Minggu, 13 Desember 2015

7 Pendapat Cemerlang Umar yang Direstui Al-Qur'an


Membaca kisah perjalanan hidup para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum terasa seperti menyelam di telaga biru yang jernih nan sejuk. Cerita penuh hikmah mereka begitu dalam menginspirasi jiwa-jiwa yang dahaga suri tauladan. Salah satu telaga biru yang perlu diselami itu adalah Umar bin Khattab. Seperti yang diriwayatkan oleh Hudzaifah, bahwa suatu hari Rasulullah ‘alahis sholatu wassalam pernah bersabda, “Ambillah teladan dari dua orang setelahku, yaitu: Abu Bakar dan Umar” (HR.Imam Ahmad).
Ia adalah Abu Hafshah ‘Umar bin Al-Khattab Al-‘Adawi Al-Qurasyi. Satu-satunya sahabat yang berani hijrah ke Madinah secara terang-terangan itu, digelari Al-Faruq oleh Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam. Dengan sangat lugas ia pilah kebenaran dan kebathilan. Ia selalu berdiri tegak di sisi Al-Qur’an. Tegas menerapkan hukum-hukumnya, tidak sudi untuk selangkah di belakangnya atau selangkah di depannya. Bukan saja orang-orang kafir yang ketakutan tiap berhadapan dengannya, bahkan syetan pun lari terbirit-birit jika berpapasan di jalan.
Umar lah pencetus dan pengusul utama pembukuan Al-Qur’an. Ia juga Khalifah Rasyidah kedua yang menjadikan para penghafal Al-Qur’an sebagai dewan penasehat dan majelis musyawarah kekhalifahannya. Dalam majelisnya, seringkali Umar meminta Abu Musa Al-Asy’ari untuk membacakan beberapa ayat sebagai pelipur dan pengingat.
Meski sangat menghormati para Ahlul Qur’an, Umar tidak suka jika mereka mengharap dan menggantungkan hidup dari orang lain. Sebagaimana dinukil Imam Nawawi dalam At-Tibyan, dengan tegas Umar pernah mengatakan, “Wahai para penghafal Al-Qur’an, angkatlah kepala kalian! Telah terbentang di hadapan kalian jalan menuju kemuliaan. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Janganlah kalian menjadi beban bagi manusia!”.
Namun demikian, sifat berani dan tegas yang melekat kuat padanya tak menghalanginya untuk tertunduk menangis saat membaca Al-Qur’an. Suatu hari, ketika Umar menjadi imam sholat Subuh dan membaca surat Yusuf, ia menangis tersedu-sedu. Hingga lama-lama para ma’mum di belakang tak mendengar suara yang biasanya keras itu. Tangisannya pun makin menjadi-jadi saat sampai pada ayat, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya" (QS.Yusuf: 87).
Pernah juga Umar menangis sesenggukan saat membaca surat Al-Muddattsir ayat 8-10, “Apabila ditiup sangkakala. Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit. Bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah”. Setelah itu ia mengurung diri di rumah beberapa hari. Orang-orang mengira Umar sakit parah karena tak pernah keluar rumah. Di kedua matanya ada bekas hitam karena banyaknya menangis.
Mertua Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam yang masuk Islam lantaran dibacakan surat Thoha itu, juga pernah jatuh sakit selama satu bulan penuh karena mendengar seseorang yang sedang qiyamullail membaca sebuah ayat, “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi. Tidak seorangpun yang dapat menolaknya” (QS.At-Thuur: 7-8).
Pada sisi lain, Umar sangat menekankan ‘amal dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hal itu tercemin dalam kata-katanya, “Ketika dulu kami menghafal sepuluh ayat dari Al-Qur’an, kami tidak berpindah ke ayat berikutnya hingga kami mengamalkannya”. Diriwayatkan bahwa untuk menghafal surat Al-Baqarah, Umar membutuhkan waktu selama sembilan tahun. Yang demikian itu bukan karena ia sibuk, namun karena ketelitian dan kedalamannya dalam memaknai dan mengamalkan apa yang ia hafal.
Hifdzul Qur’an bil qolbi wal ‘amal; menghafal Al-Qur’an dengan hati dan amalan. Mungkin pola interaksi seperti itulah yang membuat Al-Qur’an begitu melekat pada lisan, hati dan akal pikiran Umar bin Khattab. Jiwanya tercelup dengan kuat oleh shibghah qur’aniyah, hingga yang keluar dari lisannya hampir selalu tepat dan benar. Sampai-sampai Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan Al-Haqq ada pada lisan dan hati Umar” (HR.Imam Ahmad dan Imam Thabrani).
Bahkan Imam Suyuthi dalam Taarikh Al-Khulafa mencatat lebih dari 20 (dua puluh) pendapat Umar yang direstui dan di-iyakan oleh Al-Qur’an. Yang pertama, saat Umar usul kepada Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam, “Wahai Rasululullah, andai kita jadikan sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat sholat?”. Maka turunlah surat Al-Baqarah ayat 125, “Dan ketika Kami jadikan Baitullah tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”.
Yang kedua tentang syari’at hijab. Ketika Umar merasa risih melihat para istri Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam yang kadang harus bertemu dengan berbagai jenis manusia; yang baik maupun yang buruk. Maka Umar mengusulkan agar para Ummahatul Mu’minin itu menggunakan hijab agar lebih terjaga. Lalu turunlah ayat tentang hijab atau yang menyetujui pendapat Umar itu.
Yang ketiga, waktu Hafshah dan Aisyah sedang cemburu berat karena madu yang sering dihadiahkan oleh Mariyah Qibthiyah, sampai Rasulullah harus mengharamkan atas dirinya madu. Maka Umar mengatakan kepada Hafshah putrinya, “Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi  Rabb-nya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu”. Maka turunlah surat At-Tahrim ayat 5, dengan redaksi kata yang mirip.
Yang keempat, tentang pengharaman khamr (minuman keras). Tatkala Umar berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami tentang khamr dengan penjelasan yang memuaskan”. Maka turunlah ayat yang mengharamkan khamr dan penjelasan mengenai madhorot yang diakibatnya dalam surat Al-Baqarah ayat 219.
Kelima, tentang larangan mensholatkan jenazah orang munafik. Saat Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam diminta untuk mensholatkan jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafiqun di Madinah. Maka Umar bertanya kepada Rasulullah, “Apakah kita mensholatkan musuh Alloh, wahai Rasulullah?”. Lalu turunlah surat At-Taubah ayat 84, yang melarang kaum Muslimin untuk mensholatkan jenazah orang-orang munafik.
Keenam, saat suatu ketika putra Umar masuk ke kamarnya, sedangkan Umar masih tertidur. Kemudian Umar terbangun dan merasa tidak nyaman dengan hal itu, maka ia berdoa, “Semoga Alloh mengharamkan ia masuk”. Lalu turunlah ayat isti’dzan dalam surat An-Nuur ayat 58, yang mengatur waktu dimana seorang budak atau seorang anak harus minta izin terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar orang tuanya.
Ketujuh, tentang perang Badar. Tatkala Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam mengadakan syuraa dan meminta pendapat para sahabat sebelum perang Badar. Maka Umar mengusulkan agar pasukan Muslimin keluar menyongsong kuffar Quraisy di lembah Badar. Rasulullah pun sepakat dan turunlah surat Al-Anfal ayat 5 yang meng-iyakan hal itu.
Serta masih banyak lagi pendapat Umar yang mendapatkan muwafaqah (persetujuan) oleh Al-Qur’an. Seperti kasus hadistul ifki, atau tentang tawanan perang Badar, juga tentang zinanya dua orang yang lanjut usia. Termasuk tentang permintaan Abu Sufyan untuk menyerahkan Rasulullah saat terdesak di perang Uhud.
Juga tentang asbaabun nuzul (sebab turun) beberapa ayat dalam Al-Qur’an, seperti surat Al-A’raf ayat 54, surat Al-Munafiqun ayat 6, surat Al-Baqarah ayat 187, surat Al-Baqarah ayat 98 dan surat An-Nisaa’ ayat 65. Semuanya menurut para ulama merupakan muwafaqah Al-Qur’an atas pendapat yang diajukan Umar bin Khattab. Radhiyallahu ta’ala ‘anhu wa ‘anis shohabati ajma’ain.
:: Artikel ini ditulis untuk rubrik Jejak Salaf Bersama Al-Qur'an di situs www.ibnu-abbas.com

Jumat, 11 Desember 2015

أسلوب الملاحظة في البحوث التربوية - عرض مقدم لمادة حلقة بحث



























Materi ini dipresentasikan di kelas Program Doktoral Tarbiyah Islamiyah, Universitas Islam Madinah, di bawah bimbingan Syeikh Dr. Abdullah Abdul Hamid. Untuk mendapatkan materi dalam format Power Point silakan click: http://www.slideshare.net/hakimuddinsalim/ss-56074299

Rabu, 09 Desember 2015

Mari Merendah dan Merasa Butuh kepada Allah Ta'ala



“Wahai sekalian manusia, kalian lah yang faqir (butuh) kepada Allah; dan Allah lah Dzat Yang Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Maha Terpuji”
(QS. Faathir: 15)


Tengah hari itu, pada medio Ramadhan tahun kedua Hijriah, kaum Muslimin Madinah yang baru seumur jagung terpaksa menghadapi peperangan yang tidak berimbang. Perkiraan awal bahwa mereka hanya akan melawan sekonvoi kafilah dagang Quraisy dengan jumlah tak seberapa, ternyata meleset. Abu Sufyan bin Harb yang memimpin batalyon pelindung waktu itu, rupanya memutar lewat tepi laut dan meminta bala bantuan dari Mekkah.

Di sebuah lembah bernama Badr, yang berjarak 130 KM dari Madinah, Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam bersama 312 Sahabat harus berhadapan dengan 1000 lebih pasukan Quraisy. Ketika itu pasukan Muslimin hanya bersenjata seadanya. Sedangkan kuffar Quraisy bergerak dengan amunisi kuat dan logistik lengkap.

Meski tetap bertahan dan tidak surut ke belakang, namun Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam sempat ketar-ketir melihat tak imbangnya kekuatan. Berbagai rencana dan strategi perang sebenarnya telah disiapkan, namun rasa khawatir tetap tak bisa dihilangkan. Hingga dengan penuh tadhorru’, Rasulullah mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berdoa, “Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak akan ada yang beribadah kepada-Mu di muka bumi ini selamanya ” (HR. Imam Muslim).

Dalam riwayat ini juga disebutkan bahwa Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam terus bermunajat kepada Rabbnya hingga selendang beliau jatuh dari pundak. Hingga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang dan mengambil selendang tersebut kemudian meletakkan kembali di pundak beliau. Lalu Abu Bakar berusaha menghibur, “Wahai Nabi Allah, sudah cukup engkau bermunajat kepada Rabbmu dan Ia pasti akan memenuhi janji-Nya.”

Kemudian Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam segera mengambil baju besi dan terjun ke medan tempur. Allah pun mengabulkan doa penuh kerendahan itu dengan menurunkan 5000 Malaikatnya. "Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar, padahal kalian ketika itu orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, supaya kalian mensyukuri-Nya. Ingatlah ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin: apakah tidak cukup bagi kalian Allah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan dari langit? Ya cukup, jika kalian bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kalian dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kalain dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (QS. Ali Imron: 123-125).

Allahu Akbar! Betapa dahsyat kekuatan Allah dan betapa lemahnya manusia. Cuplikan perang Badar di atas mengingatkan kita akan pentingnya iftiqaar ilallah, merasa butuh kepada Allah. Rasa ini harus selalu terjaga dalam hati, sehebat apapun daya yang kita miliki. Dalam urusan rumah tangga, masalah ekonomi, hubungan sosial, dan dalam seluruh sisi kehidupan; kita butuh kepada Allah.


Orang-orang sholeh terdahulu paham betul akan hal ini. Banyak sekali kisah tentang iftiqaar mereka kepada Allah, termasuk dalam hal-hal yang kecil. Ada di antara mereka yang saat putus sandalnya, berdoa kepada Allah minta sandal baru. Bahkan ada yang butuh sejumput garam, sebelum mulai berikhtiar, mereka memohon dulu kepada Allah. Dalam kamus hidup mereka tidak ada yang namanya PD (Percaya Diri), yang ada hanya PA (Percaya Allah). Bahkan seorang Rasul pun pernah berdoa, “Janganlah Engkau sandarkan diriku kepada diriku sendiri, meski hanya sekejap mata” (HR. Imam Ahmad).

Itu dalam masalah remeh-temeh hidup keseharian. Lalu bagaimana dalam dakwah dan perjuangan memenangkan Islam? Tentu kita lebih butuh kepada Allah. Kekuatan kita yang sesungguhnya adalah ketika kita merasa lemah di hadapan Dzat yang Maha Kuat. Kemuliaan kita yang hakiki adalah ketika kita mau merendah kepada Rabb yang Maha Tinggi. Semakin kita merasa lemah di hadapan-Nya, kita akan semakin kuat. Semakin kita merendah kepada-Nya, semakin tinggi kita menjulang.

Pertanyaannya, sejauh mana kita merendah dan merasa butuh kepada Allah dalam tiap agenda dakwah kita? Selain rajin beraksi di jalanan, serajin apa “aksi” kita di hadapan Alloh pada keheningan malam? Atau kita malah maghrur (tertipu) dengan SDM yang berkualitas nan militan, kerapihan dan solidnya barisan, atau sumber dana yang berlimpahan, sehingga kita lupa untuk berdoa meminta pertolongan?

Dengan tegas Allah telah mengingatkan kita tentang tragedi Hunain, saat ada sebagian pasukan yang maghrur dengan hebatnya kekuatan Muslimin saat itu: “Dan ingatlah pada Perang Hunain, saat banyaknya jumlah kalian membuat kalian kagum, maka itu tidak memberi kalian manfaat sedikit pun, dan bumi yang begitu luas menjadi sempit, lalu kalian lari ke belakang” (QS. At-Taubah: 25).

Pelajaran berharga tentang iftiqaar dan tawakkal ini juga bisa kita dapatkan dari sejarah makar Abrohah dan tentara gajahnya untuk menghancurkan Ka’bah. Sebenarnya kabilah-kabilah Arab sudah berupaya membendung laju raja yang bergelar Dzu Nafar itu, namun semua terkalahkan. Hingga akhirnya Abrahah memanggil orang paling terhormat dari Quraisy yang mendapatkan amanah turun menurun untuk menjaga Ka’bah, yaitu Abdul Muthalib, kakek Rasulullah ’alaihis sholatu wassalam.

Abrohah terheran saat bertemu dengan Abdul Muthollib. Bukan soal penghancuran Ka’bah yang dipermasalahkan, Abdul Muthalib malah menuntut pengembalian 200 ekor unta yang dirampas tentaranya. Benar-benar hina dianggapnya. Abdul Muthalib pun menjawab keheranan Abrohah tersebut dengan mengatakan, “Aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan menjaganya”. 

Sebagaimana dinukil Ibnu Hisyam, setelah itu Abdul Muthalib dan orang-orang Quraisy berdoa di depan pintu Ka’bah, lalu sembunyi di atas gunung. Hingga Allah mengirimkan burung Ababil, “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Ia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Ia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar. Lalu Ia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat” (QS. Al-Fiil: 1-5).

Seperti raja Abrahah, mungkin kita juga terheran dengan sikap “lemah” dan “menyerah” Abdul Muthalib. Seolah lepas tangan dan tidak bertanggungjawab. Namun sungguh, sikap iftiqaar dan tawakkal yang dimiliki Abdul Muthalib tersebut, jauh lebih bernilai dan berharga di sisi Allah dari pada orang-orang yang berjibaku memperjuangkan dakwah, melawan kebatilan hingga berdarah-darah, namun lupa untuk merasa butuh kepada Allah.

:: Artikel ini ditulis untuk situs dakwah dan ukhuwah  www.manhajuna.com

Selasa, 08 Desember 2015

Pelatihan Dosen Bahasa Arab di Ummul Qura Mekkah


Markaz pendidikan bahasa arab di Universitas Ummul Quro Mekkah mengadakan kegiatan Dauroh Pengajaran Bahasa Arab bagi Non Arab untuk para dosen di berbagai universitas di Indonesia. dauroh ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan para dosen baik secara profesi maupun pengalaman di bidang bahasa dan budaya Arab. Diharapkan pula bagi para peserta setelah mengikuti dauroh ini, agar menjadi generasi baru bagi perkembangan pengajaran bahasa Arab bagi non Arab dengan kesungguh-sungguhan dan tekad yang keras untuk memajukan universitas tempatnya mengajar.

Peserta dauroh ini berjumlah 20 orang yang merupakan dosen-dosen pengajar bahasa Arab yang berasal dari Indonesia dan 20 orang lainnya yang berasal dari Senegal yang nantinya akan berkumpul di Universitas Ummul Quro Mekkah. Bagi para peserta dauroh akan disediakan fasilitas seperti; tempat menginap di hotel dekat Universitas Ummul Quro, makan 3 kali sehari, dan transportasi baik saat di Mekkah maupun tiket pesawat untuk pergi dan pulang (PP) dari Jakarta menuju Jeddah.

Waktu Dauroh
Dauroh ini akan diadakan pada tanggal 13 Juli – 13 Agustus 2016

Persyaratan Mengikuti Dauroh
1. Calon peserta harus berasal dari provinsi berikut: Papua, Sulawesi Tengah, Bangka Belitung, Papua Barat, Sulawesi Tenggara, Sumatera Utara, Maluku, Kalimantan Utara, Riau, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau, Bali, Kalimantan Timur, Jambi, Gorontalo, Kalimantan Barat, Bengkulu, Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan 
2. Calon peserta minimalnya mempunyai gelar S2
3. Calon peserta merupakan dosen pengajar bahasa Arab di kampus
4. Mempunyai kemampuan bahasa Arab Fushah secara lisan maupun tulisan
5. Belum pernah mengikuti dauroh yang diadakan oleh Universitas Ummul Quro Mekkah
6. Umur calon peserta tidak boleh melebihi 40 tahun
7. Mempunyai kesiapan untuk mengikuti semua proses dan mampu melengkapi semua berkas persyaratan yang diminta untuk mengikuti dauroh ini

Berkas-Berkas Persyaratan
- Mengisi formulir yang telah disediakan di akhir halaman sumber berita ini
- Fotocopy Paspor yang masih berlaku kurang lebih 1 tahun, minimal sampai bulan Maret 2017. 
- Fotocopy KTP.
- Fotocopy sertifikat vaksin meningitis berbentuk buku warna kuning yang masih berlaku kurang lebih 1 tahun, minimalnya berlaku sampai bulan Maret 2017. 
- Foto berwarna dengan background putih ukuran 6×6.


Tahapan Penerimaan
- Semua berkas persyaratan di scan dan diunduh, kemudian kirim ke alamat email: daurah.uq.indonesia@gmail.com 
- Batas akhir pengiriman berkas adalah tanggal 15 Januari 2016. 
- Musyrif dauroh akan menyeleksi semua berkas yang masuk.
- Akan diadakan tes wawancara via telpon pada: 18 – 25 Januari 2016 pukul 13.00 – 20.00 WIB. 
- Pengumuman peserta yang lolos seleksi akan diumumkan via email dan handphone.
- Bagi peserta yang lolos seleksi diharap untuk mengisi formulir khusus yang akan dikirim melalui email kemudian segera kirim kembali ke email panitia dauroh..
- Bagi peserta yang lolos seleksi diharap mengirimkan berkas (Paspor, Sertifikat meningitis, dan 6 lembar foto berwarna dengan background putih ukuran 6×6) yang asli (bukan fotocopy) ke alamat: Dr. Faisal Hendra, M.Ed. – Dekan Fakultas Sastra Universitas Al Azhar Indonesia, Kompleks Masjid Agung Al-Azhar, Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110. 
- Batas akhir mengirimkan berkas-berkas yang asli adalah 2 bulan sebelum dimulainya dauroh ini atau tepatnya seminggu setelah datangnya surat persetujuan dari kementrian luar negeri Arab saudi 
- Semua proses-proses yang berkaitan dengan visa, tiket pesawat dan yang lainnya akan diberitahukan oleh panitia melalui email masing-masing peserta yang lolos seleksi. 

Info lebih lanjut yang berkenaan dengan dauroh ini bisa menghubungi kontak berikut: 
- Dr. Shofwan Manaf (Direktur Pondok Pesantren Darunnajah), Nomer Hp 0811805905 
- Dr. Faisal Hendra (Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Al Azhar Indonesia), Nomer Hp 081290344441 
- Nur Hizbullah (Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Al Azhar Indonesia), Nomer Hp 087878887696 

(Sumber: darunnajah.com)


Minggu, 06 Desember 2015

Misi Khilafah Itu Diemban Adam Yang "Tidak Sempurna"



“Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS.Yusuf: 111).


Meniti jalan panjang dakwah tak semudah berkata-kata. Seringkali pangkalnya sudah jauh dari mata, namun ujungya belum juga tiba. Di sepanjang jalan itu, berbagai rintangan, halangan, hantaman, jebakan dan godaan, telah siap menyapa. Terkadang bosan melanda. Kadang pula putus asa menerpa. Disitulah para pejuang dakwah selalu butuh peneguh dan peneduh, yang akan menguatkan langkah juangnya.

Salah satu sumber peneguh dan peneduh itu adalah kisah para Nabi. Bukan hanya karena kisah atau cerita lebih mudah dicerna dan lebih menginspirasi dibanding teori, namun lebih dari itu mereka para Nabi adalah gerbong pertama dalam kereta dakwah ini. Pun mereka adalah para manusia pilihan penerima wahyu, yang menjadi garansi keautentikan dan kesakralan, untuk pantas diikuti dan diteladani.

Tentu bukan tanpa sebab, saat Alloh sering menyebut kisah kehidupan dan perjuangan mereka dalam Al-Qur’an. Sebagaimana sejarah pasti akan mengulang dirinya, pertarungan antara al-haqq dan al-bathil yang mereka hadapi adalah sunnatulloh yang juga akan tetap ada dan pasti terulang. “Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu” (QS. Al-Fath: 23).

Aktor pertama sejarah panjang dakwah di muka bumi adalah Abul Basyar, Nabi Adam ‘alaihissalam. Sebagaimana dituturkan Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiyaa, kisah Nabi Adam dalam Al-Qur’an bermula ketika Alloh ta’ala memberitahu Malaikat tentang penciptaan Adam ‘alaihissalam dan pengembanan tugas memakmurkan bumi kepadanya. 

Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30). Maksud khalifah di sini adalah Adam dan keturunannya yang turun-temurun akan saling menggantikan untuk memakmurkan bumi.

Lalu disebutkan dalam ayat yang sama, para Malaikat bertanya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Pertanyaan Malaikat tersebut, meski tidak bermaksud melecehkan Adam, dijawab tegas oleh Alloh ta’ala: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Lalu Alloh mengajarkan kepada Adam al-asmaa’ (nama-nama) benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah: 31).

Maka Malaikat pun tersadar dan mengatakan, "Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Allah pun memerintahkan Adam untuk memberitahukan kepada Malaikat mereka nama-nama benda tersebut. Lalu Alloh kembali menegaskan, "Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"


Ikhwah fillah, dalam menghadapi beban dakwah yang ada, perasaan tidak mampu dan tidak pantas kadang terlintas di benak kita. Kesadaran akan kekurangan dan keterbatasan diri seringkali membuat kita urung maju ke depan. Kadang juga, kesalahan yang masih sering kita lakukan membuat kita enggan untuk mencegah kesalahan yang ada di sekitar kita.


Atau mungkin pernah juga kita merasa saudara kita seperjuangan tidak pantas menegmban sebuah tugas dakwah, dikarenakan kekurangan dan keterbatasan yang ada padanya. Kita lah yang lebih pantas. Sebagaimana Malaikat yang “mempertanyakan” kompetensi dan kapabilitas Adam ‘alaihissalam untuk menjadi khalifah di bumi.

Kisah Nabi Adam dan Malaikat ‘alaihimussalam di atas memberi pelajaran, bahwa tidak sempurnanya kita tidak boleh membuat kita berkecil hati untuk menerima amanah perjuangan. Sebagaimana kita tidak boleh meragukan orang lain saat telah diputuskan amanah itu diembankan kepadanya. Karena memang sudah dari sananya, Adam sebagai muasal manusia diciptakan dengan potensi kelemahan dan kekurangan. Bahkan pada episode berikutnya Adam harus terusir dari surga karena kesalahan yang diperbuatnya.

Yang terpenting adalah niat tulus untuk terus belajar dan kesediaan untuk meningkatkan kapasitas diri. Sebagaimana Adam yang belajar dari Alloh tentang Asmaa’. Maka dari proses ta’lim dan ta’allum inilah, Adam mempunyai nilai lebih dari yang lain, sehingga menjadi berhak untuk mengemban tugas khilafah memakmurkan dan menjaga bumi dari kerusakan.

Lain dari pada itu, selalu ada hikmah yang tersembunyi di balik realita dakwah yang ada. Sebagaimana Alloh mempunyai hikmah atas penunjukkan Adam sebagai khalifah. Mungkin memang dia “bukan paling ideal” dari yang ada, namun yang pasti dia sosok paling tepat untuk zaman itu dengan berbagai tuntutannya. Karena sunnatullah menegaskan, “Likulli marhalatin khoshoo’ishuha, wa likulli marhalatin rijaaluha”.

:: Artikel ini ditulis untuk perintisan buku Jejak Dakwah Para Nabi

Rabu, 02 Desember 2015

BEASISWA KADERISASI IMAM DAN DA'I DI MAKKAH



Dalam rangka kaderisasi ulama, Ma’had I‘dad Al-Aimmah wad Du’at yang berlokasi di Mekkah, di bawah bimbingan Robithoh ‘Alam Islamy, membuka Program Diplom ‘Aam atau Dirosat 'Ulya selama dua semester (satu tahun). Dengan durasi belajar 5 jam dalam sehari, dimulai dari pukul 07.30 – 12.20 waktu setempat.

Persyaratan:
- Memiliki kemampuan berbahasa arab baik secara lisan maupun tulisan.
- Umur pelamar tidak boleh lebih dari 45 tahun.
- Mengisi formulir resmi (dapat didownload disini).
- Fotocopy ijazah S1 yg sudah dilegalisir, atau scan ijazah asli dan transkrip nilai (jika tidak berbahasa arab harus diterjemahkan oleh penerjemah resmi).
- Scan paspor asli yang masih berlaku.
- 2 Tazkiyah dari tokoh agama atau lembaga/ormas Islam.
- Pas foto 4×6 (4 lembar).

Fasilitas:
- Uang saku bulanan 850 Riyal.
- Asrama dan gedung perkuliahan.
- Makan tiga kali sehari.
- Tiket pesawat PP. 
- Haji bersama para tamu undangan Robithoh Alam Islamy.
- Modul kuliah gratis.

Cara Pendaftaran:
Semua berkas dikirimkan ke alamat email Admin@itimams.net
Tidak ada batas akhir pendaftaran, karena ini adalah program tahunan Robithoh Alam Islamy. Semua berkas yang masuk ke kantor penerimaan Ma’had akan ditampung dan dirapatkan untuk penentuan kelulusan.

Info selengkapnya bisa dilihat disini
Atau kirimkan pertanyaan ke alamat email: info@itimams.net

(sumber: manhajuna)

Senin, 30 November 2015

Materi Mengapa Harus Menghafal Al-Qur'an? (PPT-JPEG)














Materi ini pernah disampaikan dalam acara Wisuda Akbar Jaringan Rumah Qur'an Haramain, Surakarta. Untuk mendapatkan materi dalam format Power Point silakan click:
http://www.slideshare.net/hakimuddinsalim/mengapa-harus-menghafal-alquran

Minggu, 29 November 2015

PELUANG BEASISWA S2 STUDI ISLAM DI QATAR


Qatar Faculty of Islamic Studies (QFIS), salah satu fakultas dari Hamad Bin Khalifa University (HBKU), setiap tahunnya menawarkan beasiswa untuk pelajar internasional yang berminat untuk melanjutkan studi pascasarjana di HBKU, Qatar.

QFIS menyediakan beberapa program Master yang dapat anda pilih, sebagai berikut:
1. M.A. in Islamic Studies in Contemporary Fiqh
(Peserta harus merupakan lulusan S1 dari bidang Syariah)
2. M.A. in Public Policy in Islam
3. M.Sc. in Islamic Finance
(Peserta harus merupakan lulusan S1 dari bidang Bisnis, Ekonomi, Keuangan, Akuntansi, Syariah, dan bidang studi terkait lainnya)
4. M.A. in the Study of Contemporary Muslim Thought and Societies
5. M.Sc. in Urban Design and Architecture in Islamic Societies
(Peserta harus merupakan lulusan S1 dari bidang Arsitektur, Teknik Arsitektur, Arsitektur Landscape, Desain Interior/Desain Arsitektur, atau Perencanaan Kota dengan IPK minimal 2.8 (skala 4.0)
6. M.A. in Islamic Studies in Comparative Religions

Nantinya para kandidat terpilih berhak mendapatkan beasiswa penuh, meliputi:
- Tanggungan biaya pendidikan
- Akomodasi
- Internet, telepon, rekreasi
- Tunjangan kesehatan
- Transportasi di dalam maupun di luar Qatar Foundation

Persyaratan untuk mengikuti beasiswa S2 luar negeri dari QFIS adalah sebagai berikut:
- Telah menyelesaikan studi S1 dari Universitas/Perguruan Tinggi yang telah terakreditasi Sangat Baik/setara dengan IPK minimal 3.4 (skala 4.0).
- Memiliki skor TOEFL minimal 550/IELTS minimal 6.0. Untuk pelamar program M.A. in Islamic Studies in Contemporary Fiqh dan M.A. in Islamic Studies in Comparative Religions, skor TOEFL yang dibutuhkan minimal 450/IELTS minimal 5.0.
- Telah lulus Arabic Placement Test dengan skor minimal 80% pada pusat bahasa di Qatar (mahasiswa diharapkan lulus tes bahasa Arab dalam tahun pertama studi, kegagalan dalam tes tersebut dapat mengakibatkan pencabutan beasiswa).
- Telah melakukan wawancara via telepon saat seleksi akhir, untuk memastikan bahwa pelamar memiliki kemampuan bahasa Arab yang sesuai.

Kelengkapan dokumen yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
- Form Aplikasi Pendaftaran Beasiswa QFIS yang telah dilengkapi (Download)
- Salinan paspor
- Salinan ijazah S1 dari universitas yang telah terakreditasi di negara asal
- Transkrip nilai
- 2 (Dua) pas foto terbaru ukuran paspor
- Bukti kecakapan bahasa Inggris berupa hasil skor TOEFL/IELTS
- Hasil skor Pass Arabic Test.

Seluruh dokumen aplikasi di atas dapat dikirimkan via email ke alamat: admissions_QFIS@qf.org.qa. Pendaftaran untuk kandidat internasional akan dibuka pada tanggal 1 Januari 2016 untuk Fall Semester (Musim Gugur).

Untuk mendapatkan informasi terkait QFIS Scholarship, para pelamar dapat menghubungi pihak kantor Admisson and Registration pada nomer telepon +974 4546588 atau +974 4546560 dan juga dapat melalui email: qfisinfo@qfis.edu.qa. atau Twitter @QFIS_QF

Untuk info selengkapnya, dapat anda baca di: (Bahasa arab) (Bahasa inggris)

(Manhajuna)

Sabtu, 28 November 2015

TADABBUR AL-QUR`AN DAN KEMENANGAN DA’WAH



“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad: 29).

Tinta emas sejarah telah mencatat, dalam kurun waktu hanya 23 tahun Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam berhasil melahirkan generasi terbaik dengan kulaitas ilmu dan amal yang pantas diteladani. Dengan keterbatasan materi dan sulitnya kondisi, muncul kader-kader da’wah yang tangguh, dengan soliditas dan kemampuan survival yang tak diragukan lagi. Di bawah ancaman musuh dan tekanan tirani, justru terbina angkatan mujahid terhebat yang di kemudian hari menjadi para penakluk dan pemakmur sepertiga bumi.

Tentu capaian dahsyat itu bukan sekedar soal yang menempa mereka adalah seorang Nabi, atau soal mu’jizat dan kepentingan Alloh ta’ala untuk memenangkan agama-Nya. Tapi yang harus kita renungi adalah rahasia apa di balik capaian dahsyat itu? Toh dalam sejarah panjang para Nabi dan Rasul, sunnatullah atau sunnah kauniyah tetap berlaku. Artinya, keajaiban demi keajaiban itu baru akan muncul jika ikhtiar manusiawi sudah maksimal diupayakan. Justru dengan inilah, generasi penerus da’wah berikutnya mendapatkan celah untuk mencontoh dan meneladani.

Salah satu rahasia kesuksesan yang harus diteladani dari para pioner da’wah itu adalah bagaiamana ta’aamul atau interaksi mereka dengan Al-Qur`an. Bukan sekedar kualitas dan kuantitas bacaan yang menonjol dari mereka, namun tadabbur dan tafakkur terhadap firman-firman Alloh itu, membuat mereka kokoh dan tegar menempuh perjuangan. Al-Qur`an yang memang turun secara munajjaman (bertahap) mereka baca dengan penuh penghayatan dan perenungan yang mendalam, hingga melekat kuat pada lisan, pikiran, dan jiwa. Mereka tidak akan berpindah dari sepuluh ayat ke sepuluh ayat berikutnya, sebelum benar-benar memahami dan mengamalkannya.

Seperti Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallohu ‘anhu yang terkenal “cengeng” saat membaca Al-Qur`an. Penghayatannya yang mendalam terhadap Al-Qur`an membuatnya selalu terisak saat tilawah. Hingga ketika suatu hari Rasulullah ‘alaihis sholatu wassalam memerintahkannya untuk menjadi imam sholat, ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha mencegahnya, “Wahai Rasulullah, sungguh Abu Bakar adalah lelaki yang berhati sangat lembut. Jika ia menggantikanmu menjadi imam, orang-orang tidak akan bisa mendengarkan suaranya karena banyak menangis” (HR. Imam Muslim).

Atau seperti yang diceritakan ‘Ubbad bin Hamzah, bahwa suatu hari ia pergi ke rumah Asmaa binti Abi Bakar radhiyallohu ‘anhuma dan mendapatinya sedang membaca surat At-Thuur ayat 27, “Maka Alloh memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka”. Lalu ‘Ubbad meninggalkannya sendirian dan pergi ke pasar untuk sebuah urusan. Ketika ‘Ubbad kembali lagi, ternyata Asmaa masih membaca ayat tersebut berulang-ulang sambil bercucuran air mata.

Imam Nawawi menukil perkataan Hasan bin ‘Ali radhiyallohu ‘anhuma yang menggambarkan bagaimana hubungan para Sahabat dengan Al-Qur`an, “Sesungguhnya generasi sebelum kalian (para Sahabat) melihat Al-Qur`an seperti surat cinta dari Rabb mereka. Mereka mentadabburinya di waktu malam, dan memperjuangkannya di siang hari”.

Generasi salafus sholeh setelah mereka pun tak jauh berbeda. Seperti Sa’id bin Jubair yang mengulang-ulang surat Al-Baqarah ayat 281, “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Alloh. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. Sa’id mengulangi satu ayat tersebut lebih 20 kali untuk bisa mentadabburinya.

Atau seperti Hasan Al-Bashri yang membaca surat An-Nahl ayat 18 berkali-kali hingga pagi: “Dan jika kamu menghitung-hitung ni`mat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, sebagaimana dikutip Ibnu Abid Dunya, dalam Attahajjud wa Qiyamullail.

Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya juga menyitir perkataan Muhammad bin Ka’ab Al-Qorodhy: “Tatkala aku hanya membaca surat Al-Zilzalah dan surat Al-Qori’ah, namun kuulang berkali-kali dan kutadabburi, maka itu lebih aku sukai dari pada semalam suntuk khatam membaca Al-Qur`an”.


Lalu dalam Al-Qur`an sendiri, Alloh ta’ala berkali-kali memuji tadabbur orang-orang beriman terdahulu: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Alloh, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58).

Alloh juga memuji tadabbur Ahlul Kitab yang mau menerima kebenaran Islam,”Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui seraya berkata: wahai Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi” (QS. Al-Maidah: 83).

Bahkan Alloh menyebutkan bahwa tadabbur dan ta’attsur seorang hamba terhadap Al-Qur`an merupakan tanda sempurnanya iman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Rabb mereka jualah mereka berserah” (QS. Al-Anfal: 3).

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam Miftah Daaris Sa’adah menegaskan, “Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, dalam kehidupan dunia dan akheratnya, selain membaca Al-Qur`an dengan penuh penghayatan dan memusatkan segenap pikiran untuk merenungi artinya”.

Sebaliknya, kecaman dan ancaman Alloh menanti orang-orang yang enggan memahami dan merenungi Al-Qur`an, “Maka apakah mereka tidak mau mentadabburi Al Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Dalam surat Al-Baqarah ayat 78, Alloh mencela orang-orang terdahulu yang hanya tilawah saja tanpa mau tadabbur: “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab, kecuali amaaniyya dan mereka hanya menduga-duga”. Imam Syaukani dalam tafsirnya menjelaskan, yang dimaksud dengan amaaniyya disini adalah sekedar menjadi bacaan tanpa upaya pemahaman dan penghayatan.

Juga dalam surat Al-Furqon ayat 30, dimana Rasulullah mengadukan perilaku sebagian umatnya: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang mahjur (tidak dipedulikan)”. Ibnul Qoyyim kembali menjelaskan bahwa salah satu bentuk dari hajrul Qur’an adalah dengan tidak berusaha memahami dan merenungi kandungannya.

Kita patut bersyukur melihat perkembangan umat dewasa ini terkait dengan Al-Qur`an. Bagaimana antusiasme masyarakat untuk belajar Al-Qur`an meningkat pesat. Dimulai dari marhalah attilawah (membaca), dengan banyaknya metode belajar membaca Al-Qur`an, maraknya gerakan bebas buta Al-Qur`an, atau ramainya komunitas gemar tilawah, seperti ODOJ (one day one juz).

Kemudian meningkat ke marhalah al-hifzh (menghafal), dengan banyak berdirinya Pesantren Tahfizhul Qur`an, menjamurnya jaringan rumah Al-Qur`an, atau meriahnya audisi Hafizh Cilik di berbagai stasiun televisi. Fenomena menggembirakan di tanah air ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu.

Namun demikian, bersamaan dengan rasa kesyukuran itu kita tidak boleh cepat berpuas diri. Umat harus segera dibawa melangkah pada marhalah ta’amul ma’al Qur`an (tahapan berinteraksi dengan Al-Qur`an) berikutnya, yaitu tadabbur. Untuk kemudian bisa teraih marhalah al-‘amal wadda’wah ilaih (tahapan pengamalan dan menyeru kepadanya). Itu semua harus dimulai dari diri kita sendiri, para pejuang da’wah. Minimal membiasakannya pada program dan agenda di internal barisan. Jika tidak, petunjuk macam apa yang ingin kita berikan kepada umat, kalau kita sendiri belum tertunjuki?

Alasan-alasan klasik, seperti tidak mampu berbahasa Arab, hanya akan mempertontonkan kekufuran kita atas nikmat akal dan kesempatan hidup puluhan tahun yang telah Alloh berikan. Lagian sudah tersedia terjemah Al-Qur`an dengan berbagai macamnya. Pun sudah banyak tafsir Al-Qur`an dalam bahasa Indonesia. Kemalasan dan kelalaian diri lah yang membuat kita belum juga beranjak, yang itu semakin memperlambat datangnya kemenangan.

Syekh Musthofa As-Siba’i, dalam kitabnya Hakadzaa ‘Allamatni Al-Hayah mengingatkan kita: “Sesungguhnya pengaruh yang dahsyat dari Al-Qur`an atas jiwa-jiwa orang beriman hanya bisa dengan merenungi maknanya, bukan sekedar menikmati keindahan lantunannya. Juga dengan tilawah orang-orang yang mengamalkannya, bukan sekedar dengan tajwid orang-orang yang mahir membacanya. Sungguh, orang-orang beriman terdahulu bisa mengguncangkan bumi saat jiwa mereka mampu terguncang oleh makna-makna Al-Qur`an. Mereka sukses membuka dunia, saat akal-akal mereka terbuka menerima hakikat Al-Qur`an. Mereka berhasil menguasai alam semesta saat perilaku dan keinginan mereka dikuasai oleh prinsip-prinsip Al-Qur`an. Dan begitulah sejarah kejayaan masa lalu itu akan terulang!”.

:: Artikel ini ditulis untuk situs dakwah dan ukhuwah www.manhajuna.com