
Keenam, saat suatu ketika putra Umar masuk ke kamarnya, sedangkan Umar masih tertidur. Kemudian Umar terbangun dan merasa tidak nyaman dengan hal itu, maka ia berdoa, “Semoga Alloh mengharamkan ia masuk”. Lalu turunlah ayat isti’dzan dalam surat An-Nuur ayat 58, yang mengatur waktu dimana seorang budak atau seorang anak harus minta izin terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar orang tuanya.
Ketujuh, tentang perang Badar. Tatkala Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam mengadakan syuraa dan meminta pendapat para sahabat sebelum perang Badar. Maka Umar mengusulkan agar pasukan Muslimin keluar menyongsong kuffar Quraisy di lembah Badar. Rasulullah pun sepakat dan turunlah surat Al-Anfal ayat 5 yang meng-iyakan hal itu.
Serta masih banyak lagi pendapat Umar yang mendapatkan muwafaqah (persetujuan) oleh Al-Qur’an. Seperti kasus hadistul ifki, atau tentang tawanan perang Badar, juga tentang zinanya dua orang yang lanjut usia. Termasuk tentang permintaan Abu Sufyan untuk menyerahkan Rasulullah saat terdesak di perang Uhud.
Juga tentang asbaabun nuzul (sebab turun) beberapa ayat dalam Al-Qur’an, seperti surat Al-A’raf ayat 54, surat Al-Munafiqun ayat 6, surat Al-Baqarah ayat 187, surat Al-Baqarah ayat 98 dan surat An-Nisaa’ ayat 65. Semuanya menurut para ulama merupakan muwafaqah Al-Qur’an atas pendapat yang diajukan Umar bin Khattab. Radhiyallahu ta’ala ‘anhu wa ‘anis shohabati ajma’ain.
:: Artikel ini ditulis untuk rubrik Jejak Salaf Bersama Al-Qur'an di situs www.ibnu-abbas.com

Rabu, 09 Desember 2015

Mari Merendah dan Merasa Butuh kepada Allah Ta'ala



“Wahai sekalian manusia, kalian lah yang faqir (butuh) kepada Allah; dan Allah lah Dzat Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji”
(QS. Faathir: 15)


Tengah hari itu, pada medio Ramadhan tahun kedua Hijriah, kaum Muslimin Madinah yang baru seumur jagung terpaksa menghadapi peperangan yang tidak berimbang. Perkiraan awal bahwa mereka hanya akan melawan sekonvoi kafilah dagang Quraisy dengan jumlah tak seberapa, ternyata meleset. Abu Sufyan bin Harb yang memimpin batalyon pelindung waktu itu, rupanya memutar lewat tepi laut dan meminta bala bantuan dari Mekkah.

Di sebuah lembah bernama Badr, yang berjarak 130 KM dari Madinah, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersama 312 Sahabat harus berhadapan dengan 1000 lebih pasukan Quraisy. Ketika itu pasukan Muslimin hanya bersenjata seadanya. Sedangkan kuffar Quraisy bergerak dengan amunisi kuat dan logistik lengkap.

Meski tetap bertahan dan tidak surut ke belakang, namun Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam sempat ketar-ketir melihat tak imbangnya kekuatan. Berbagai rencana dan strategi perang sebenarnya telah disiapkan, namun rasa khawatir tetap tak bisa dihilangkan. Hingga dengan penuh tadhorru’, Rasulullah mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berdoa, “Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak akan ada yang beribadah kepada-Mu di muka bumi ini selamanya ” (HR. Imam Muslim).

Dalam riwayat ini juga disebutkan bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam terus bermunajat kepada Rabbnya hingga selendang beliau jatuh dari pundak. Hingga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang dan mengambil selendang tersebut kemudian meletakkan kembali di pundak beliau. Lalu Abu Bakar berusaha menghibur, “Wahai Nabi Allah, sudah cukup engkau bermunajat kepada Rabbmu dan Ia pasti akan memenuhi janji-Nya.”

Kemudian Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam segera mengambil baju besi dan terjun ke medan tempur. Allah pun mengabulkan doa penuh kerendahan itu dengan menurunkan 5000 Malaikatnya. "Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar, padahal kalian ketika itu orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, supaya kalian mensyukuri-Nya. Ingatlah ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin: apakah tidak cukup bagi kalian Allah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan dari langit? Ya cukup, jika kalian bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalain dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (QS. Ali Imron: 123-125).

Allahu Akbar! Betapa dahsyat kekuatan Allah dan betapa lemahnya manusia. Cuplikan perang Badar di atas mengingatkan kita akan pentingnya iftiqaar ilallah, merasa butuh kepada Allah. Rasa ini harus selalu terjaga dalam hati, sehebat apapun daya yang kita miliki. Dalam urusan rumah tangga, masalah ekonomi, hubungan sosial, dan dalam seluruh sisi kehidupan; kita butuh kepada Allah.


Orang-orang sholeh terdahulu paham betul akan hal ini. Banyak sekali kisah tentang iftiqaar mereka kepada Allah, termasuk dalam hal-hal yang kecil. Ada di antara mereka yang saat putus sandalnya, berdoa kepada Allah minta sandal baru. Bahkan ada yang butuh sejumput garam, sebelum mulai berikhtiar, mereka memohon dulu kepada Allah. Dalam kamus hidup mereka tidak ada yang namanya PD (Percaya Diri), yang ada hanya PA (Percaya Allah). Bahkan seorang Rasul pun pernah berdoa, “Janganlah Engkau sandarkan diriku kepada diriku sendiri, meski hanya sekejap mata” (HR. Imam Ahmad).

Itu dalam masalah remeh-temeh hidup keseharian. Lalu bagaimana dalam dakwah dan perjuangan memenangkan Islam? Tentu kita lebih butuh kepada Allah. Kekuatan kita yang sesungguhnya adalah ketika kita merasa lemah di hadapan Dzat yang Maha Kuat. Kemuliaan kita yang hakiki adalah ketika kita mau merendah kepada Rabb yang Maha Tinggi. Semakin kita merasa lemah di hadapan-Nya, kita akan semakin kuat. Semakin kita merendah kepada-Nya, semakin tinggi kita menjulang.

Pertanyaannya, sejauh mana kita merendah dan merasa butuh kepada Allah dalam tiap agenda dakwah kita? Selain rajin beraksi di jalanan, serajin apa “aksi” kita di hadapan Alloh pada keheningan malam? Atau kita malah maghrur (tertipu) dengan SDM yang berkualitas nan militan, kerapihan dan solidnya barisan, atau sumber dana yang berlimpahan, sehingga kita lupa untuk berdoa meminta pertolongan?

Dengan tegas Allah telah mengingatkan kita tentang tragedi Hunain, saat ada sebagian pasukan yang maghrur dengan hebatnya kekuatan Muslimin saat itu: “Dan ingatlah pada Perang Hunain, saat banyaknya jumlah kalian membuat kalian kagum, maka itu tidak memberi kalian manfaat sedikit pun, dan bumi yang begitu luas menjadi sempit, lalu kalian lari ke belakang” (QS. At-Taubah: 25).

Pelajaran berharga tentang iftiqaar dan tawakkal ini juga bisa kita dapatkan dari sejarah makar Abrohah dan tentara gajahnya untuk menghancurkan Ka’bah. Sebenarnya kabilah-kabilah Arab sudah berupaya membendung laju raja yang bergelar Dzu Nafar itu, namun semua terkalahkan. Hingga akhirnya Abrahah memanggil orang paling terhormat dari Quraisy yang mendapatkan amanah turun menurun untuk menjaga Ka’bah, yaitu Abdul Muthalib, kakek Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam.

Abrohah terheran saat bertemu dengan Abdul Muthollib. Bukan soal penghancuran Ka’bah yang dipermasalahkan, Abdul Muthalib malah menuntut pengembalian 200 ekor unta yang dirampas tentaranya. Benar-benar hina dianggapnya. Abdul Muthalib pun menjawab keheranan Abrohah tersebut dengan mengatakan, “Aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan menjaganya”. 

Sebagaimana dinukil Ibnu Hisyam, setelah itu Abdul Muthalib dan orang-orang Quraisy berdoa di depan pintu Ka’bah, lalu sembunyi di atas gunung. Hingga Allah mengirimkan burung Ababil, “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Ia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Ia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar. Lalu Ia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat” (QS. Al-Fiil: 1-5).

Seperti raja Abrahah, mungkin kita juga terheran dengan sikap “lemah” dan “menyerah” Abdul Muthalib. Seolah lepas tangan dan tidak bertanggungjawab. Namun sungguh, sikap iftiqaar dan tawakkal yang dimiliki Abdul Muthalib tersebut, jauh lebih bernilai dan berharga di sisi Allah dari pada orang-orang yang berjibaku memperjuangkan dakwah, melawan kebatilan hingga berdarah-darah, namun lupa untuk merasa butuh kepada Allah.

:: Artikel ini ditulis untuk situs dakwah dan ukhuwah  www.manhajuna.com

Minggu, 06 Desember 2015

Misi Khilafah Itu Diemban Adam Yang "Tidak Sempurna"



“Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS.Yusuf: 111).


Meniti jalan panjang dakwah tak semudah berkata-kata. Seringkali pangkalnya sudah jauh dari mata, namun ujungya belum juga tiba. Di sepanjang jalan itu, berbagai rintangan, halangan, hantaman, jebakan dan godaan, telah siap menyapa. Terkadang bosan melanda. Kadang pula putus asa menerpa. Disitulah para pejuang dakwah selalu butuh peneguh dan peneduh, yang akan menguatkan langkah juangnya.

Salah satu sumber peneguh dan peneduh itu adalah kisah para Nabi. Bukan hanya karena kisah atau cerita lebih mudah dicerna dan lebih menginspirasi dibanding teori, namun lebih dari itu mereka para Nabi adalah gerbong pertama dalam kereta dakwah ini. Pun mereka adalah para manusia pilihan penerima wahyu, yang menjadi garansi keautentikan dan kesakralan, untuk pantas diikuti dan diteladani.

Tentu bukan tanpa sebab, saat Alloh sering menyebut kisah kehidupan dan perjuangan mereka dalam Al-Qur’an. Sebagaimana sejarah pasti akan mengulang dirinya, pertarungan antara al-haqq dan al-bathil yang mereka hadapi adalah sunnatulloh yang juga akan tetap ada dan pasti terulang. “Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu” (QS. Al-Fath: 23).

Aktor pertama sejarah panjang dakwah di muka bumi adalah Abul Basyar, Nabi Adam ‘alaihissalam. Sebagaimana dituturkan Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiyaa, kisah Nabi Adam dalam Al-Qur’an bermula ketika Alloh ta’ala memberitahu Malaikat tentang penciptaan Adam ‘alaihissalam dan pengembanan tugas memakmurkan bumi kepadanya. 

Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30). Maksud khalifah di sini adalah Adam dan keturunannya yang turun-temurun akan saling menggantikan untuk memakmurkan bumi.

Lalu disebutkan dalam ayat yang sama, para Malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Pertanyaan Malaikat tersebut, meski tidak bermaksud melecehkan Adam, dijawab tegas oleh Alloh ta’ala: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Lalu Alloh mengajarkan kepada Adam al-asmaa’ (nama-nama) benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah: 31).

Maka Malaikat pun tersadar dan mengatakan, "Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Allah pun memerintahkan Adam untuk memberitahukan kepada Malaikat mereka nama-nama benda tersebut. Lalu Alloh kembali menegaskan, "Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"


Ikhwah fillah, dalam menghadapi beban dakwah yang ada, perasaan tidak mampu dan tidak pantas kadang terlintas di benak kita. Kesadaran akan kekurangan dan keterbatasan diri seringkali membuat kita urung maju ke depan. Kadang juga, kesalahan yang masih sering kita lakukan membuat kita enggan untuk mencegah kesalahan yang ada di sekitar kita.


Atau mungkin pernah juga kita merasa saudara kita seperjuangan tidak pantas menegmban sebuah tugas dakwah, dikarenakan kekurangan dan keterbatasan yang ada padanya. Kita lah yang lebih pantas. Sebagaimana Malaikat yang “mempertanyakan” kompetensi dan kapabilitas Adam ‘alaihissalam untuk menjadi khalifah di bumi.

Kisah Nabi Adam dan Malaikat ‘alaihimussalam di atas memberi pelajaran, bahwa tidak sempurnanya kita tidak boleh membuat kita berkecil hati untuk menerima amanah perjuangan. Sebagaimana kita tidak boleh meragukan orang lain saat telah diputuskan amanah itu diembankan kepadanya. Karena memang sudah dari sananya, Adam sebagai muasal manusia diciptakan dengan potensi kelemahan dan kekurangan. Bahkan pada episode berikutnya Adam harus terusir dari surga karena kesalahan yang diperbuatnya.

Yang terpenting adalah niat tulus untuk terus belajar dan kesediaan untuk meningkatkan kapasitas diri. Sebagaimana Adam yang belajar dari Alloh tentang Asmaa’. Maka dari proses ta’lim dan ta’allum inilah, Adam mempunyai nilai lebih dari yang lain, sehingga menjadi berhak untuk mengemban tugas khilafah memakmurkan dan menjaga bumi dari kerusakan.

Lain dari pada itu, selalu ada hikmah yang tersembunyi di balik realita dakwah yang ada. Sebagaimana Alloh mempunyai hikmah atas penunjukkan Adam sebagai khalifah. Mungkin memang dia “bukan paling ideal” dari yang ada, namun yang pasti dia sosok paling tepat untuk zaman itu dengan berbagai tuntutannya. Karena sunnatullah menegaskan, “Likulli marhalatin khoshoo’ishuha, wa likulli marhalatin rijaaluha”.

:: Artikel ini ditulis untuk perintisan buku Jejak Dakwah Para Nabi