Kamis, 14 Januari 2016

Wahai Dakwah,Jangan Rebut Suamiku Dariku!


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (QS. At-Tahrim: 6)

Kisah nyata ini, terjadi di sebuah komunitas ilmu dan dakwah. Yang mana ada seorang istri dari mereka yang sudah menikah bertahun-tahun, namun belum bisa membaca surat Al-Fatihah. Bukan hanya tidak mengenal tajwid, Al-Fatihah yang tanpanya sholat tidak syah, ia tidak hafal dan terbata-bata membacanya.
Padahal konon sang suami adalah seorang kandidat doktor ilmu agama. Pemahaman dan komitmen dakwahnya juga tidak diragukan. Entah karena terlalu rajin menulis desertasi atau sibuk berdakwah, musibah itu benar-benar terjadi dalam keluarganya.
Realita itu baru terungkap saat di komunitas mereka diadakan halaqah tahfizh Al-Qur’an bagi para istri. Dari sinilah terpaksa pimpinan komunitas tersebut menetapkan kurikulum khusus yang wajib diajarkan kepada para istri, disertai mekanisme evaluasi atau ujian secara periodik dan berkala. Jika salah seorang istri tidak lulus, maka ada konsekuensi khusus untuk suaminya.
Itu baru satu kisah. Ada banyak cerita yang lain tentang para aktivis dan da’i, yang mungkin karena terlalu sibuk berdakwah di masyarakat, terlalu banyak amanah di organisasi, ia lupa mendakwahi dan mengajari ilmu orang terdekatnya: istrinya sendiri. Ironis memang, tapi itulah faktanya.
Seperti seorang istri yang mengeluhkan suaminya yang tidak pernah ada di rumah. Dari pagi hingga siang bekerja di luar. Baru pulang sebentar, sorenya sudah pergi lagi hingga larut malam. Alih-alih mau membantu kerjaan istri, saat ada sedikit waktu di rumah, ia memilih khusyu’ di depan laptop atau gadget. “Afwan Mih, Abi lagi banyak amanah nih!”, begitu jawabnya ketika ditanya.
Ada lagi yang sudah lama memendam sebel kepada suaminya, yang sepanjang pekan tak pernah ada waktu untuk keluarga. Senin sampai Jum’at sibuk bekerja. Sabtunya adalah jadwal rutin untuk liqo, rapat dan ngisi kajian umum. Hari Ahad yang tersisa, lebih sering terpakai untuk hadir kondangan, seminar, daurah, tabligh akbar, atau acara insidental yang lain.
Atau ada juga yang gundah tentang suaminya yang penghafal Al-Qur’an, namun sepanjang usia pernikahannya, belum pernah diajak tadarus bareng. Jangankan tahsin berdua atau saling menyimak hafalan, sang suami yang sering menjadi imam qiyamullail di berbagai acara dakwah itu, hampir tak pernah menjadi imamnya saat tahajud di rumah.
Beda lagi yang terhimpit masalah ekonomi. Saat suaminya yang belum mapan terlalu sering bepergian, tanpa meninggalkan uang pegangan. Mau berangkat khuruj katanya. Awalnya cuma sepekan. Lalu bertambah sebulan, kemudian menjadi berbulan-bulan. Hingga sang istri pun menanggung malu karena harus menjadi beban bagi kerabat dan tetangga. Tentu alasannya adalah perjuangan. Namun ceritanya akan lain, jika semua diatur dan disiapkan.
Lebih parah dari itu, cerita tentang seorang istri pendakwah ternama yang terjerumus dosa. Pesona keilmuan sang suami ternyata hanya benderang di depan para mad’u-nya, namun meredup dalam kehidupan berkeluarga. Ia tak pernah dinasehati, diajak berdiskusi, apalagi belajar mengaji. Walhasil, bukan hanya pakaian dan cara berhias yang jauh dari kriteria agama, sang istri pun terlibat perselingkuhan dengan teman lama. Wal ‘iyadzu billah.
Itulah beberapa cuplik cerita dari fenomena yang ada. Para istri aktivis itu, jika bukan karena rasa malu, mungkin mereka akan pasang status besar-besar, “Aku juga butuh ilmumu!”. Atau membentang spanduk lebar-lebar, “Aku juga butuh dakwahmu!”. Yang lebih ekstrim, mereka akan menyalahkan dakwah dan berteriak keras-keras, “Wahai dakwah, jangan rebut suamiku!”.
Sayangnya, sering para suami hanya bisa menjawab jeritan hati para istri tersebut dengan satu kata: sibuk. Padahal Rasulullah 'alaihis sholatu wassalam sebagai qudwah utama para aktivis, di tengah kesibukannya sebagai Nabi, pemimpin negara, bahkan panglima perang sekalipun, ia tetap meluangkan waktu untuk mentarbiyah dan mendakwahi istri-istrinya. Para ummahatul mukminin itu, tidak hanya kebanjiran hormat, namun juga berkelimpahan ilmu dan nasehat.   
Banyak sekali fragmen tarbiyah Rasul 'alaihis sholatu wassalam untuk mereka. Seperti Aisyah binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma, yang tidak hanya sekedar menjadi zaujah bagi Rasulullah, tetapi juga sebagai murid utama dan tersetia. Dia merasakan betul “ada bedanya” menjadi istri seorang pendakwah, karena sang suami sangat giat mengajarinya berbagai disiplin ilmu seperti akhlak, aqidah, fiqih, faraidh, dan tafsir.
Hingga Aisyah pun menjadi sosok perempuan Islam yang paling faqih, yang menjadi rujukan keilmuan para sahabat pada waktu itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Atho’ bin Abi Rabbah radhiyallahu ‘anhu, “Aisyah adalah manusia yang paling paham dengan agama, paling berilmu dan paling baik pendapatnya”.
Aisyah juga menjadi sumber utama periwayatan hadits, tercatat sebanyak 2210 hadits telah diriwayatkan oleh para sahabat dari Aisyah. Hingga Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tidaklah kami mendapatkan suatu masalah tentang hadits, lalu kami datang dan bertanya kepada Aisyah, kecuali pasti kami mendapatkan jawabannya”.
Takdirnya sebagai perempuan, tak menghalanginya berkiprah dalam kancah ilmiah. Hingga dari didikan Aisyah telah lahir para imam dan ulama terkemuka dari kalangan Tabi’in seperti: ‘Urwah bin Zubair, Masruq bin Ajda’, dan Qosim bin Muhammad, yang menimba ilmu dari Aisyah di balik hijab di Masjid Nabawi.
Saat sang istri berbuat kesalahan, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam juga tidak segan dan bosan untuk mengingatkan. Tentunya dengan kelemah-lembutan. Seperti suatu hari ketika Aisyah membeli kain penutup yang bergambar makhluk hidup. Sebagai pengingkaran, Rasulullah tidak jadi masuk dan berdiri di depan pintu.
Saat itu Rasulullah hanya terdiam dan menampakkan ekspresi tak suka. Aisyah pun merasa bersalah dan berkata, “Wahai Rasululullah, aku bertaubat kepada Alloh dan Rasul-Nya, apa salahku?”. Maka Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bertanya dengan lembut tentang kain bergambar itu. Aisyah pun menjelaskan semampunya.
Hingga Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersabda, “Sesungguhnya para pembuat gambar ini akan diadzab di hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka: hidupkanlah apa yang telah kalian buat!”. Lalu Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam melanjutkan, “Sesungguhnya rumah yang terpajang di dalamnya gambar mahluk hidup, tidak akan dimasuki Malaikat” (HR. Imam Bukhari).
Lain lagi para aktivis yang pandai berkilah. Saat dikritisi tentang istrinya yang bertolak belakang dengan apa yang diperjuangkan, cepat-cepat berapologi dengan kisah Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam. Alih-alih melakukan evaluasi dan introspeksi diri, mereka seperti terhibur dengan kekufuran para istri utusan Alloh itu.
Padahal di belakang cerita pengkhianatan mereka berdua, ada sejarah panjang ratusan tahun kegigihan dan kesabaran Nabi Nuh dan Nabi Luth dalam mendakwahi keluarga. Apalagi para Ulama bersepakat, bahwa pengkhianatan dan kekufuran keduanya bukan dalam baghyu dan fahisyah.
Allah ta’ala telah mengingatkan para suami untuk serius menjaga istrinya dari siksa neraka. Bahkan sebagai penekanan, deskripsi tentang dahsyatnya neraka begitu jelas disini, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).
Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam juga telah mewanti-wanti, “Sesungguhnya Alloh akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang yang dipimpinnya, apakah ia menjaganya atau menterlantarkannya. Hingga Alloh akan bertanya kepada para lelaki tentang istrinya”. (HR. Ibnu Hibban).
Meluangkan waktu untuk mentarbiyah istri menjadi sangat penting lagi, jika para suami menyadari bahwa itu bukan sekedar kewajiban, namun kebutuhan yang sulit tergantikan. Karena para istri adalah al-madrasah al-ula (sekolah yang pertama) bagi anak-anak. Hasil didik macam apa yang akan lahir jika sekolahnya tak terawat bahkan rusak?

Cerita-cerita ironis di awal tadi mungkin hanya secuil fenomena yang menggejala. Semoga yang terjadi pada sebagian besar keluarga dakwah tidak demikian adanya. Seorang aktivis sejati tentu memahami bahwa istrinya adalah objek dakwah yang utama. Ia sadar betul bahwa tahapan dakwah kedua setelah memperbaiki diri sendiri (islahun nafs) adalah membina keluarga yang Islami (takwin bait muslim), bukan yang lainnya.
:: Artikel ini ditulis untuk situs dakwah www.manhajuna.com

Sabtu, 09 Januari 2016

BEASISWA S1 AL-JOUF UNIVERSITY, SAUDI ARABIA


Universitas Al-Jouf adalah sebuah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi dibawah Kementerian Pendidikan Arab Saudi dan didirikan pada tahun 2005. Universitas ini terletak di antara Kota Sakaka dan Dumat Al-Jandal, Provinsi Jauf. Saat ini sedang membuka pendaftaran untuk jenjang S1 bagi calon mahasiswa non Arab saudi. Pendaftaran dimulai pada: 6 – 30 Januari 2016.

Beasiswa ini dibuka untuk berbagai jurusan, antara lain: Syariah dan Hukum, Islamic Studies, Bahasa Arab, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Komputer dan Jaringan, Informatika, Sistem Informasi, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Inggris, Akuntansi dan lain lain (lebih lengkapnya dapat dilihat disini).

Berikut ini persyaratan untuk calon penerima beasiswa dari luar Arab Saudi:
- Lulusan dari SMA/MA atau yang sederajat.
- Usia min. 17 tahun dan tidak lebih dari 25 tahun pada saat pengajuan beasiswa.
- Tidak dalam status sebagai penerima beasiswa dari institusi apapun di Arab Saudi.
- Tidak pernah diberhentikan dari universitas yang berada di Arab Saudi.
- Tidak pernah terlibat tindakan melanggar hukum (disertai SKCK dari kepolisian).
- Mendapat persetujuan untuk belajar di Arab Saudi dari Pemerintah Negara pendaftar.
- Pendaftar wanita harus didampingi oleh mahrom. Status mahrom bisa sebagai penerima beasiswa atau yang memiliki izin tinggal atau sedang bekerja di Arab Saudi.
- Menyertakan surat keterangan sehat sesuai dengan peraturan yang berlaku.
- Menyertakan surat rekomendasi dari salah satu lembaga, yayasan atau institusi yang diakui oleh Universitas Aljouf.
- Menyertakan salinan ijazah yang telah di legalisir oleh Keduataan Besar Arab Saudi di negara pendaftar.

Berkas-berkas yang harus dikirim:
- Scan terjemahan ijazah SMA
- Scan terjemahan transkrip nilai
- Scan paspor yang masih berlaku
- Scan terjemahan SKCK
- Scan 2 rekomendasi dari lembaga Islam atau perseorangan.

Semua berkas persyaratan harus discan dengan format PDF kemudian dikirim melalui website http://dar.ju.edu.sa/scholar/scholarship/gate.aspx

Info selengkapnya dapat dilihat disini

(Manhajuna)



من أسلوب النقد التربوي: معرفة مجتمع المنقود واتجاهاته وأفكاره


الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وتابعيهم ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد: فإن من الأساليب الفاعلة في التربية والتعليم أسلوب النقد التربوي للقضايا والسلوكيات المختلفة، سواء صدرت على مستوى الفرد أو على مستوى الجماعة، كما في قصة الثلاثة الذين جاءوا إلى بيته صلى الله عليه وسلم وسألوا عن عمله، فكأنهم تقالّوه.

فقال أحدهم: لا أتزوج النساء، وقال الآخر: لا آكل اللحم، وقال الثالث: لا أنام على فراش، فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم، فحمد الله وأثنى عليه، ثم قال : (( ما بال أقوامٍ قالوا كذا وكذا، لكني أصلي وأنام، وأصوم وأفطر، وأتزوج النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني) أخرجه البخاري.


ودراسة أي شخص ونقده، تقتضي التنويه بالعصر والمجتمع الذي نشأ فيه، ومدى التأثُّر والتأثير. فالإنسان ابن بيئته، وملاحظة تأثير العصر في تكوين شخصياته تساعد على فهم منهجه العلمي والتربوي، ومقارنة الكلام النظري بالممارسة الفعلية، وفهم الجو المحيط ببعض المواقف، فالأفراد لا يخرجون عن إطار عصرهم الزماني والمكاني. كما تقتضي معرفة اتجاهاته الفكرية ومذهبه في الفقه والعقيدة.

أهمية معرفة حالات مجتمع المنقود وفكره في النقد

يقول ابن ناصر الدين رحمه الله: "والكلام في الرجال ونقدهم يستدعي أموراً منها: أن يكون المتكلم عارفاً بمراتب الرجال وأحوالهم في الانحراف والاعتدال، ومراتبهم من الأقوال والأفعال، والمعرفة بالأسباب التي يجرح بمثلها الإنسان، وإلا لم يقبل قوله فيمن تكلم، وكان ممن اغتاب وفاهَ بمحرم " .

ومن هنا ذكر أهل العلم أن مما يجب على المعلم العناية به في عمله التعليمي والتربوي أن يتعرف على تلاميذه من جميع النواحي، يقول ابن جماعة رحمه الله: "وينبغي على المعلم أن يستعلم أسماءهم وأنسابهم ومواطنهم وأحوالهم". 

لأن بهذه المعرفة يمكنه أن يوجه عملية التعليم وِجْهتها الصحيحة، وينقد ما يراه فيها من ملحوظات بما يناسب الحال والمقام، ذلك أن "لكل فرد عالمه الخاص الفريد، وشخصيته المتميزة عن باقي الأفراد، وله حاجاته وقدراته وميوله، وهو يختلف عن كل من سواه بسبب سماته الموروثة، وخصائصه المكتسبة". 

فإذا عرف الناقد حال الشخص والمجتمع كان ذلك عوناً له على اختيار الوقت المناسب والمكان المناسب والأسلوب المناسب لتوجيه النقد إليه

أصناف الأعلام نحو اتجاهات مجتمعهم

-         منهم عالم جمهور، ينساق وأهواء العامة، لا يبغي غير كثرة السواد.
-         وعالم بلاط، يتملق أُولي السلطان، ويتسلق المناصب أينما كان، خبير في الرقي للمناصب العلى
-        ومن الأعلام من هو عالم ربّاني، غايته الدعوة لله لا لنفسه أو طائفته، يتحرّى مواقع الخَلل ومواطن الزّلل في مجتمعهم، ثم يبحث الشفاء فيعرضه، ولو قيل: هو مرّ، لا يخشى لومة بين الملأ، ولا غضبة أولي الملأ

حالات المجتمع واتجاهاته التي قد تؤثر على المنقود

الحالة السياسية

إن الحالة السياسة في المجتمع تنبني عليها الحالات الاجتماعية والدينية والعلمية، ولها أثر كبير في شخصية المنقود وأفكاره العلمية، فالأعلام الذين يقومون في دولة ديموقراطية أو ليبرالية غالبا يختلفون مع الذين يقومون في دولة متمركزية أو على نظام المملكة في طريقة عرض آرائه.


وفي جانب آخر قد تكون انتاجات المنقود الفكرية تلبية وإجابة على القضايا والمشكلات السياسية الواقعة في عصره. على سبيل المثال: مصنفات شيخ الإسلام ابن تيمية فيما يتعلق بالسياسة الشرعية والجهاد تأثر – قل أم كثر – بالحالة السياسية الموجودة في عصره، حين اجتاح التتار العالم الإسلامي، واستولوا على بغداد عاصمة الخلافة، وقتلوا خليفة المسلمين المستعصم بالله، حتى بقيت بغداد خاوية على عروشها، ليس بها أحد إلا الشاذ من الناس، والقتلى في الطرقات كأنها التلول في سنة (656هـ).



كما أن العالم الإسلامي تعرض أيضاً للغزو الصليبي الحاقد، فاستولى الصليبيون على كثير من ديار المسلمين، واستمرّت الحروب بينهم وبين المسلمين قرنين من الزمان، يصيبون من المسلمين، ويصيب المسلمون منهم، إلى أن منّ الله تعالى بتطهير البلاد منهم في سنة (690هـ) على يد الملك الأشرف بن قلاوون.



الحالة الدينية 

إن مما يؤثر على مؤلفات العالم هي الحالة الدينية المحيطة به، وقد يكون كتابه ردا على الانحرافات والمنكرات الواقعة في مجتمعهم. مثل في عصر ابن قيم الجوزية حيث ساءت الحالة الدينية في دمشق، وضعف الوازع الديني في نفوس المسلمين، وارتكبت الكثير من الذنوب، وشاعت المعاصي والمنكرات بين المجتمع.


وقد انتشر بين المسلمين في عصره التعصّب المذهبي، وأدّى إلى كثير من الخلافات بين العلماء أنفسهم، حتى إن الجامع الأموي في دمشق كان يوجد به إمام لكل مذهب، ولكل إمام محراب.



كما انتشرت في ذلك الوقت بعض الفرق الضالّة التي تنتسب كذبا إلى الإسلام، مع شدّة عداوتها وحربها لأهله، وعلى رأس هذه الفرق: الرافضة والنصيرية. وإلى جانب وجود هذه الفرق المعادية للإسلام، وجدت في أوساط الناس البدع والخرافات، والاعتقاد في الأشخاص من المشعوذين.



ولا شكّ أن مثل هذه البيئة وما فيها من مفاسد ومخالفات شرعية، من أكبر العوامل التي تحرّك الدعاة المخلصين والعلماء العاملين للقيام بمحاربة هذه المنكرات، ومحاولة إصلاح الناس إلى أهدى السبيل.


الحالة العلمية 

إن الحالة العلمية الموجودة في المجتمع له دور كبير في جودة انجازات المنقود العلمية وكثرتها، كما هو الإمام الذهبي فإن خلف انتاجاته العلمية النفيسة هو ازدهار الحركة العلمية في الشام، فأصبحت مقصدا لكثير من العلماء وطلاب العلم الوافدين من سائر أقطار العالم الإسلامي.


ومن مظاهر ازدهار الحركة العلمية في ذلك العصر كثرة المؤلفات النافعة القيمة. قد كانت تلك الفترة التي عاش فيها الإمام الذهبي فترة ذهبية في حياة الأمة الإسلامية، من حيث وفرة الإنتاج العلمي وغزارته، مع تنوّع الفنون التي تناولتها المؤلفات آنذاك.



ومن ذلك: كتب الشروح الحديثية، مثل (شرح البخاري) لقطب الدين الحلبي (ت735هـ)، و(شرح الترمذي) لابن سيد الناس (ت734هـ) وكلاهما لم يكمل. ووجدت كتب الرجال، وعلى رأسها (تهذيب الكمال) للحافظ المزي (ت742هـ)، و(الميزان).



وكذا وجدت كتب الأطراف الحديثية، وأهمها في ذلك العصر: (تحفة الأشراف) للحافظ الْمِزِّي. والكتب التاريخية التي جمعت حوادث تلك الفترة وتواريخها وما قبلها، وعلى رأسها (البداية والنهاية) للحافظ ابن كثير. كما ألّفت في اللغة، وأهمها: (لسان العرب) للعلامة ابن منظور. إلى غير ذلك من المؤلفات الكثيرة النافعة.


ويشير الحافظ ابن كثير إلى كثرة العلم في الشام أيام الإمام الذهبي وشيوخه، ومن عوامل ازدهار الحركة العلمية آنذاك: 
1- رعاية سلاطين الدولة وملوكها للعلم وأهله، وتشجيعهم للنهضة العلمية؛ فقد كان الملك الأشرف شهماً، شجاعاً كريماً جواداً لأهل العلم، لا سيما أهل الحديث. وأما الملك الكامل فإنه كان يحب العلماء ويسألهم أسئلة مشكلة.
2- سقوط الخلافة الإسلامية، وضياع بغداد عاصمة الخلافة الإسلامية وخرابها، الأمر الذي أدّى إلى انتقال النشاط العلمي إلى مصر والشام.

3- ذهاب صفوة علماء الأمة الإسلامية ومفكريها في أثناء هذه الهجمة، وكذا ضياع كثير من الكتب والمؤلفات القيمة في تلك الهجمة، الأمر الذي وَلَّد شعوراً لدى علماء الأمة في ظل دولتهم الجديدة بضرورة تحمّل المسؤولية في إحياء ما فقدته أمتهم من تراث ومعرفة، فتنافسوا في التأليف والإبداع. 

الحالة الاجتماعية والاقتصادية 

إن التركيبة الاقتصادية - الاجتماعية التي من خلالها يتم ترقية المستوى العلمي في المجتمع لها أثر على الأشخاص، إذ أن الظروف الاقتصادية أو عدم توفر الأموال الكافية لديهم قد يمنعهم عن التركيز والإتقان في عمليتهم العلمية، وقد تغير هذه الظروف غرضهم في التأليف، مثل الذي يؤلف كتابا لأجل المال ليس لأجل العلم ونشر الحق.


بخلاف الذي عاش تحت السلطات التي تهتم بالعلم والتعليم، فتخصص لهم الأموال الكافية لإجراء البحث العلمي، وتبني لهم المراكز، وتوفر لهم المقابل المادي على انتاجهم الفكري، تكون لها تأثير كبير الجودة والإتقان.



وتهم أيضا معرفة أعمال العلماء المهنية، فبعضهم يعتمدون في معيشتهم على الحرف والتجارة والاعمال اليدوية وغيرها من مصادر الدخل الأخرى المختلفة، وكذلك الأخلاق التي تمتع بها العلماء في أثناء ممارستهم لهذه الأعمال الحرفية والتجارة والعوامل التي جعلتهم على مثل هذه الأعمال.



كما تهم معرفة العلاقات الاجتماعية للعلماء، مثل علاقتهم مع أهلهم، وعلاقتهم مع بعضهم البعض، وعلاقتهم مع طلابهم، ومع عامة الناس، وكذلك علاقتهم الاجتماعية مع الخلفاء والأمراء.

معرفة اتجاهات المنقود الفكرية 

إن مما ينبغي أن يعرفه الناقد هو اتجاه المنقود الفكري، حيث أن معرفته تساعد على فهم آراء المنقود واكتشاف أغراضه المخفية، وبالتالي يستطيع من خلالها القيام بالرد الوافر له.


فمثلا الذي يريد أن ينقد أبا طالب المكي، لا بد أن يعرف أنه من كبار المرجعيات الصوفية، وقد عاش في القرن الرابع الذي اضطربت أحوال المسلمين، وقد انتشر في العالم الإسلامي سب الصحابة من بني بويه، وبني حمدان، والفاطميين. ومع ذلك لم يذكرهم أبو طالب، أو يحذر منهم مع أنه ذكر بعض الطوائف وحذر منها .



وغيره ممن تأثر بالصوفية مثل أبو حامد الغزالي الذي عاصر الحروب الصليبيين، حيث يقول زكي مبارك: "بينما كان بطرس الناسك يقضي ليله ونهاره في إعداد الخطب والرسائل يحث أهل أوروبا فيها على احتلال أقطار المسلمين كان حجة الإسلام الغزالي غارقًا في خلوته مُنكبًّا على أوراد المبتدعة، لا يعرف ما يجب عليه من الدعوة والجهاد".



هناك بعض الاتجاهات الفكرية والمذاهب في الفقه والعقيدة التي لها تأثير كبير على العلماء ومؤلفاتهم
والمذاهب في العقيدة: مثل الشيعة الإمامية الاثنا عشرية، والإباضية، والمعتزلة، والجهمية، والزيدية، والأشاعرة، والماتريدية، والخوارج، والجبرية، والقدرية

والطرق الصوفية: مثل الطريقة الدسوقية، الطريقة البرهانية، الطريقة الشاذلية، الطريقة القادرية، الطريقة التيجانية، الطريقة الرفاعية

والاتجاهات المعاصرة: مثل العلمانية، الصهيونية، والوطنية أو القومية، اللبرالية، والشيوعية أو اللادينية، حركة تحرير المرأة . والحركات الباطنية: مثل اليزيدة، والنصيرية، والإسماعلية، والبهائية، والقاديانية والقرامطة. 

والحركات الدعوية المعاصرة: مثل الدعوة السلفية، والإخوان المسلمون، وجماعة التبليغ، وحزب التحرير، وأنصار السنة المحمدية، والجماعة الإسلامية. 

والمذاهب الفقهية: وأشهرها وأكبرها: المذهب الحنفي، نسبة إلى أبي حنيفة النعمان، والمذهب المالكي، نسبة إلى مالك بن أنس، والمذهب الشافعي، نسبة إلى الشافعي، والمذهب الحنبلي، نسبة إلى أحمد ابن حنبل. وهذه المذاهب هي مدارس فقهية، اتفقت في أصول الأحكام الكلية، واختلفت في الفروع الفقهية،ولا يوجد بينها اختلاف في العقيدة، كما أن هناك مذاهب فقهية أخرى غير هذه الأربعة لكنها لم تنتشر ولم يحصل لها الاشتهار مثل اشتهار هذه المذاهب الأربعة، مثل  المذهب الظاهري، والمذهب الأوزاعي، والمذهب الليثي وغيرهم

أهم المصادر والمراجع

-1  البداية والنهاية، لعماد الدين أبي الفداء ابن كثير، تحقيق: أحمد أبو ملحم، علي نجيب عطوي وآخرون، نشر: دار الكتب العلمية(بيروت)1/1405هـ
-2  الرد الوافر، لابن ناصر الدين الدمشقي، تحقيق: زهير الشاويش، نشر: المكتب الإسلامي(بيروت) د.ت
-3  حياة الإمام ابن قيم الجوزية، لمحمد مسلم الغنيمي، نشر: المكتب الإسلامي (بيروت) 2/1401هـ
-4  الذهبي ومنهجه في تاريخ الإسلام، بشار عواد، نشر: مطبعة عيسى البابي (القاهرة) 1/1976م
5-النقد التربوي في المنهج الإسلامي، حسين نفاع الجابري، رسالة دكتوراه، منشورة، قسم التربية كلية الدعوة بالجامعة الإسلامية، 1431هـ
6- الحياة الاجتماعية للعلماء من خلال كتابي سير أعلام النبلاء للذهبي والمنتظم في تاريخ الأمم والملوك لابن الجوزي، عبد الرحمن أحمد المختار، رسالة الماجستير، غير منشورة، 1999هـ
-7  ذيل طبقات الحنابلة،أبي الفرج عبد الرحمن بن أحمد ابن رجب الحنبلي، تحقيق: محمد حامد الفقي، نشر: مطبعة السنة المحمدية (القاهرة)1/ 1372هـ
-8  تاريخ المذاهب الإسلامية، محمد أبو زهرة، دار الفكر العربي، القاهرة
-9  تذكرة السامع والمتكلم في أدب العالم والمتعلم، إبراهيم بن سعدالله ابن جماعة
-----------------------------------------------------------------

Makalah ini dipresentasikan di kelas Program Doktoral Tarbiyah Islamiyah, Universitas Islam Madinah, di bawah bimbingan Syekh Prof. Dr. Abdurrahman Al-Anshory


Selasa, 05 Januari 2016

Beasiswa Al-Imam University Cabang Indonesia (LIPIA)


Alhamdulillah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, yang merupakan cabang dari Universitas Al-Imam Muhammad bin Suud, Riyadh, Arab Saudi, kembali membuka pendaftaran mahasiswa baru jenjang I’dad Lughowi dan Takmily tahun ajaran baru 1437 Hijriyah.

A. Waktu Pendaftaran
Hari: Senin – Kamis
Tanggal: 19 – 22 Rajab 1437 H
Bertepatan dengan: 27 – 30 April 2016, Pukul 08.00 – 14.00 WIB

B. Tempat Pendaftaran
Perpustakaan LIPIA (Gedung B lantai dasar)
Jl. Buncit Raya No.5 A Ragunan, Jakarta Selatan PO.Box. 3345 Jakarta 12540
Telp.7814485-7814486, Website: www.lipia.org

C. Masa Kuliah I’dad Lughowi dan Takmili
1. I’dad Lughowi (Persiapan Bahasa)
    Masa kuliah: 2 tahun (4 semester)

2. Takmili (Pra Universitas)
    Masa kuliah: 1 tahun (2 semester)

D. Syarat Pendaftaran
- Calon Mahasiswa sudah tamat Madrasah Aliyah atau yang sederajat. 
- Khusus Takmili harus lulus I’dad Lughowi LIPIA.
- Nilai rata-rata:
  • I’dad lughawi: Minimal nilai rata-rata 80% (Jayyid Jiddan/sangat baik).
  • Takmily: Minimal nilai rata-rata 90% (Mumtaz/istimewa).
- Sehat jasmani & rohani.
- Mampu berbahasa arab dengan baik (baca, tulis dan bicara).
- Berkelakuan baik.
- Belum pernah diberhentikan (DO) dari LIPIA.
- Benar-benar memiliki kelonggaran waktu untuk belajar/kuliah.
- Hafal minimal 2 juz untuk Takmili (lulus I’dad).
- Lulus tes tulis dan tes lisan.

E. Berkas-Berkas yang Dibutuhkan
- Foto copy Ijazah yang sudah dilegalisir dan Asli (Asli sebagai bukti kevalidan saja).
- Foto copy transkrip nilai dan raport terakhir dan asli (Asli sebagai bukti kevalidan saja).
- Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari Kepolisian yang masih berlaku / SKCK (asli).
- Surat Keterangan Sehat dari Dokter yang masih berlaku (asli).
- Foto copy KTP yang masih berlaku.
- Pas Foto terbaru: (4×6) 2 lembar, (3×4) 2 lembar, (2×3) 2 lembar.
- Rekomendasi dari Sekolah, Yayasan, atau tokoh masyarakat (kalau ada).

F. Fasilitas Pendidikan
- Dosen/Native Speaker dari Timur Tengah.
- Kurikulum standar Saudi Arabia.
- Ijazah resmi dari Universitas Al-Imam Muhammad bin Saud, Riyadh.
- Biaya kuliah gratis.
- Gedung perkuliahan gratis.
- Perpustakaan dan Laboratorium Bahasa.
- Asrama mahasiswa (terbatas).
- Uang saku bulanan.
- Buku pegangan dan diktat kuliah.
- Peluang melanjutkan S1 di LIPIA, dan S2/S3 di Saudi Arabia.
- Tidak ada ikatan dinas berupa apa pun.

Catatan:
- Usia Ijazah tidak melebihi 3 tahun.
- Tidak diperbolehkan menggunakan formulir pendaftaran lama.
- Untuk info waktu tes bisa dilihat di kartu peserta tes, setelah lolos registrasi

(hikmatia/manhajuna)

Sabtu, 02 Januari 2016

KE MADINAH, KAMI KEMBALI...




Ke Madinah kami kembali...

Seperti ular kembali ke sarangnya

Seperti Iman yang selalu merindukannya

Seperti Islam yang tetap utuh padanya



Ke Madinah kami kembali...

Menengok kekasih kami yang tercinta

Bersujud di masjidnya seribu mulia

Berjuang, mengikuti jejak langkahnya



Ke Madinah kami kembali...

Mengenangi Hamzah, sang penghulu syuhada

Meneladani Mush'ab, sang duta agama

Menelusur episode cinta para sahabat setia



Ke Madinah kami kembali...

Menapak langkah para qiyadah dulu kala

Menjalin erat ukhuwah dan cinta

Duduk bersama, merangkai cita dan asa



Ke Madinah kami kembali...

Semoga Alloh ta'ala meridhoi

Azzam kuat dalam dada kami

'Tuk berkhidmat bagi umat dan negeri



(Dibacakan pada pembukaan MUSYPIP 25/10/2015 di Hotel Taybah Inn, Madinah Munawwarah)

Minggu, 20 Desember 2015

عرض عن المنهج الإثنوغرافي وتطبيقاتها في مجال التربية والتعليم






























Materi ini dipresentasikan di kelas Program Doktoral Tarbiyah Islamiyah, Universitas Islam Madinah, di bawah bimbingan Prof. Dr. 'Ali Ibrahim Zahrani. Untuk mendapatkan materi dalam format Power Point silakan click: http://www.slideshare.net/hakimuddinsalim/ss-56316725