Tampilkan postingan dengan label Catatan Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Ringan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2015

Mengenang "Dua Menara" dari Kampung Dua Menara (2)


Mengapa semua ayat tentang jihad (kecuali ayat shafqah dalam surat At-Taubah), perintah berjuang dengan harta selalu didahulukan dari pada berjuang dengan jiwa? Menurut sebagian ulama hal itu karena harta bersifat darurat dan multi fungsi dalam perjuangan. Ada juga yang berpendapat karena sifat bakhil yang menghinggapi kebanyakan manusia. Betapa banyak orang yang ringan berkorban dengan tenaga, lisan, keringat, bahkan nyawa, namun berat untuk berkorban dengan harta. Hanya sedikit orang yang bisa terjaga dari kekikiran dan kebakhilan, “Dan barangsiapa yang terjaga dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. At-Taghabun: 16).

Salah satu yang kami kenal dari mereka yang sedikit itu adalah dokter Tunjung. Menara kedermawanan yang menutup hidup pada usia 71 itu, mengajarkan kepada kita bagaimana berhubungan dengan harta dunia. Bahwa ia cukup di tangan saja, tak perlu masuk sampai ke dada.

Bukti nyata dari kedermawanan beliau adalah adanya Isykarima. Ma’had yang didirikan pada tahun 1998 itu adalah saksi bisu lapis-lapis al-‘athaa al-mutawaashil yang tak pernah henti mengalir. Beliau adalah pendiri sekaligus sebagai donatur utama, sehingga nama Isykarima menjadi sangat identik dengan beliau. Tentunya tanpa menafikkan peran donatur dan perintis lainnya.

Masih segar di ingatan, saat dulu kami masuk Isykarima hanya membayar uang sebesar Rp. 500.000 saja. Itu pun kembali kepada kami dalam wujud peralatan pribadi seperti ranjang dan kasur, bukan sebagai uang gedung atau sumbangan pendidikan. Uang SPP bulanannya pun hanya Rp. 150.000, tak sebanding dengan fasilitas dan menu makan harian yang jauh di atas rata-rata pesantren pada umumnya. Itu pun kami beberapa tahun sempat mendapat beasiswa prestasi, tanpa harus membayar uang sepeser pun.

Masih segar di ingatan juga, saat tiap bulan Pak Dokter beserta istri menengok kami sambil membawa aneka snack dan makanan, lalu dengan penuh kelembutan dan kebapakan bertanya, “Antum butuh apa lagi?”. Berbagai kebutuhan fasilitas belajar dan olahraga, tanpa harus repot meminta segera terpenuhi. Benar-benar seperti ayah kandung bagi para Asatidz dan santri.

Waktu itu kami pernah jatuh sakit hingga harus diopname di Kustati. Setelah dirawat intensif dan istirahat cukup kami diperbolehkan kembali ke Ma’had. Saat kami bertanya bagaimana dengan biaya rumah sakit? Salah seorang Ustadz menjawab, “Alhamdulillah sudah diselesaikan Pak Dokter”.

Kedermawanan itu terus melimpah kepada kami bahkan saat kami sudah lulus. Sebelum berangkat ke Madinah kami sempat berpamitan khusus kepada beliau. Maksud kami adalah ingin berterima kasih atas segala kebaikan beliau selama ini. Namun lagi-lagi tangan panjang Pak Dokter seperti tak mau berhenti menggapai keutamaan. Seamplop tebal uang beliau sisipkan saat salaman. Alasan bahwa seluruh kebutuhan untuk ke Madinah sudah dicukupi oleh orang tua pun tertolak mentah-mentah. “Nggak papa, terima aja, buat tambah sangu”, kata beliau.

Itu pun masih berlanjut setelah kami di Madinah. Setiap beliau berangkat umroh, semua alumni Isykarima di Madinah selalu mendapat “jatah” khusus dari beliau layaknya seorang ayah yang menengok anaknya. Fasilitas lebih dari cukup buat kami dari kampus seperti tak digubris oleh beliau. Tak lupa beliau selalu mengingatkan kami, “ Hafalan Qur’annya gimana?” atau “Jangan lupa sama ma’had ya...”. Pun demikian yang kami dengar dari beberapa alumni di tempat yang lain.

Suatu saat kami pernah membawa seorang teman mahasiswa Madinah dari Papua yang sakit lutut cukup akut menemui beliau. Berbagai rumah sakit dan dokter spesialis, plus pengobatan alternatif sudah dicoba tanpa hasil yang signifikan. Alhamdulillah, melalui tangan dingin beliau kini teman kami tersebut bisa berjalan normal. Lagi-lagi itu beliau lakukan tanpa sepeser pun memungut biaya. Sampai malu rasanya menerima kebaikan yang bertubi-tubi itu.

Tentunya hilir kedermawanan beliau bukan hanya kami. Berapa banyak lembaga dan proyek dakwah yang teraliri sakhaa’ dan karam beliau? Berapa banyak santri dan aktifis Islam yang telah beliau tolong? Berapa banyak pasien yang beliau obati dengan membayar sebagian atau bahkan gratis keseluruhan? Belum lagi kedermawanan “ringan” yang banyak diceritakan orang. Seperti cerita orang tentang pengajian di rumah beliau yang selalu disediakan makan malam. Cerita orang tentang para pedagang kecil yang dipersilakan numpang berjualan. Cerita orang tentang kran air yang sengaja ditaruh di luar pagar bagi siapa saja yang membutuhkan. Cerita-cerita kesaksian itu begitu riuh terdengar saat beliau menutup usia kemarin.

Putra dari Pahlawan Nasional Prof. Dr. dr. R. Soeharso itu juga menaruh perhatian besar pada nasib Muslimin di belahan bumi lain. Bukan saja darah biru yang beliau warisi dari sang ayah, namun juga darah juang. Jika mendiang R. Soeharso dulu tercatat aktif melawan penjajah Jepang, hingga harus masuk daftar hitam Nippon yang harus dimusnahkan, begitu pula dengan dokter Tunjung yang terkenal royal memberi donasi untuk daerah konflik di berbagai dunia Islam. Tercatat juga bersama Sahabat Al-Aqsha beliau pernah menembus Gaza membawa bantuan dan alih teknologi bedah.


Yang lebih indah dari itu, menara kedermawanan itu berdiri kokoh tanpa sedikit pun berkabut keangkuhan. Justru ketawadhu’an dan kesederhanaan lah yang dipancarkan. Setidaknya itu yang yang kami rasakan dan diceritakan banyak orang. Masih terkesan di ingatan saat orang sepenting dan sesibuk beliau mau mendatangi walimahan sederhana kami di pelosok Jatinom sana. Beliau yang hadir bersama Ustadz Syihab, Syekh Hisyam, Mas Hanif, dan beberapa Asatidz lain begitu sabar menunggu hingga acara usai. Padahal saat menyerahkan undangan kami sempat su’udzon.Alah paling-paling beliau ga dateng, mana sempat?”, batin kami saat itu.

Beberapa kali bertemu, pakaian yang beliau pakai pun juga biasa-biasa saja. Rumah tempat tinggal beliau adalah rumah khas jawa “biasa” yang sederhana, sangat kontras dengan deretan mall dan perkantoran elit di jalan Slamet Riyadi. Beberapa kali berkesempatan masuk ke rumah ahli bedah anggota International College of Surgeons itu, tidak ada perabotan yang istimewa dan mewah di ruang tamunya. Wallahu hasiibuhu walaa uzakkii ‘alallahi ahada.

Itulah sekelumit kesaksian, di hamparan kebaikan yang tak terjangkau penglihatan. Berharap coretan ini menjadi obat kesedihan, saat raga tak turut hadir mensholatkan. Jika bukan karena harapan akan pertemuan kedua di surga, mungkin empedu hati ini akan pecah menahan duka. Kami menyayangi kalian berdua, namun Alloh lebih besar sayang dan rahmat-Nya. Selamat jalan wahai dua menara...

Kembali ke: Mengenang "Dua Menara" dari Kampung Dua Menara (1)

Mengenang "Dua Menara" dari Kampung Dua Menara (1)


Sesungguhnya milik Allah lah apa yang Ia ambil, dan segala sesuatu di dunia pasti menemui ajalnya. Kurang dari dua bulan, Kampung Dua Menara (sebutan familiar Ma’had Tahfizhul Qur’an Isykarima di kalangan alumni) kehilangan dua tokoh sentralnya. Bukan hanya Isykarima saja yang berduka, segenap kaum Muslimin bahkan masyarakat umum juga merasa lara, karena kiprah juang keduanya menembus batas-batas golongan, strata sosial, teritorial, bahkan agama. Siapa lagi kalau bukan gurunda tercinta Ust. H. Eman Badru Tamam, Lc dan ayahanda tercinta dr. H. Tunjung Sulaksono Soeharso, Sp.OT, FICS.

Bagi kami pribadi, Ustadz Badru adalah menara keilmuan yang tak pernah goyah memberi keteladanan. Ustadz muda asli Cirebon itu pertama memberi sentuhan ilmunya saat menjadi kepala Madrasah Mutawasithoh di Ponpes Al-Mukmin Ngruki tahun 1999. Saat itu beliau belum lama lulus dari Universitas Islam Madinah.

Di mata kami yang baru usai sekolah dasar, penampilan berwibawa dan enerjik ustadz alumni KMI Al-Mukmin itu dengan cepat membuat kami jatuh hati dan mengidolakannya. Suaranya yang merdu dan lagunya yang khas seperti imam Majidil Haram membuat kami berbinar-binar dan berebut shaf terdepan tiap yang muncul menjadi imam sholat jama’ah adalah beliau. Entah kenapa, jika beliau yang memimpin sholat terasa lebih khusyu’ dan syahdu.

Pun demikian ketika mengajar di kelas. Saat itu beliau mengajar materi fiqih, dengan kitab pegangan Minhajul Muslim karya Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza`airy. Cara mengajarnya yang sistematis, dengan penjelasan yang gamblang, ditambah gaya beliau yang motivasional, membuat materi fiqih yang biasanya rumit dan membosankan menjadi mudah dan menarik. Jadwal mengajarnya pun menjadi moment yang ditunggu-tunggu setiap minggu.

Dua tahun di Mutawasithoh bersama Ustadz Badru membuat semangat menuntut ilmu kami menggelora dan cita-cita untuk kuliah di Madinah makin membara. Cerita-cerita tentang Al-Jaami’ah Al-Islamiyah yang sering beliau sampaikan, memotivasi kami untuk terus berdoa dan menyiapkan diri meniti jalan menuju kota Nabi. Hingga akhirnya di tahun ketiga kami harus berpisah dengan ustadz yang selalu tampil rapi itu karena perubahan sistem unit sekolah. Beliau tidak lagi mengajar di Mutawasithoh.

Namun demikian, karena ikatan hati yang sudah terjalin dengan kuatnya, saat itu dengan beberapa teman kami berinisiatif meminta beliau mengisi kajian kitab khusus buat kami. Beliau pun dengan senang hati bersedia. Meski yang hadir tidak banyak, dengan sabar dan telaten beliau membedah kitab fadhaail ‘ilmi di rumah dinas beliau yang hanya beberapa meter saja dari komplek asrama.

Bahkan saking ngefansnya sama beliau, bersama seorang teman bernama Saiful Shiddiq, kami rela kabur dari pondok tiap Jum’at pagi untuk menghadiri kajian kitab I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang beliau sampaikan di masjid Istiqomah, Penumping. Hingga kemudian kami melanjutkan studi ke Isykarima dan bersua kembali dengan Ustadz yang mempunyai kunyah “Abu Harits” itu.

Di Isykarima, sebagai mudir beliau diakui berperan sangat vital dalam membesarkan lembaga. Bukan sekedar sebagai konseptor utama atas manahij dirosiyah dan ansyithoh thullabiyah yang ada, namun figur kharismatik beliau benar-benar menjadi menara keilmuan dan keteladanan bagi kami para santri. Ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran terpadu apik dengan sikap arif dan bijak dalam menanggapi masalah di lapangan.

Di kelas, beliau pernah mengajar kami materi Ushul Fiqih dan Dirosatul Firoq. Materi-materi pelajaran super njlimet itu menjadi ringan jika beliau yang menyampaikan. Apalagi Ustadz Badru terkenal mudah dalam ujian dan murah dalam memberi nilai. Tak terasa sudah dua belas tahun berlalu, beberapa kaidah Ushul dan definisi Firoq yang beliau ajarkan masih melekat di kepala.

Beliau juga sering berbagi tips dalam menuntut ilmu. Di antaranya yang masih kami terapkan sampai sekarang adalah soal membaca buku. Beliau selalu memotivasi kami untuk banyak membeli buku. Kalau belum sempat membacanya, minimal baca muqoddimah dan daftar isinya. Suatu saat kalau kita butuh, kita tahu kemana harus merujuk.




Setelah kami melanjutkan studi ke Madinah, hubungan baik guru-murid antara kami masih terjalin. Dua kali beliau berangkat umroh pun kita ketemuan. Dengan penuh ketawadhu’an beliau mau kami bonceng naik Dio (motor matic 50 cc) keliling Madinah untuk berburu ponsel bekas. Kadang saat libur musim panas, kami sowan ke kontrakan beliau di Ngruki, yang beliau sambut dengan welcome penuh kehangatan.

Beliau lah yang memberi taushiyah dalam acara akad pernikahan kami. Resep keluarga sakinah yang beliau sampaikan hingga kini masih rapi tersimpan dan sering kami putar kembali. Masih terngiang-ngiang doa indah beliau untuk kami, “Semoga keluarga ini menjadi keluarga ilmu, seperti keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fathimah, yang dibimbing langsung Rasulullah ‘alaihis sholaatu wassalaam”.

Saat itu Ustadz Badru sudah terkena penyakit gula. Kemana-mana harus bawa suntik insulin sebagai pereda. Bahkan beberapa tahun berikutnya implikasi dari penyakit gula itu mulai merembet ke mata. Penglihatan beliau menjadi samar dengan radius kurang dari semeter, bahkan kadang gelap total. Namun demikian, semangat beliau untuk berdakwah menyebarkan ilmu tak pernah padam. Beliau masih aktif mengisi beberapa kajian, salah satunya kajian kitab Riayadhus Solihin, dengan cara matannya dibacakan orang lain lalu beliau yang memberi syarh.

Hingga waktu libur shoifiyah bulan Ramadhan lalu, saat kami bersama teman-teman IKARIMA Madinah datang menjenguk, beliau terlihat tambah lemah. Efek dari penyakit gula itu mulai menjalar ke ginjal. Namun demikian, beliau masih semangat memberi kami wejangan. Dengan asyik kami ngobrol tentang bahaya Syi’ah, fenomena neo Khawarij, dan problematika umat yang lain. Bahkan beliau menyampaikan rasa sedih dan kesepiannya karena tidak bisa lagi keluar rumah untuk berda’wah. Beliau berharap ada sebagian asatidz atau santri yang mau datang ke rumah beliau, sekedar untuk membaca bersama sebuah kitab.

Dua hari setelah lebaran, kami bersama Ustadz Muin berkesempatan kembali datang menjenguk. Mau menangis rasanya melihat kondisi Ustadz yang terkenal tegas itu. Muka beliau sangat pucat bahkan cenderung gelap karena efek gangguan ginjal yang beliau rasakan. Beliau tidak bisa minum banyak karena untuk buang air sangat susah. Bahkan yang membuat kami tidak mampu membendung air mata, beliau menyatakan khawatir tidak mampu melewati ujian sakit ini. Lalu Ustadz Mu’in pun membacakan beberapa ayat ruqyah dan ayat-ayat motivasi untuk beliau.

Hingga pada Haji kemarin, saat kami baru pulang dari Mina, di pagi hari tiba-tiba Ummu Kannaz (istri Mas Irfan Tunjung)  yang waktu itu serombongan dengan kami menyapa, “Ustadz, sudah tahu kabar belum? Ustadz Badru meninggal”. Deg! Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un. Kami terdiam tidak bisa berkata-kata. Seperti tak percaya bahwa menara keilmuan itu telah tiada.

Saat melaksanakan thowaf ifadhoh, bukan bimbingan doa Ustadz Mu’in yang kami tirukan, namun doa mohon keampunan untuk beliau yang bisa keluar dari lisan. Sepanjang perjalanan di bus, kami dan Ustadz Mu’in pun bersenandung sendu, “Hal turaanaa naltaqi am annahaa, kaanatil luqyaa ‘alaa ardhis saroobi…”.

Rabu, 05 Oktober 2011

Pantun Poligami Dari Pak Menteri

Cerita ringan ini terjadi sebelum liburan musim panas kemarin. Sayang kalau beberapa hikmah yang ada di dalamnya terlupakan begitu saja. Malam itu tiba-tiba HP saya berdering, "Akhi, Antum besok bisa dampingi Pak Tifatul ke Mekah?". Ternyata telepon dari pengurus Talbia Travel, meminta saya untuk mendampingi Menkominfo Ir. Tifatul Sembiring dan istri menuju ke kota Mekah guna melaksanakan ibadah Umroh.

Agak berat sebenarnya menerima order ini, karena lusa saya harus mengikuti tes seleksi S2 yang sangat menentukan perjalanan hidup saya ke depan. Namun keinginan untuk ngobrol banyak dengan Pak Tif (begitu beliau sering dipanggil) juga mendesak dalam hati. Sedangkan di seberang sana pihak travel harap cemas menanti jawaban. "Toyyib, insya Allah bisa Ustadz", akhirnya kalimat itu terlontar juga.

Esok harinya, setelah sempat masuk kuliah, saya langsung meluncur menuju hotel Dyar International menyiapkan keberangkatan. Berkoordianasi dengan bell boy untuk mengemas barang dan menghubungi sopir GMC yang akan membawa kami menuju Mekah. Di luar kelaziman memang, seorang Menteri, yang biasanya menjadi tamu Kerajaan, menginap di hotel sekelas Dyar yang biasa saja dan berada di ring kedua dari Masjid Nabawi. Seringnya orang-orang penting dari Indonesia menginap di Obroy, Hilton, atau minimal Movenpick. Uniknya lagi, beliau berangkat tanpa pengawal atau ajudan sama sekali.

Setelah semua beres, dan kami berta'aruf sebentar, GMC langsung meluncur menuju tempat Miqot Dzulhulaifah untuk memulai Ihrom. Sepanjang perjalanan dari hotel ke Miqot kami isi dengan rencana perjalanan dan berta'aruf dengan sopir GMC yang orang Arab asli. Saya memanggilnya Aboyya. Ternyata percakapan Arab Pak Menteri lumayan juga.

Sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju Mekah, Pak Tif minta diantar membeli minuman dan snack untuk bekal di perjalanan. Waktu itu kami sempat saling berebut untuk membayar. "Akhi, Antum kan mahasiswa, masa ntraktir kami? Ntar aja kalo dah jadi bos". Hehe.. Pikir saya waktu itu beliau adalah tamu, harus dihormati. Apalagi harganya tidak seberapa. "Tuh kan, gara-gara Antum mau mbayari, istri ane jadi pekewuh mau nambah lagi. Udah, pake ini aja.." Akhirnya beliau lah yang mentraktir kami semobil. Pintar juga Pak Tif membuat alasan.

GMC yang kami tumpangi pun mulai meninggalakan Miqot. Kami semua melantunkan niat Umroh, "Labbaika Allahumma umrotan..". Saat itu suasana menjadi hening, tidak ada obrolan sama sekali. Yang terdengar hanya lantunan kalimat talbiyah. Saya dan sopir berada di depan, sedangkan Pak Tif dan istri duduk di kursi tengah.

Rasa kantuk pun mulai menyerang saya. Maklum kecapekan habis kuliah. Diktat materi untuk ujian S2 nanti pun tidak bertahan lama saya baca. Waktu itu, dengan penuh semangat Pak Tif beserta istri masih terus melantunkan kalimat talbiyah. Bahkan ketika sudah berjalan 100 KM lebih dari Miqot. Dalam batin saya, selama saya membimbing jama'ah Haji dan Umroh, tidak ada yang pernah sesemangat ini.

Setelah beberapa saat tertidur, saya pun terbangun. Dan subhanallah, Pak Tif masih bertahan melantunkan kalimat talbiyah yang memang disunnahkan dalam ibadah Umroh sejak mulai Ihram hingga nanti melihat Ka'bah. Saat merasa bosan, Pak Tif mengambil mushaf untuk tilawah dan mengulang hafalan Qur'an. Ia pun berpindah-pindah dari satu lagu murottal ke lagu yang lain. Sampai Aboyya di sebelah saya pun bertanya, "A haqqan huwa wazir?". Apa benar dia seorang Menteri? Menurutnya aneh ada Menteri seramah dan sealim ini. Apalagi dari Indonesia. "Ajiiiib.... ", kata Aboyya lagi.

Hingga ketika jarak ke kota Mekah tinggal 100 KM lagi, Pak Tif minta untuk mampir terlebih dahulu ke rumah makan. Saya sampaikan ke beliau bahwa sepanjang jalan antara Madinah dan Mekah tidak ada rumah makan yang layak. Pak Tif pun menjawab, "Mau layak kayak apa sih Akhi? Biasa aja, yang penting bersih". Akhirnya kami pun berhenti di sebuah Math'am sederhana dan kembali Pak Tif mentraktir kami makan siang dengan fahm dajjaj dan samak maqli. Saya berdua dengan Aboyya dan Pak Tif satu meja sama istrinya.

Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota Mekah. Kali ini obrolan di antara kami jauh lebih cair. Banyak hal yang saya tanyakan kepada Pak Tif terkait dengan kondisi terakhir dakwah, perpolitikan Indonesia, atau prestasi-prestasi dan program terbaru Kominfo. Pak Tif pun balik bertanya tentang aktivitas di kampus dan kondisi terkini Arab Saudi serta Timur Tengah. Banyak hikmah dan wawasan baru yang saya dapatkan dari perjalanan sejauh kurang lebih 500 KM ini.

Untuk memperhangat suasana, tiba-tiba Pak Tif menyampaikan sebuah cerita yang cukup jenaka. Kurang lebih cerita ini tentang seorang pengusaha asal Amman, Jordania. Sebut saja namanya Amir. Di samping berbisnis di Jordan, Amir juga mengelola usaha di Baghdad, Iraq. Jadi setiap beberapa hari ia bolak-balik pergi ke Baghdad, sedangakan istrinya tinggal di Amman. Cukup berat baginya berpisah dengan keluarga yang hampir seminggu sekali.

Suatu hari Amir pergi ke Baghdad menggunakan bus antar negara. Seperti biasa ia memilih tempat duduk di belakang sopir bus. Di tengah perjalanan ia mendengar sang sopir melantunkan sebuah pantun dengan penuh kegembiraan:

Bunga mawar bunga melati
Bermekaran di sepanjang jalan
Alangkah indah hidupku ini 
Hidup antara Bagdad dan Amman

Begitu terus sepanjang jalan sang sopir berdendang. Hingga sampailah bus pada tujuan. Amir pun tinggal di Baghdad selama seminggu. Saat urusan Amir selesai, ia pun segera kembali menuju Jordan. Tak disangka ia kembali dapat bus dan sopir yang sama seperti saat ia berangkat seminggu yang lalu. Ia pun kembali mendengar sang sopir berpantun ria:

Bunga mawar bunga melati
Bermekaran di sepanjang jalan
Alangkah indah hidupku ini 
Hidup antara Bagdad dan Amman 

Amir pun menjadi penasaran, apa yang membuat sopir ini terlihat begitu bahagia dengan pantunnya? Padahal seperti yang ia rasakan, sang sopir harus bolak-balik antara Amman dan Baghdad meninggalkan istri dan keluarga. Amir pun memulai obrolan sama sang sopir. Setelah bercakap ngalor-ngidul, tiba-tiba iseng Amir bertanya, "Pak sopir, ngomong-ngomong Anda punya istri berapa?". Sang sopir pun menjawab, "Oh, saya punya istri dua. Yang satu tinggal di Amman, satunya lagi di Baghdad". Sedikit cuek, sang sopir kembali mendendangkan pantun kesukaannya dengan sedikit dilagukan.

Sedangkan Amir terus berkecamuk batin dan pikirannya. "Wah, pantesan ia begitu gembira, ia punya istri dua! Ia tidak akan pernah merasa sedih saat bekerja. Di Baghdad ada istri yang melayaninya, dan di Amman istri kedua siap sedia. Uenak tenan..", kata Amir dalam hati. Amir pun menjadi kepingin nikah lagi untuk yang kedua. Ia pikir seorang sopir aja bisa, apalagi dia yang pengusaha. Cleguk!

Singkat cerita, Amir pun melaksanakan niatnya berpoligami. Ia menikahi seorang gadis di Baghdad. Ia pun terus bolak-balik antara Amman dan Bagdad. Namun sayang, kehidupannya bukan bertambah bahagia. Justru sebaliknya, makin sengsara. Poligami yang ia jalani kurang sukses. Amir tidak bisa memenejemen emosi dan rasa cemburu kedua istrinya. Yang terjadi dari hari ke hari hanya pertengkaran dan kemarahan. Saat di Amman, ia bertengkar dengan istri pertamanya. Saat di Baghdad, ia pun berselisih dengan istri mudanya.

Hingga suatu hari, saat ia  melakukan perjalanan menuju Baghdad, ia kembali menumpang bus dan sopir yang sama. Ia pun memilih duduk paling depan dan di tengah perjalanan ia berbisik kepada sang sopir, "Eh, Pak sopir, tahu nggak, saya sudah nikah lagi dengan seorang gadis di Baghdad. Tapi baru beberapa bulan berjalan, hidup malah tambah sengsara saya rasakan. Saat di Amman, saya bertengkar dengan istri pertama. Di Baghdad juga sama keadaannya. Kalau boleh tahu, apa resep Pak Sopir sukses mengelola dua keluarga?"

"Ha..ha..ha..ha.." Sang sopir malah tertawa terbahak-bahak. Ia pun berbisik kepada Amir, "Anda salah sangka Tuan, apa yang Anda alami juga sedang saya alami. Makanya saya selalu berdendang: alangkah indah hidupku ini, hidup antara Baghdad dan Amman. Karena kalau saya sampai di Amman, bertemu istri pertama, saya disambut dengan pertengkaran. Begitu juga saat saya pulang ke Baghdad, yang ada hanya perselisihan. Jadi, saya benar-benar merasakan bahagianya hidup dan terbebas dari beban, adalah saat sendirian menyopir antara Baghdad dan Amman."

Seketika itu juga, saya, Pak Tif dan istri beliau tertawa lepas bersama. Hehe.. Beginilah kalau poligami hanya karena terprovokasi. Aboyya pun terbengong-bengong melihat kami tertawa bersama. Sejak tadi ia tidak paham apa yang kami obrolkan karena kami menggunakan bahasa Indonesia. Maka Pak Tif pun meminta saya untuk menceritakan kembali kisah tadi dengan bahasa Arab. Setelah selesai, kami semua kembali tertawa bersama, termasuk Aboyya.

Namun tiba-tiba Aboyya angkat bicara dengan nada serius. Menurutnya, masalah poligami cukup relatif. Beda orang, beda kisahnya. Semua tergantung bagaimana niatan dan cara menjalaninya. Aboyya bercerita bahwa ia punya seorang teman yang punya istri dua juga. Sudah berjalan beberapa tahun, semua baik-baik saja. Bahkan bisa dikatakan sangat bahagia. Padahal temannya itu keadaan ekonominya cukup sederhana. Kedua istrinya pun tinggal satu rumah. Tapi tidak ada masalah. Justru mereka saling membantu menyelesaikan tugas rumah tangga. Kalau hari ini istri pertama yang masak, maka besoknya gantian istri muda yang masak. Saat istri pertama baru melahirkan, maka istri mudalah yang membantu mengurus segalanya. Begitu juga sebaliknya saat istri muda giliran punya anak. Menurut Aboyya, keterpautan hati itu bukan manusia yang mengaturnya. Ta'liful qulub itu Allah yang menentukan.

Luar biasa! Kali ini kami mendapatkan tadzkiroh dari seorang sopir, yang mungkin secara dzohir biasa saja, bahkan kelihatan sangat awwam. Secara banyak sopir di Saudi yang peminum khamr dan meninggalkan sholat. Segera saja kami mengiyakan apa yang Aboyya sampaikan. "Wa allafa baina qulubihim. Lau anfaqta ma fil ardhi jami'an ma allafta baina qulubihim..", begitu firman Allah dalam Al Qur'an. Maka tak jarang kita dapatkan seseorang yang berpoligami dengan empat istri tapi terlihat tenang-tenang saja. Karena sekali lagi keterikatan hati itu di tangan Allah. Toh belum tentu yang memilih untuk beristri satu akan terhindar dari pertikaian. Buktinya angka perceraian semakin hari semakin tinggi.

Bagi kita yang berharap ta'liful qulub benar-benar bisa terwujud dalam keluarga, tidak ada jalan lain kecuali memohon kepada Allah ta'ala. Kalau perlu sesekali dalam doa rabithah yang terlantun, bukan wajah ikhwah yang dibayang, tapi wajah istri dan anak-anak tersayang. Allahumma allif baina quluubinaa..

Sabtu, 28 Mei 2011

Selamat Jalan Wahai Muslimah Tangguh...



Pagi itu, sebelum subuh, saya bertemu seorang teman di tempat wudhu, "Kim, tau Bu Yoyoh? Kata Pak Tif di twitter, beliau meninggal". "Masa sih? Baru kemarin Bu Yoyoh kirim SMS ke ane, yang bener ente?!", jawab saya. Langsung setelah Subuhan saya buka internet. Ternyata betul, Ustadzah Yoyoh Yusroh telah tiada. Innaa lillaahi wainnaa ilaihi roji'un.

Kurang lebih sebulan yang lalu, saya berkesempatan membimbing rombongan Umrah Talbia Travel. Bu Yoyoh dan kedua anaknya ikut serta dalam rombongan tersebut. Disitulah awal interaksi saya dengan Bu Yoyoh dan keluarga. Selama ini saya cuma mendengar dan membaca tentang beliau dari kejauhan; seorang da'iyah senior yang sudah malang melintang di dunia dakwah, pada berbagai lininya.

Kesan yang tertangkap pertama kali dari Bu Yoyoh saat bertemu adalah kesederhanaan dan kebersahajaan. Tanpa banyak aksesoris, pernik-pernik, bahkan kosmetik, dibandingkan pada umumnya jama'ah Umroh. Begitulah menurut saya dan rombongan yang lain waktu itu. Bersama kedua putranya, Ayyash dan Ghozin, ia membaur dengan jama'ah tanpa tersekat sama sekali. Banyak yang tidak tahu kalau seorang ibu kelahiran 14 November 1962 itu adalah seorang anggota DPR RI.

Muslimah Tangguh. Mungkin istilah itu pantas disandang olehnya. Bagaimana tidak, karir dakwahnya telah dimulai sejak awal perintisan tarbiyah di Indonesia. Bahkan sebelum itu, saat ia masih belia. Ketika medan dakwah siayasi memanggil, ia pun berada di barisan terdepan kaum hawa. Terbukti, sudah dua kali ia menjadi anggota DPR Pusat sejak 1999. Masih segar di ingatan, saat Bu Yoyoh dan tim habis-habisan memperjuangkan UU Anti Pornografi.

Berbagai amanah pun diembannya, dari menjadi Dewan Pakar ICMI, DPP, Pesantren Ummu Habibah, PP SALIMAH, hingga menjadi pimpinan International Muslim Women Union (IMWU). Ia juga mendapat tanda jasa Mubaligh Nasional dari Departemen Agama Pusat pada tahun 2001.

Akan tetapi, tugas-tugas besar itu ternyata tidak membuat kewajibannya sebagai seorang ibu terbengkalai. Bu Yoyoh memiliki 13 orang anak dan 2 orang cucu. Luar biasa! Anak-anaknya pun sangat prestatif dan membanggakan. Di antara mereka ada yang studi di Al Azhar, Mesir. Ada juga yang mendapat beasiswa ke Eropa. Sebagian lagi kuliah di perguruan tinggi ternama Indonesia, seperti ITB dan UGM. Sedangkan Ayyash (kelas 3 SMP) dan Ghozin (kelas 2 SMP), keduanya adalah Hafidz Al Qur'an.

Malam itu, setelah siangnya kami berziarah keliling kota Madinah, Bu Yoyoh mengajak saya makan malam di restoran bersama kedua putranya. Banyak hal yang kami obrolkan waktu itu. Soal keinginan Ayyash untuk melanjutkan SMA di Madinah, hingga kesibukan Bu Yoyoh di forum internasional. Ia bercerita, bahwa setelah umroh nanti, ia harus langsung menuju Syiria untuk Konferensi Internasional soal Palestina. Sebelumnya, ia baru saja pulang dari Sudan untuk tugas yang sama. Bahkan bersama rombongan KNRP, Bu Yoyoh berhasil menembus masuk ke Ghaza. Iri rasanya melihat foto Bu Yoyoh bersama PM Ismail Haniya dan pimpinan Ghaza yang lain.

Setelah itu, komunikasi di antara kami tetap berlanjut. Khususnya membahas rencana Ayyash melanjutkan SMA di Madinah. Saat Bu Yoyoh kembali ke Saudi bersama Komisi I DPR RI untuk mengawasi pemulangan ribuan TKI yang terlantar di Jeddah, ia sempat menelepon. Dan kemarin, Bu Yoyoh kembali mengirim sms, "Aslm. Apa kabar Akh Hakim? Afwan, Ayyash semangat sekali ingin sekolah di Madinah dan tidak mau daftar ke SMU/Aliyah disini... Saya sudah buka web UM yang Antum beri, tapi disitu tidak ada pendaftaran, ada pengumuman kelulusan aja. Jadi saya mohon saran Antum bagaimana proses pendaftarannya, jazakallah..". Subhanallah, total sekali ia menjadi seorang ibu, gumam saya.

Dan ternyata, itu adalah SMS terakhir dari beliau. Berikutnya, yang terkirim adalah kabar musibah yang memilukan. Bukan, bukan musibah sebenarnya. Tapi pintu peristirahatan dari dunia yang melelahkan. Untuk kemudian melangit menghadap Sang Kekasih dengan penuh kebahagiaan.

Selasa, 21 Desember 2010

KULIAH VS NIKAH

Cerita ini berawal dari realita bahwa kelima anggota halaqah saya ternyata bujang semua. Mereka adalah mahasiswa Madinah yang sedang menghadapi masa-masa genting pencarian dan penantian. Sangat mendesak untuk menyampaikan materi baitul muslim kepada mereka. Sayang, sebagai Murobbi, saya bukan orang yang pantas menyampaikan materi itu. Apalagi kalau bukan karena status marital saya yang tidak berbeda dengan mereka. Berkali-kali saya menyinggung tentang masalah ini, selalu saja mereka menjawab, "Ah, omdo! Omong doang..". Terpaksa saya harus menghadirkan muwajjih khusus yang bisa membahas tentang pernikahan dan serba-serbinya.

Singkat cerita, akhirnya tiga orang Ustadz bersedia memberikan wejangan khusus kepada kami. Mereka adalah Ust. Asfuri Bahri, Lc (Staf BPK Pusat), Ust. Fahmi Rusydi, Lc (Ma'had Al Hikmah Bangka) dan Ust. Asril Abdullah, Lc (Pengasuh PP Husnul Khatimah)  Kebetulan ketiganya sedang mengikuti diklat yang diselenggarakan Rabitah Alam Islami di Mekkah. Yang pasti beliau-beliau sudah menikah dan punya anak, jadi nggak bakal ada lagi  cletukan "NATO, no action talking only" seperti biasa.

Di restoran Ma'azim, pada pinggiran kota Madinah yang bergaya lesehan, dauroh singkat tentang nikah itu dilaksanakan. Setelah menikmati nasi Bukhori dan ayam panggang, kemudian mendengarkan tilawah dari seorang di antara kami, saya sebagai moderator langsung memulai obrolan dan mempersilakan para Asatidz untuk mulai berbicara. Ustadz Asfuri dengan gayanya yang kalem memberikan motivasi menikah kepada kami. Ustadz Fahmi bercerita tentang masa lalunya ketika menjadi sekjen KAMMI Pusat periode pertama. Bagaimana antara Ikhwan dan Akhwat pada waktu itu begitu terhijab, bahkan menikah satu atap organisasi masih menjadi suatu hal yang tabu. Sedangkan Ustadz Asril menyampaikan tentang etika pergaulan dengan lawan jenis dan serba-serbi kehidupan berkeluarga.

Yang sangat menarik adalah ketika Ustadz Asfuri bercerita tentang proses pernikahannya dulu, sewaktu masih menjadi mahasiswa LIPIA Jakarta. Betapa miskinnya beliau pada saat itu. Bagaimana beliau menikah hanya bermodalkan sebuah Hadits Rasulullah SAW, bahwa ada tiga golongan manusia yang dijamin pasti akan ditolong Allah. Salah satunya adalah seorang pemuda yang menikah untuk menjaga keselamatan agamanya. Menurut beliau, esensi 'ubudiyah menikah adalah ketawakalan yang tinggi kepada Allah ta'ala. Memang sangat spekulatif, tapi dalam spekulasi itu ada kenikmatan yang luar biasa yang lahir dari rasa harap kepada Sang Maha Penolong.

Dan memang benar, soal menikah sulit terlogika dengan akal manusia. Secara nalar setelah menikah beban kehidupan seorang hamba akan bertambah. Namun yang tidak disadari, ternyata Allah juga menambahkan kekuatan kepada hamba tersebut untuk mampu memikul bebannya. "Jika mereka miskin, maka Allah akan menjadikan mereka kaya..", begitulah termaktub dalam Al Qur'an. Saya sendiri, meskipun belum merasakan langsung, menyaksikan bagaimana teman-teman mahasiswa Madinah membuktikannya.

Sebut saja namanya Asman. Mahasiswa fakultas Hadits ini menikah sejak tingkat dua. Istrinya ditinggal di Indonesia. Kini sudah dikaruniai seorang putri. Setiap menerima tunjangan beasiswa, ia harus membaginya menjadi dua, sebagian buat hidup selama sebulan dan sebagian yang lain harus dikirim ke Indonesia. Namun dengan beban keluarga tersebut tidak menjadikannya lemah dalam belajar. Ia pernah bercerita bahwa IPK-nya terus meningkat sejak ia menikah, meski beberapa waktu kosong harus ia isi dengan mencari nafkah. Kontribusinya dalam dakwah juga diakui teman-teman. Ia tetap aktif berkarya, menulis, menterjemah dan bahkan menjadi striker bola tim nasional kami. Wajahnya tenang, teduh dan tetap ceria.

Saya pernah mendapatkan jawaban yang tidak terbantahkan darinya soal menikah. Waktu itu ketika mahasiswa asal Garut ini memotivasi saya, saya beralasan ingin fokus studi dulu, S2, S3 dan seterusnya. Kemudian ia balik bertanya, "Antum masih kuat menahan tidak? Masih bisa menjaga pandangan? Kesucian diri?" Saya pun menjawab, "Sulit!". Asman kembali menimpali dengan sebuah kaidah, "Akhi, daf'ul mafasid muqoddam 'ala jalbil masholih". Bahwa menghindari kemafsadatan itu harus didahulukan daripada mencari kemaslahatan.

Betul juga kata Asman. Khayalan yang tidak halal dan pandangan yang tidak terjaga itu adalah mafsadat. Apalagi kalau sudah terjerumus kepada pacaran, konsumsi pornografi, onani dan penyakit bujang lainnya. Sedangkan belajar, S2, S3 dan status sosial, itu semua adalah maslahah. Jadi menikah untuk menahan mafsadat tersebut tadi harus menjadi prioritas, dibanding sekedar menggapai maslahat yang tidak darurat. Memang betul, yang sudah menikah sebagian waktunya tersita untuk mengurusi keluarga. Tapi coba hitung, berapa waktu yang dibuang para bujang untuk melamun, berimajinasi, chatingan, fesbukan, colek sana-sini, HTS-an atau abi-umian? Sedangkan yang pertama berpahala dan yang kedua mengarah ke dosa? (Deg! Kena banget Coy..).

Bahkan sebenarnya antara nikah dan studi tidak perlu dibenturkan. Semua bisa berjalan saling beriringan. Faruq Azad telah membuktikannya. Mahasiswa asal India ini adalah teman sekelas saya di fakultas Syari'ah semester kedua. Waktu itu ketika masuk kelas pertama kali kami membawa daftar mata kuliah yang tertulis di atasnya IP semester pertama. Saya yang saat itu duduk di sebelahnya mengintip berapa IP yang diraihnya. Luar biasa, 4.98, Hampir sempurna! Kemudian iseng saya bertanya kepadanya, "Antum sudah menikah?" Faruq menjawab, "Sudah". Lalu ia balik bertanya berapa nilai saya. Saya pun menjawab, "4.86". Kemudian setelah dia tahu nilai saya tidak lebih tinggi darinya dan ternyata saya belum menikah, dia pun berkata, "Miskin Anta!" yang artinya, kacian deh luuu… 

Ada lagi, Abdul Latif panggilannya. Ia adalah tetangga kamar saya, asal Yaman. Ia sudah menikah dengan satu anak. Namun kemampuan ilmiyahnya membuat mulut semua orang ternganga. Ia peraih IP lima. Sempurna! Ia juga hafal Alqur'an 30 juz. Bahkan ia juga menguasai qiro'ah sab'ah. Ia pun hafal ratusan Hadits dan Syair Arab. Tahun kemarin ia menjadi perwakilan kampus dalam ajang mahasiswa nasional. Orangnya sangat ramah, tenang, dewasa dan berwibawa. Saya sering memintanya privat khusus dalam I'rab Nahwu dan ilmu Mawaris.

Begitulah, tugas belajar tidak menghalangi langkah mereka untuk menggenapkan separuh agama. Bagi mereka menikah bukan sekedar melaksanakan sunnah, tapi menikah adalah proyek besar membangun peradaban umat: turut serta melahirkan generasi robbani. Pernikahan yang barokah, akan menghasilkan lompatan-lompatan fantastis dalam hidup seseorang. Secara kedewasaan, spiritual, finansial, performa lahir, dan banyak hal lain. Bahkan teman saya bilang, dengan menikah kemudian berpisah, bisa menjadi kenangan tersendiri bagi kehidupan suami istri dan menambah harumnya bumbu romantika berkeluarga.

Kembali kepada dauroh kami tadi. Setelah mendapatkan motivasi menikah dari Ustadz Asfuri, terlihat teman-teman tambah bersemangat dan semakin antuzias mengikuti obrolan. Termasuk saya sendiri. Pandangan saya menerawang jauh, membayangkan rangkaian moment spesial itu. Mengkhayal saat-saat nadhor, ta'aruf, khitbah, akad, malam pertama, honeymoon, program pacaran, punya anak, so sweet.. (lebay.com).

Namun tiba-tiba para Ustadz kembali melanjutkan uraian yang membuat kami semua kaget. Khusus kami para penuntut ilmu, yang sudah dinantikan umat di Indonesia, mereka bertiga sangat menyarankan kalau bisa jangan buru-buru nikah dulu. Menunda sebentar sampai selesai S3 ada baiknya. Kata mereka, nanti kalau sudah menikah kami tidak akan bisa fokus lagi belajar. Apa lagi kalau sudah punya anak. Kebutuhan biologis, kasih sayang, materi, susu bayi, masalah dengan mertua, dan seterusnya, akan banyak menyita perhatian dan tenaga. Apalagi kalau harus melanjutkan S2 ke pelosok Sudan, Libia atau Pakistan, mau bawa istri? Glek! Tubuh kami yang sejak tadi sudah melangit karena motivasi, tiba-tiba saja jatuh kembali ke bumi. Kok jadi begini endingnya?!

Yah, sebenarnya nasehat tambahan Ustadz di atas ada betulnya. Bagi sebagian orang, menikah sambil kuliah ternyata menimbulkan banyak masalah. Apalagi bagi para mahasiswa S1 di Madinah, yang belum boleh membawa serta istri. Dosen kami di kelas pernah bilang, "imma an tu'adzdzibaha au tu'adzdzibaka". Kalau tadi adalah kisah suksesnya, coba simak kisah sedihnya berikut ini.

Sebut saja namanya Usman (bukan nama sebenarnya). Mahasiswa asal Bandung ini menikah pada liburan musim panas pertama, yaitu masuk tahun kedua kuliah. Awalnya Usman terkenal sebagai mahasiswa yang rajin. Selalu datang ke kelas paling awal dan duduk paling depan. Ia juga aktif mengikuti kajian para Masyayikh di Masjid Nabawi. Namun setelah menikah, teman-temannya merasakan perubahan yang sangat mencolok dari perilakunya. Ia menjadi sering melamun. Di kelas selalu sambil chating. Ia pun mulai jarang kelihatan di masjid Nabawi. Itu semua berimbas pada prestasi akademiknya.

Lain Usman, lain lagi Hammad. Ia langsung menikah setelah dinyatakan lolos seleksi ke Madinah. Semangat! Mahasiswa angkatan lama ini bahkan baru bisa menyelesaikan jenjang S1 setelah delapan tahun lamanya. Sepertinya beban keluarga adalah penyebabnya. Kasihan memang, dua kali istrinya melahirkan secara sesar ia tidak bisa pulang mendampingi. Meskipun ia sangat produktif dalam dakwah dan bisnis, namun proses tholabul ilmi  yang menjadi amanahnya menjadi tidak maksimal.

Ada lagi yang lain. Rio namanya. Teman seangkatan saya ini, sekilas adalah mahasiswa yang cerdas, dilihat dari cara berbicara dan wawasannya. Namun ternyata prestasi akademiknya tak seperti penampakan dhohirnya. Nilainya pas-pasan. Bahkan sering absen kuliah. Ia pun jarang keluar dari kamar, apalagi aktif di beberapa organisasi yang ada. Saya tidak bisa memastikan apakah itu karena ia sudah punya tanggungan keluarga atau ada faktor lain. Namun yang saya ketahui ketika masuk tanggal tua ia harus kerepotan mencari pinjaman sana-sini untuk mengirim wesel ke Istri. Terlihat beban yang cukup berat menggantung di wajahnya.

Soal finansial, ada lagi yang lebih parah. Panggil saja namanya Abu. Mahasiswa asal Afrika Selatan ini terkenal sebagai rajanya hutang. Terlebih di kalangan mahasiswa Indonesia. Ia berpindah dari mahasiswa satu ke mahasiswa yang lain untuk meminjam uang, bahkan kepada orang yang belum ia kenal. Parahnya, ia juga terkenal bandel dalam membayar utang. Telat satu atau dua semester itu biasa. Ketika ditanya alasannya kenapa, ia selalu bercerita tentang anak dan istrinya di pelosok Afrika sana.

Banyak lagi kisah sedih yang lain. Ada yang sampai stres karena harus berpisah dengan istri. Ada yang sampai nggak kuat dan terpaksa pulang ke tanah air sebelum tamat. Ada juga kisah lucu bagaimana ketika pulang ke Indonesia ternyata sang anak yang sudah besar tidak mengenal bapaknya dan bertanya, "Om ini siapa ya?" atau malah lari terbirit-birit sambil menangis menuju sang Ibu. Semua memberikan pelajaran bahwa ada banyak konsekuensi pernikahan yang harus kembali dipertimbangkan (mlempem mode:on).

Tak terasa obrolan kami sudah berjalan dua jam lebih. Penjaga restoran sudah memberikan sinyal pengusiran (yalla shodiq..:p). Kajian nikah kami harus berakhir sampai disini. Namun saya sebagai moderator agak bingung mengambil kesimpulan. Antara yang awal dan akhir. Antara menikah atau fokus dulu kuliah. Antara menghormati anjuran para Ustadz dan mengakomodir teman-teman yang lagi bersemangat.

Akhirnya secara sepontan terlontar juga sebuah penyimpulan seadanya. Bahwa dalam masalah ini berlaku teori relativitas. Tergantung kemampuan dan kondisi kejiwaan masing-masing. Bagi yang terbiasa melakukan banyak hal dalam satu waktu, bercabang dalam pikiran, sepertinya menikah saat kuliah adalah anugerah di atas anugerah. Apalagi kalau sudah sangat kebelet (hehe..). Namun bagi para penuntut ilmu yang belum mampu, dalam berbagai sisinya, dan tidak bisa fokus menghadapi bermacam masalah, sepertinya pilihan untuk menunda menikah ada baiknya. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Yang penting sebelum memutuskan, silakan masing-masing bertanya kepada diri sendiri, di barisan mana ia berada. Tak lupa beristikharah juga, bertanya pada Yang Maha Tahu Segalanya. Allahu muwafiq ila aqwamit thoriq.
  
.:. Untuk kelima adikku tersayang, teruslah berjuang menggapai cita dan cinta. Tertunda bukan akhir segalanya..^^

(Termuat dalam Media Sosial Kompasiana click here)

Minggu, 09 Mei 2010

Selamat Jalan Kakek Tercinta


Kemarin siang, ketika mengendarai motor sepulang dari kuliah, tiba-tiba handphone saya berdering. Oh, SMS dari rumah rupanya. " Ass. Mbah Kakung Le, td jam 2. Pmakaman hr minggu, jam 2". Innaalillah! SMS dari Bunda tadi membuyarkan pikiran saya akan tugas paper dan skripsi yang menumpuk. Iya betul, Simbah saya tercinta telah berpulang ke rahmat Allah, setelah beberapa tahun terakhir terbaring sakit.

Perasaan tidak percaya bercampur duka menyelimut di hati dan kepala. Permintaan saya kepada Allah agar bisa mendampingi Simbah saat ia dipanggil ternyata tidak dikabulkanNya. Sedih memang, tapi semoga ini adalah yang terbaik untuk semua. Pulang ke Indonesia? Ah, rasanya tidak mungkin. Perjalanan pesawat dari Saudi ke Jakarta butuh waktu sepuluh jam. Belum perjalanan dari Jakarta ke Klaten. Seandainya dengan cepat saya bisa mendapatkan tiket pesawat, waktu tetap tidak cukup. Apalagi ujian mid semester pekan ini akan dimulai, pihak kampus tidak mungkin memberi izin. Akhirnya hanya dengan tumpahan doa kepada Allah dan menulis catatan ini, saya berusaha mengikis duka dan lara.

Nama lengkapnya adalah KH.Abdul Salam. Waktu kecilnya dulu ia dipanggil dengan nama "Temon". Ketika muda ia berguru kepada beberapa Kyai terkenal di Jatinom seperti KH.Abdul Hamid, KH.Abdul Khanan atau Mbah Bong. Bersama teman segenerasi seperti H.Ahmad Qomari, Alm Mbah Ahmad Sahlan dan Alm Mbah Muslih, ia belajar ilmu agama. Simbah juga ikut serta perjuangan Hizbullah melawan penjajah Jepang dan terlibat dalam pemberantasan PKI. Simbah pernah bercerita, bahwa suatu hari ia dikejar tentara dan lari bersembunyi di masjid sambil berdoa. Ketika para tentara itu masuk ke masjid, seolah mereka tidak melihat apa-apa dan langsung pergi lari terbirit-birit.

Para tetangga akrab memanggilnya dengan "Mbah Doel". Sedangkan jama'ah pengajian dalam forum resmi memanggilnya dengan sebutan "Kyai", bahkan sejak sebelum Simbah naik Haji. Mungkin lebih tepatnya Simbah adalah Kyai tanpa pesantren. Atau Kyai kampung. Kalau saya lebih suka menyebutnya sebagai seorang Da'i. Jumlah pengajian dan jama'ahnya memang cukup banyak, meliputi beberapa desa di kawasan kecamatan Jatinom dan sekitarnya. Diantaranya adalah Desa Plaeng, Pandeyan, Jagran, Dukuh, Tangkilan, Tanggu, Padas, Belan, Manton, Padangan dan Bonyokan. Tiap pekan ia menyambangi mereka untuk menyampaikan siraman rohani Islam. Saya masih ingat, di hari ketiga bulan Syawal, biasanya kami sekeluarga dibikin bingung oleh tamu yang sangat banyak jumlahnya. Rumah joglo Simbah yang cukup luas, penuh sesak dengan jama'ah. Mereka datang dari beberapa desa secara serentak menggunakan truk pasir. Memang agak udik kedengarannya.

Pekerjaan Simbah setiap hari adalah sebagai pedagang alat-alat besi dan pertukangan. Simbah mempunyai dasaran kecil di beberapa pasar. Sederhana memang. Tapi dari situlah, bersama sang istri ia berhasil membesarkan ketujuh anaknya menjadi sarjana. Oiya, Simbah juga sangat hobi membaca. Koleksi Kitab kuningnya lumayan banyak. Biasanya beliau mendapatkannya dari pusat penjualan buku bekas di Pandan Simping, Sriwedari atau Shoping Jogja, sambil kulakan dagangan. Begitulah hidupnya; siang berdagang, malamnya berdakwah.

Inilah yang paling berkesan bagi saya sejak kecil hingga kini. Ketika Simbah keluar malam untuk mengisi pengajian, sering sekali ia mengajak saya. Waktu itu sangat jarang jemputan. Paling-paling diantar naik sepeda ketika pulang. Akhirnya kami berjalan kaki. Menyusuri sawah dan gelap malam. Kadang ia menggendong saya. Kadang kalau lelah Simbah menyuruh saya berjalan sendiri, sambil mengajarkan sebuah doa, "Ya Qowiyyu Ya Matin". Biar kuat katanya.

Setelah sampai di desa tujuan, ada dua hal yang biasanya saya lakukan. Kalau isi pengajian Simbah menarik, seperti kalau ia menyitir kisah para Nabi dan Wali Songo, saya akan setia mendengarkan sampai akhir. Tapi kalau tidak, saya akan tidur di sampingnya dan bangun ketika cemilan pengajian dihidangkan. Merepotkan memang. Tapi beliau tetap sabar penuh pengertian. Bagi saya ia adalah seorang kakek yang sangat baik, murah senyum, jarang marah dan mudah untuk dimintai uang jajan.

Setelah saya masuk pesantren, mulai timbul sedikit gesekan di antara kami. Biasa, perbedaan pandangan antar generasi. Paham anti bid'ah yang saya dapatkan berbeda dengan pandangannya yang sangat tradisional. Suatu hari, ketika saya sedang libur dari pesantren di tahun pertama, desa sebelah mengadakan pangajian Maulid Nabi SAW dan Simbah diminta jadi pembicara utama. Waktu itu pihak panitia juga meminta saya menyampaikan kultum pembuka. Nah, dengan semangat anak SMP yang baru gede, yang baru dapat secuil ilmu, saya menyampaikan kultum tentang masalah bid'ah yang menyinggung hakikat Maulid Nabi. Langsung ketika itu dalam pengajian inti, Simbah "menyerang balik" apa yang saya sampaikan. Huh, malunya minta ampun!

Belakangan saya baru paham bahwa masalah Maulid Nabi tidak sesempit yang saya pikirkan. Para Ulama dunia pun berbeda pendapat soal ini. Apalagi peringatan Maulid Nabi di Indonesia sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kaum Sufi dan Tarekat di Timur Tengah, yang penuh dengan penyimpangan. Jadi sangat debatable dan tidak boleh sampai menjadi sebab perpecahan.

Masalah yang lain, Simbah sering didatangi orang untuk berobat. Aneh, memangnya dokter? Bahkan banyak yang datang dari luar kota. Dan yang paling sering adalah orang yang sakit gigi. Cara mengobatinya memang unik. Simbah menyuruh pasien untuk memegang bagian yang sakit, kemudian menuntunnya dengan sebuah doa. Setelah itu ia menulis sesuatu pada secarik kertas dan memakunya di dinding. Ketika itu, sering saya iseng mencabut paku tersebut. Yang mana, di kemudian hari pasien itu pasti kembali minta diobati lagi.

Belakangan saya baru tahu kalau doa yang Kakek gunakan untuk mengobati orang bukan sembarang doa, tapi adalah doa yang ma'tsur atau ada dasarnya dalam Hadits Shohih. Dan cara yang ia lakukan memang ada dalam metode pengobatan ala Nabi. Kecuali soal paku dan secarik kertas, sampai sekarang saya belum pernah mendapatkan dalilnya.
Begitulah, beberapa waktu berlalu, langkah kami belum bisa bertemu. Di desa, saya terkenal anti kenduri dan tahlilan. Sedangkan Simbah justru jadi tukang doa dan pimpinan.

Hingga akhirnya ketika saya mulai bergabung pada sebuah komunitas dakwah, dimana saya banyak belajar tentang fiqih dakwah, hubungan kami berangsur mesra. Apalagi kemudian saya melanjutkan kuliah ke Madinah, yang dari sana saya paham bahwa perbedaan itu suatu hal yang biasa. Kami pun saling memperlunak sikap, mendekatkan langkah, dan akhirnya ketemu di tengah.

Di usianya yang sudah tua, Simbah masih terus giat berdakwah. Hingga suatu hari terpaksa berhenti karena harus operasi kanker prostat. Setelah sembuh, ia kembali berdakwah. Kemudian kembali harus operasi karena penyakit Hepatitis. Sejak itu Simbah sudah tidak pernah keluar malam lagi. Aktivitas dakwah hanya dilakukan di masjid-masjid terdekat. Karena sudah sangat tua, waktu itu hampir 80 tahun, kadang isi pengajian yang ia sampaikan kehilangan arah. Sering Simbah menyampaikan khotbah Jum'at hampir satu jam lamanya. Tentunya para jama'ah menjadi sangat gerah. Akhirnya pihak keluarga memohon langsung ke Ta'mir Masjid agar Simbah tidak dijadwal lagi untuk berkhutbah.

Mulai saat itu, Simbah hanya tinggal di rumah. Aktivitasnya bergulir dari membaca buku, mengaji, makan, sholat dan istirahat. Sambil menjaga rumah saat semua keluarga mencari nafkah dan cucu-cucu sedang sekolah. Liburan musim panas tahun lalu, saya masih sering bersamanya. Tiap pagi saya membantu membopongnya untuk dimandikan. Ketika mengobrol, apa yang dibicarakan Simbah sudah agak samar. Saya hanya bisa menyimpulkan sekilas bahwa ia bertanya tentang masalah agama atau menceritakan pengalamannya ketika naik Haji. Terbetik dalam benak hati saya, sepertinya usia Simbah tak akan lama.

Dan benar saja, kini Simbah telah tiada. Pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan pesan kepada saya dan kita semua bahwa dunia hanyalah sementara. Bahwa pilihan hidup menjadi pendakwah adalah pilihan mulia. Bahwa estafet perjuangannya harus diteruskan dan dilanjutkan. Sungguh, kalau bukan karena harapan akan adanya pertemuan kedua nanti di surga, empedu hati ini akan pecah menahan sedih berpisah dengannya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu…