Senin, 17 November 2014
التعليم في أمريكا - التربية المقارنة
Materi ini dipresentasikan di kelas Program Magister Tarbiyah Islamiyah, Universitas Islam Madinah, di bawah bimbingan Dr. Ibrahim As-Samdoni. Dapatkan materi dengan format Pewor Point di: http://www.slideshare.net/hakimuddinsalim/ss-55406676
Label:
Materi Power Point
تقنية المعلومات والاتصالات - التربية والتحديات المعاصرة
Materi ini dipresentasikan di kelas Program Doktoral Tarbiyah Islamiyah, Universitas Islam Madinah, di bawah bimbingan Prof. Dr. Thoriq Hajar. Untuk mendapatkan materi dalam format Power Point, silakan click: http://www.slideshare.net/hakimuddinsalim/ss-42174980?related=1
Label:
Materi Power Point
Rabu, 05 Oktober 2011
Pantun Poligami Dari Pak Menteri
Cerita ringan ini terjadi sebelum liburan musim panas kemarin. Sayang
kalau beberapa hikmah yang ada di dalamnya terlupakan begitu saja.
Malam itu tiba-tiba HP saya berdering, "Akhi, Antum besok bisa dampingi
Pak Tifatul ke Mekah?". Ternyata telepon dari pengurus Talbia Travel,
meminta saya untuk mendampingi Menkominfo Ir. Tifatul Sembiring dan
istri menuju ke kota Mekah guna melaksanakan ibadah Umroh.
Agak
berat sebenarnya menerima order ini, karena lusa saya harus mengikuti
tes seleksi S2 yang sangat menentukan perjalanan hidup saya ke depan.
Namun keinginan untuk ngobrol banyak dengan Pak Tif (begitu beliau
sering dipanggil) juga mendesak dalam hati. Sedangkan di seberang sana
pihak travel harap cemas menanti jawaban. "Toyyib, insya Allah bisa
Ustadz", akhirnya kalimat itu terlontar juga.
Esok
harinya, setelah sempat masuk kuliah, saya langsung meluncur menuju
hotel Dyar International menyiapkan keberangkatan. Berkoordianasi dengan
bell boy untuk mengemas barang dan menghubungi sopir GMC yang
akan membawa kami menuju Mekah. Di luar kelaziman memang, seorang
Menteri, yang biasanya menjadi tamu Kerajaan, menginap di hotel sekelas
Dyar yang biasa saja dan berada di ring kedua dari Masjid Nabawi.
Seringnya orang-orang penting dari Indonesia menginap di Obroy, Hilton,
atau minimal Movenpick. Uniknya lagi, beliau berangkat tanpa pengawal
atau ajudan sama sekali.
Setelah semua beres, dan kami berta'aruf sebentar, GMC langsung meluncur menuju tempat Miqot Dzulhulaifah untuk memulai Ihrom. Sepanjang perjalanan dari hotel ke Miqot
kami isi dengan rencana perjalanan dan berta'aruf dengan sopir GMC yang
orang Arab asli. Saya memanggilnya Aboyya. Ternyata percakapan Arab Pak
Menteri lumayan juga.
Sebelum kami melanjutkan
perjalanan menuju Mekah, Pak Tif minta diantar membeli minuman dan snack
untuk bekal di perjalanan. Waktu itu kami sempat saling berebut untuk
membayar. "Akhi, Antum kan mahasiswa, masa ntraktir kami? Ntar aja kalo
dah jadi bos". Hehe.. Pikir saya waktu itu beliau adalah tamu, harus
dihormati. Apalagi harganya tidak seberapa. "Tuh kan, gara-gara Antum
mau mbayari, istri ane jadi pekewuh mau nambah lagi. Udah, pake ini
aja.." Akhirnya beliau lah yang mentraktir kami semobil. Pintar juga Pak
Tif membuat alasan.
GMC yang kami tumpangi pun mulai meninggalakan Miqot. Kami semua melantunkan niat Umroh, "Labbaika Allahumma umrotan..". Saat itu suasana menjadi hening, tidak ada obrolan sama sekali. Yang terdengar hanya lantunan kalimat talbiyah. Saya dan sopir berada di depan, sedangkan Pak Tif dan istri duduk di kursi tengah.
Rasa
kantuk pun mulai menyerang saya. Maklum kecapekan habis kuliah. Diktat
materi untuk ujian S2 nanti pun tidak bertahan lama saya baca. Waktu
itu, dengan penuh semangat Pak Tif beserta istri masih terus melantunkan
kalimat talbiyah. Bahkan ketika sudah berjalan 100 KM lebih dari Miqot. Dalam batin saya, selama saya membimbing jama'ah Haji dan Umroh, tidak ada yang pernah sesemangat ini.
Setelah beberapa saat tertidur, saya pun terbangun. Dan subhanallah, Pak Tif masih bertahan melantunkan kalimat talbiyah yang memang disunnahkan dalam ibadah Umroh sejak mulai Ihram hingga nanti melihat Ka'bah. Saat merasa bosan, Pak Tif mengambil mushaf untuk tilawah
dan mengulang hafalan Qur'an. Ia pun berpindah-pindah dari satu lagu
murottal ke lagu yang lain. Sampai Aboyya di sebelah saya pun bertanya, "A haqqan huwa wazir?". Apa benar dia seorang Menteri? Menurutnya aneh ada Menteri seramah dan sealim ini. Apalagi dari Indonesia. "Ajiiiib.... ", kata Aboyya lagi.
Hingga
ketika jarak ke kota Mekah tinggal 100 KM lagi, Pak Tif minta untuk
mampir terlebih dahulu ke rumah makan. Saya sampaikan ke beliau bahwa
sepanjang jalan antara Madinah dan Mekah tidak ada rumah makan yang
layak. Pak Tif pun menjawab, "Mau layak kayak apa sih Akhi? Biasa aja,
yang penting bersih". Akhirnya kami pun berhenti di sebuah Math'am sederhana dan kembali Pak Tif mentraktir kami makan siang dengan fahm dajjaj dan samak maqli. Saya berdua dengan Aboyya dan Pak Tif satu meja sama istrinya.
Selesai
makan, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota Mekah. Kali ini
obrolan di antara kami jauh lebih cair. Banyak hal yang saya tanyakan
kepada Pak Tif terkait dengan kondisi terakhir dakwah, perpolitikan
Indonesia, atau prestasi-prestasi dan program terbaru Kominfo. Pak Tif
pun balik bertanya tentang aktivitas di kampus dan kondisi terkini Arab
Saudi serta Timur Tengah. Banyak hikmah dan wawasan baru yang saya
dapatkan dari perjalanan sejauh kurang lebih 500 KM ini.
Untuk
memperhangat suasana, tiba-tiba Pak Tif menyampaikan sebuah cerita yang
cukup jenaka. Kurang lebih cerita ini tentang seorang pengusaha asal
Amman, Jordania. Sebut saja namanya Amir. Di samping berbisnis di
Jordan, Amir juga mengelola usaha di Baghdad, Iraq. Jadi setiap beberapa
hari ia bolak-balik pergi ke Baghdad, sedangakan istrinya tinggal di
Amman. Cukup berat baginya berpisah dengan keluarga yang hampir seminggu
sekali.
Suatu hari Amir pergi ke Baghdad menggunakan
bus antar negara. Seperti biasa ia memilih tempat duduk di belakang
sopir bus. Di tengah perjalanan ia mendengar sang sopir melantunkan
sebuah pantun dengan penuh kegembiraan:
Bunga mawar bunga melati
Bermekaran di sepanjang jalan
Alangkah indah hidupku ini
Hidup antara Bagdad dan Amman
Begitu
terus sepanjang jalan sang sopir berdendang. Hingga sampailah bus pada
tujuan. Amir pun tinggal di Baghdad selama seminggu. Saat urusan Amir
selesai, ia pun segera kembali menuju Jordan. Tak disangka ia kembali
dapat bus dan sopir yang sama seperti saat ia berangkat seminggu yang
lalu. Ia pun kembali mendengar sang sopir berpantun ria:
Bunga mawar bunga melati
Bermekaran di sepanjang jalan
Alangkah indah hidupku ini
Hidup antara Bagdad dan Amman
Amir
pun menjadi penasaran, apa yang membuat sopir ini terlihat begitu
bahagia dengan pantunnya? Padahal seperti yang ia rasakan, sang sopir
harus bolak-balik antara Amman dan Baghdad meninggalkan istri dan
keluarga. Amir pun memulai obrolan sama sang sopir. Setelah bercakap ngalor-ngidul,
tiba-tiba iseng Amir bertanya, "Pak sopir, ngomong-ngomong Anda punya
istri berapa?". Sang sopir pun menjawab, "Oh, saya punya istri dua. Yang
satu tinggal di Amman, satunya lagi di Baghdad". Sedikit cuek, sang
sopir kembali mendendangkan pantun kesukaannya dengan sedikit dilagukan.
Sedangkan
Amir terus berkecamuk batin dan pikirannya. "Wah, pantesan ia begitu
gembira, ia punya istri dua! Ia tidak akan pernah merasa sedih saat
bekerja. Di Baghdad ada istri yang melayaninya, dan di Amman istri kedua
siap sedia. Uenak tenan..", kata Amir dalam hati. Amir pun menjadi
kepingin nikah lagi untuk yang kedua. Ia pikir seorang sopir aja bisa,
apalagi dia yang pengusaha. Cleguk!
Singkat cerita,
Amir pun melaksanakan niatnya berpoligami. Ia menikahi seorang gadis di
Baghdad. Ia pun terus bolak-balik antara Amman dan Bagdad. Namun sayang,
kehidupannya bukan bertambah bahagia. Justru sebaliknya, makin
sengsara. Poligami yang ia jalani kurang sukses. Amir tidak bisa
memenejemen emosi dan rasa cemburu kedua istrinya. Yang terjadi dari
hari ke hari hanya pertengkaran dan kemarahan. Saat di Amman, ia
bertengkar dengan istri pertamanya. Saat di Baghdad, ia pun berselisih
dengan istri mudanya.
Hingga suatu hari, saat ia
melakukan perjalanan menuju Baghdad, ia kembali menumpang bus dan sopir
yang sama. Ia pun memilih duduk paling depan dan di tengah perjalanan ia
berbisik kepada sang sopir, "Eh, Pak sopir, tahu nggak, saya sudah
nikah lagi dengan seorang gadis di Baghdad. Tapi baru beberapa bulan
berjalan, hidup malah tambah sengsara saya rasakan. Saat di Amman, saya
bertengkar dengan istri pertama. Di Baghdad juga sama keadaannya. Kalau
boleh tahu, apa resep Pak Sopir sukses mengelola dua keluarga?"
"Ha..ha..ha..ha.."
Sang sopir malah tertawa terbahak-bahak. Ia pun berbisik kepada Amir,
"Anda salah sangka Tuan, apa yang Anda alami juga sedang saya alami.
Makanya saya selalu berdendang: alangkah indah hidupku ini, hidup antara
Baghdad dan Amman. Karena kalau saya sampai di Amman, bertemu istri
pertama, saya disambut dengan pertengkaran. Begitu juga saat saya pulang
ke Baghdad, yang ada hanya perselisihan. Jadi, saya benar-benar
merasakan bahagianya hidup dan terbebas dari beban, adalah saat
sendirian menyopir antara Baghdad dan Amman."
Seketika
itu juga, saya, Pak Tif dan istri beliau tertawa lepas bersama. Hehe..
Beginilah kalau poligami hanya karena terprovokasi. Aboyya pun
terbengong-bengong melihat kami tertawa bersama. Sejak tadi ia tidak
paham apa yang kami obrolkan karena kami menggunakan bahasa Indonesia.
Maka Pak Tif pun meminta saya untuk menceritakan kembali kisah tadi
dengan bahasa Arab. Setelah selesai, kami semua kembali tertawa bersama,
termasuk Aboyya.
Namun tiba-tiba Aboyya angkat bicara
dengan nada serius. Menurutnya, masalah poligami cukup relatif. Beda
orang, beda kisahnya. Semua tergantung bagaimana niatan dan cara
menjalaninya. Aboyya bercerita bahwa ia punya seorang teman yang punya
istri dua juga. Sudah berjalan beberapa tahun, semua baik-baik saja.
Bahkan bisa dikatakan sangat bahagia. Padahal temannya itu keadaan
ekonominya cukup sederhana. Kedua istrinya pun tinggal satu rumah. Tapi
tidak ada masalah. Justru mereka saling membantu menyelesaikan tugas
rumah tangga. Kalau hari ini istri pertama yang masak, maka besoknya
gantian istri muda yang masak. Saat istri pertama baru melahirkan, maka
istri mudalah yang membantu mengurus segalanya. Begitu juga sebaliknya
saat istri muda giliran punya anak. Menurut Aboyya, keterpautan hati itu
bukan manusia yang mengaturnya. Ta'liful qulub itu Allah yang menentukan.
Luar
biasa! Kali ini kami mendapatkan tadzkiroh dari seorang sopir, yang
mungkin secara dzohir biasa saja, bahkan kelihatan sangat awwam. Secara
banyak sopir di Saudi yang peminum khamr dan meninggalkan sholat. Segera saja kami mengiyakan apa yang Aboyya sampaikan. "Wa allafa baina qulubihim. Lau anfaqta ma fil ardhi jami'an ma allafta baina qulubihim..",
begitu firman Allah dalam Al Qur'an. Maka tak jarang kita dapatkan
seseorang yang berpoligami dengan empat istri tapi terlihat
tenang-tenang saja. Karena sekali lagi keterikatan hati itu di tangan
Allah. Toh belum tentu yang memilih untuk beristri satu akan terhindar
dari pertikaian. Buktinya angka perceraian semakin hari semakin tinggi.
Bagi kita yang berharap ta'liful qulub
benar-benar bisa terwujud dalam keluarga, tidak ada jalan lain kecuali
memohon kepada Allah ta'ala. Kalau perlu sesekali dalam doa rabithah yang terlantun, bukan wajah ikhwah yang dibayang, tapi wajah istri dan anak-anak tersayang. Allahumma allif baina quluubinaa..
Label:
Catatan Ringan
Sabtu, 28 Mei 2011
Selamat Jalan Wahai Muslimah Tangguh...
Pagi itu, sebelum subuh, saya bertemu seorang teman di tempat wudhu, "Kim, tau Bu Yoyoh? Kata Pak Tif di twitter, beliau meninggal". "Masa sih? Baru kemarin Bu Yoyoh kirim SMS ke ane, yang bener ente?!", jawab saya. Langsung setelah Subuhan saya buka internet. Ternyata betul, Ustadzah Yoyoh Yusroh telah tiada. Innaa lillaahi wainnaa ilaihi roji'un.
Kurang lebih sebulan yang lalu, saya berkesempatan membimbing rombongan Umrah Talbia Travel. Bu Yoyoh dan kedua anaknya ikut serta dalam rombongan tersebut. Disitulah awal interaksi saya dengan Bu Yoyoh dan keluarga. Selama ini saya cuma mendengar dan membaca tentang beliau dari kejauhan; seorang da'iyah senior yang sudah malang melintang di dunia dakwah, pada berbagai lininya.
Kesan yang tertangkap pertama kali dari Bu Yoyoh saat bertemu adalah kesederhanaan dan kebersahajaan. Tanpa banyak aksesoris, pernik-pernik, bahkan kosmetik, dibandingkan pada umumnya jama'ah Umroh. Begitulah menurut saya dan rombongan yang lain waktu itu. Bersama kedua putranya, Ayyash dan Ghozin, ia membaur dengan jama'ah tanpa tersekat sama sekali. Banyak yang tidak tahu kalau seorang ibu kelahiran 14 November 1962 itu adalah seorang anggota DPR RI.
Muslimah Tangguh. Mungkin istilah itu pantas disandang olehnya. Bagaimana tidak, karir dakwahnya telah dimulai sejak awal perintisan tarbiyah di Indonesia. Bahkan sebelum itu, saat ia masih belia. Ketika medan dakwah siayasi memanggil, ia pun berada di barisan terdepan kaum hawa. Terbukti, sudah dua kali ia menjadi anggota DPR Pusat sejak 1999. Masih segar di ingatan, saat Bu Yoyoh dan tim habis-habisan memperjuangkan UU Anti Pornografi.
Berbagai amanah pun diembannya, dari menjadi Dewan Pakar ICMI, DPP, Pesantren Ummu Habibah, PP SALIMAH, hingga menjadi pimpinan International Muslim Women Union (IMWU). Ia juga mendapat tanda jasa Mubaligh Nasional dari Departemen Agama Pusat pada tahun 2001.
Akan tetapi, tugas-tugas besar itu ternyata tidak membuat kewajibannya sebagai seorang ibu terbengkalai. Bu Yoyoh memiliki 13 orang anak dan 2 orang cucu. Luar biasa! Anak-anaknya pun sangat prestatif dan membanggakan. Di antara mereka ada yang studi di Al Azhar, Mesir. Ada juga yang mendapat beasiswa ke Eropa. Sebagian lagi kuliah di perguruan tinggi ternama Indonesia, seperti ITB dan UGM. Sedangkan Ayyash (kelas 3 SMP) dan Ghozin (kelas 2 SMP), keduanya adalah Hafidz Al Qur'an.
Malam itu, setelah siangnya kami berziarah keliling kota Madinah, Bu Yoyoh mengajak saya makan malam di restoran bersama kedua putranya. Banyak hal yang kami obrolkan waktu itu. Soal keinginan Ayyash untuk melanjutkan SMA di Madinah, hingga kesibukan Bu Yoyoh di forum internasional. Ia bercerita, bahwa setelah umroh nanti, ia harus langsung menuju Syiria untuk Konferensi Internasional soal Palestina. Sebelumnya, ia baru saja pulang dari Sudan untuk tugas yang sama. Bahkan bersama rombongan KNRP, Bu Yoyoh berhasil menembus masuk ke Ghaza. Iri rasanya melihat foto Bu Yoyoh bersama PM Ismail Haniya dan pimpinan Ghaza yang lain.
Setelah itu, komunikasi di antara kami tetap berlanjut. Khususnya membahas rencana Ayyash melanjutkan SMA di Madinah. Saat Bu Yoyoh kembali ke Saudi bersama Komisi I DPR RI untuk mengawasi pemulangan ribuan TKI yang terlantar di Jeddah, ia sempat menelepon. Dan kemarin, Bu Yoyoh kembali mengirim sms, "Aslm. Apa kabar Akh Hakim? Afwan, Ayyash semangat sekali ingin sekolah di Madinah dan tidak mau daftar ke SMU/Aliyah disini... Saya sudah buka web UM yang Antum beri, tapi disitu tidak ada pendaftaran, ada pengumuman kelulusan aja. Jadi saya mohon saran Antum bagaimana proses pendaftarannya, jazakallah..". Subhanallah, total sekali ia menjadi seorang ibu, gumam saya.
Dan ternyata, itu adalah SMS terakhir dari beliau. Berikutnya, yang terkirim adalah kabar musibah yang memilukan. Bukan, bukan musibah sebenarnya. Tapi pintu peristirahatan dari dunia yang melelahkan. Untuk kemudian melangit menghadap Sang Kekasih dengan penuh kebahagiaan.
Label:
Catatan Ringan
Selasa, 21 Desember 2010
KULIAH VS NIKAH
Cerita ini berawal dari realita bahwa kelima anggota halaqah
saya ternyata bujang semua. Mereka adalah mahasiswa Madinah yang sedang
menghadapi masa-masa genting pencarian dan penantian. Sangat mendesak
untuk menyampaikan materi baitul muslim kepada mereka. Sayang,
sebagai Murobbi, saya bukan orang yang pantas menyampaikan materi itu.
Apalagi kalau bukan karena status marital saya yang tidak berbeda dengan
mereka. Berkali-kali saya menyinggung tentang masalah ini, selalu saja
mereka menjawab, "Ah, omdo! Omong doang..". Terpaksa saya harus
menghadirkan muwajjih khusus yang bisa membahas tentang pernikahan dan serba-serbinya.
Singkat cerita, akhirnya tiga orang Ustadz bersedia memberikan wejangan khusus kepada kami. Mereka adalah Ust. Asfuri Bahri, Lc (Staf BPK Pusat), Ust. Fahmi Rusydi, Lc (Ma'had Al Hikmah Bangka) dan Ust. Asril Abdullah, Lc (Pengasuh PP Husnul Khatimah) Kebetulan ketiganya sedang mengikuti diklat yang diselenggarakan Rabitah Alam Islami di Mekkah. Yang pasti beliau-beliau sudah menikah dan punya anak, jadi nggak bakal ada lagi cletukan "NATO, no action talking only" seperti biasa.
Di restoran Ma'azim, pada pinggiran kota Madinah yang bergaya lesehan, dauroh singkat tentang nikah itu dilaksanakan. Setelah menikmati nasi Bukhori dan ayam panggang, kemudian mendengarkan tilawah dari seorang di antara kami, saya sebagai moderator langsung memulai obrolan dan mempersilakan para Asatidz untuk mulai berbicara. Ustadz Asfuri dengan gayanya yang kalem memberikan motivasi menikah kepada kami. Ustadz Fahmi bercerita tentang masa lalunya ketika menjadi sekjen KAMMI Pusat periode pertama. Bagaimana antara Ikhwan dan Akhwat pada waktu itu begitu terhijab, bahkan menikah satu atap organisasi masih menjadi suatu hal yang tabu. Sedangkan Ustadz Asril menyampaikan tentang etika pergaulan dengan lawan jenis dan serba-serbi kehidupan berkeluarga.
Yang sangat menarik adalah ketika Ustadz Asfuri bercerita tentang proses pernikahannya dulu, sewaktu masih menjadi mahasiswa LIPIA Jakarta. Betapa miskinnya beliau pada saat itu. Bagaimana beliau menikah hanya bermodalkan sebuah Hadits Rasulullah SAW, bahwa ada tiga golongan manusia yang dijamin pasti akan ditolong Allah. Salah satunya adalah seorang pemuda yang menikah untuk menjaga keselamatan agamanya. Menurut beliau, esensi 'ubudiyah menikah adalah ketawakalan yang tinggi kepada Allah ta'ala. Memang sangat spekulatif, tapi dalam spekulasi itu ada kenikmatan yang luar biasa yang lahir dari rasa harap kepada Sang Maha Penolong.
Dan memang benar, soal menikah sulit terlogika dengan akal manusia. Secara nalar setelah menikah beban kehidupan seorang hamba akan bertambah. Namun yang tidak disadari, ternyata Allah juga menambahkan kekuatan kepada hamba tersebut untuk mampu memikul bebannya. "Jika mereka miskin, maka Allah akan menjadikan mereka kaya..", begitulah termaktub dalam Al Qur'an. Saya sendiri, meskipun belum merasakan langsung, menyaksikan bagaimana teman-teman mahasiswa Madinah membuktikannya.
Sebut saja namanya Asman. Mahasiswa fakultas Hadits ini menikah sejak tingkat dua. Istrinya ditinggal di Indonesia. Kini sudah dikaruniai seorang putri. Setiap menerima tunjangan beasiswa, ia harus membaginya menjadi dua, sebagian buat hidup selama sebulan dan sebagian yang lain harus dikirim ke Indonesia. Namun dengan beban keluarga tersebut tidak menjadikannya lemah dalam belajar. Ia pernah bercerita bahwa IPK-nya terus meningkat sejak ia menikah, meski beberapa waktu kosong harus ia isi dengan mencari nafkah. Kontribusinya dalam dakwah juga diakui teman-teman. Ia tetap aktif berkarya, menulis, menterjemah dan bahkan menjadi striker bola tim nasional kami. Wajahnya tenang, teduh dan tetap ceria.
Saya pernah mendapatkan jawaban yang tidak terbantahkan darinya soal menikah. Waktu itu ketika mahasiswa asal Garut ini memotivasi saya, saya beralasan ingin fokus studi dulu, S2, S3 dan seterusnya. Kemudian ia balik bertanya, "Antum masih kuat menahan tidak? Masih bisa menjaga pandangan? Kesucian diri?" Saya pun menjawab, "Sulit!". Asman kembali menimpali dengan sebuah kaidah, "Akhi, daf'ul mafasid muqoddam 'ala jalbil masholih". Bahwa menghindari kemafsadatan itu harus didahulukan daripada mencari kemaslahatan.
Betul juga kata Asman. Khayalan yang tidak halal dan pandangan yang tidak terjaga itu adalah mafsadat. Apalagi kalau sudah terjerumus kepada pacaran, konsumsi pornografi, onani dan penyakit bujang lainnya. Sedangkan belajar, S2, S3 dan status sosial, itu semua adalah maslahah. Jadi menikah untuk menahan mafsadat tersebut tadi harus menjadi prioritas, dibanding sekedar menggapai maslahat yang tidak darurat. Memang betul, yang sudah menikah sebagian waktunya tersita untuk mengurusi keluarga. Tapi coba hitung, berapa waktu yang dibuang para bujang untuk melamun, berimajinasi, chatingan, fesbukan, colek sana-sini, HTS-an atau abi-umian? Sedangkan yang pertama berpahala dan yang kedua mengarah ke dosa? (Deg! Kena banget Coy..).
Bahkan sebenarnya antara nikah dan studi tidak perlu dibenturkan. Semua bisa berjalan saling beriringan. Faruq Azad telah membuktikannya. Mahasiswa asal India ini adalah teman sekelas saya di fakultas Syari'ah semester kedua. Waktu itu ketika masuk kelas pertama kali kami membawa daftar mata kuliah yang tertulis di atasnya IP semester pertama. Saya yang saat itu duduk di sebelahnya mengintip berapa IP yang diraihnya. Luar biasa, 4.98, Hampir sempurna! Kemudian iseng saya bertanya kepadanya, "Antum sudah menikah?" Faruq menjawab, "Sudah". Lalu ia balik bertanya berapa nilai saya. Saya pun menjawab, "4.86". Kemudian setelah dia tahu nilai saya tidak lebih tinggi darinya dan ternyata saya belum menikah, dia pun berkata, "Miskin Anta!" yang artinya, kacian deh luuu…
Ada lagi, Abdul Latif panggilannya. Ia adalah tetangga kamar saya, asal Yaman. Ia sudah menikah dengan satu anak. Namun kemampuan ilmiyahnya membuat mulut semua orang ternganga. Ia peraih IP lima. Sempurna! Ia juga hafal Alqur'an 30 juz. Bahkan ia juga menguasai qiro'ah sab'ah. Ia pun hafal ratusan Hadits dan Syair Arab. Tahun kemarin ia menjadi perwakilan kampus dalam ajang mahasiswa nasional. Orangnya sangat ramah, tenang, dewasa dan berwibawa. Saya sering memintanya privat khusus dalam I'rab Nahwu dan ilmu Mawaris.
Begitulah, tugas belajar tidak menghalangi langkah mereka untuk menggenapkan separuh agama. Bagi mereka menikah bukan sekedar melaksanakan sunnah, tapi menikah adalah proyek besar membangun peradaban umat: turut serta melahirkan generasi robbani. Pernikahan yang barokah, akan menghasilkan lompatan-lompatan fantastis dalam hidup seseorang. Secara kedewasaan, spiritual, finansial, performa lahir, dan banyak hal lain. Bahkan teman saya bilang, dengan menikah kemudian berpisah, bisa menjadi kenangan tersendiri bagi kehidupan suami istri dan menambah harumnya bumbu romantika berkeluarga.
Kembali kepada dauroh kami tadi. Setelah mendapatkan motivasi menikah dari Ustadz Asfuri, terlihat teman-teman tambah bersemangat dan semakin antuzias mengikuti obrolan. Termasuk saya sendiri. Pandangan saya menerawang jauh, membayangkan rangkaian moment spesial itu. Mengkhayal saat-saat nadhor, ta'aruf, khitbah, akad, malam pertama, honeymoon, program pacaran, punya anak, so sweet.. (lebay.com).
Namun tiba-tiba para Ustadz kembali melanjutkan uraian yang membuat kami semua kaget. Khusus kami para penuntut ilmu, yang sudah dinantikan umat di Indonesia, mereka bertiga sangat menyarankan kalau bisa jangan buru-buru nikah dulu. Menunda sebentar sampai selesai S3 ada baiknya. Kata mereka, nanti kalau sudah menikah kami tidak akan bisa fokus lagi belajar. Apa lagi kalau sudah punya anak. Kebutuhan biologis, kasih sayang, materi, susu bayi, masalah dengan mertua, dan seterusnya, akan banyak menyita perhatian dan tenaga. Apalagi kalau harus melanjutkan S2 ke pelosok Sudan, Libia atau Pakistan, mau bawa istri? Glek! Tubuh kami yang sejak tadi sudah melangit karena motivasi, tiba-tiba saja jatuh kembali ke bumi. Kok jadi begini endingnya?!
Yah, sebenarnya nasehat tambahan Ustadz di atas ada betulnya. Bagi sebagian orang, menikah sambil kuliah ternyata menimbulkan banyak masalah. Apalagi bagi para mahasiswa S1 di Madinah, yang belum boleh membawa serta istri. Dosen kami di kelas pernah bilang, "imma an tu'adzdzibaha au tu'adzdzibaka". Kalau tadi adalah kisah suksesnya, coba simak kisah sedihnya berikut ini.
Sebut saja namanya Usman (bukan nama sebenarnya). Mahasiswa asal Bandung ini menikah pada liburan musim panas pertama, yaitu masuk tahun kedua kuliah. Awalnya Usman terkenal sebagai mahasiswa yang rajin. Selalu datang ke kelas paling awal dan duduk paling depan. Ia juga aktif mengikuti kajian para Masyayikh di Masjid Nabawi. Namun setelah menikah, teman-temannya merasakan perubahan yang sangat mencolok dari perilakunya. Ia menjadi sering melamun. Di kelas selalu sambil chating. Ia pun mulai jarang kelihatan di masjid Nabawi. Itu semua berimbas pada prestasi akademiknya.
Lain Usman, lain lagi Hammad. Ia langsung menikah setelah dinyatakan lolos seleksi ke Madinah. Semangat! Mahasiswa angkatan lama ini bahkan baru bisa menyelesaikan jenjang S1 setelah delapan tahun lamanya. Sepertinya beban keluarga adalah penyebabnya. Kasihan memang, dua kali istrinya melahirkan secara sesar ia tidak bisa pulang mendampingi. Meskipun ia sangat produktif dalam dakwah dan bisnis, namun proses tholabul ilmi yang menjadi amanahnya menjadi tidak maksimal.
Ada lagi yang lain. Rio namanya. Teman seangkatan saya ini, sekilas adalah mahasiswa yang cerdas, dilihat dari cara berbicara dan wawasannya. Namun ternyata prestasi akademiknya tak seperti penampakan dhohirnya. Nilainya pas-pasan. Bahkan sering absen kuliah. Ia pun jarang keluar dari kamar, apalagi aktif di beberapa organisasi yang ada. Saya tidak bisa memastikan apakah itu karena ia sudah punya tanggungan keluarga atau ada faktor lain. Namun yang saya ketahui ketika masuk tanggal tua ia harus kerepotan mencari pinjaman sana-sini untuk mengirim wesel ke Istri. Terlihat beban yang cukup berat menggantung di wajahnya.
Soal finansial, ada lagi yang lebih parah. Panggil saja namanya Abu. Mahasiswa asal Afrika Selatan ini terkenal sebagai rajanya hutang. Terlebih di kalangan mahasiswa Indonesia. Ia berpindah dari mahasiswa satu ke mahasiswa yang lain untuk meminjam uang, bahkan kepada orang yang belum ia kenal. Parahnya, ia juga terkenal bandel dalam membayar utang. Telat satu atau dua semester itu biasa. Ketika ditanya alasannya kenapa, ia selalu bercerita tentang anak dan istrinya di pelosok Afrika sana.
Banyak lagi kisah sedih yang lain. Ada yang sampai stres karena harus berpisah dengan istri. Ada yang sampai nggak kuat dan terpaksa pulang ke tanah air sebelum tamat. Ada juga kisah lucu bagaimana ketika pulang ke Indonesia ternyata sang anak yang sudah besar tidak mengenal bapaknya dan bertanya, "Om ini siapa ya?" atau malah lari terbirit-birit sambil menangis menuju sang Ibu. Semua memberikan pelajaran bahwa ada banyak konsekuensi pernikahan yang harus kembali dipertimbangkan (mlempem mode:on).
Tak terasa obrolan kami sudah berjalan dua jam lebih. Penjaga restoran sudah memberikan sinyal pengusiran (yalla shodiq..:p). Kajian nikah kami harus berakhir sampai disini. Namun saya sebagai moderator agak bingung mengambil kesimpulan. Antara yang awal dan akhir. Antara menikah atau fokus dulu kuliah. Antara menghormati anjuran para Ustadz dan mengakomodir teman-teman yang lagi bersemangat.
Akhirnya secara sepontan terlontar juga sebuah penyimpulan seadanya. Bahwa dalam masalah ini berlaku teori relativitas. Tergantung kemampuan dan kondisi kejiwaan masing-masing. Bagi yang terbiasa melakukan banyak hal dalam satu waktu, bercabang dalam pikiran, sepertinya menikah saat kuliah adalah anugerah di atas anugerah. Apalagi kalau sudah sangat kebelet (hehe..). Namun bagi para penuntut ilmu yang belum mampu, dalam berbagai sisinya, dan tidak bisa fokus menghadapi bermacam masalah, sepertinya pilihan untuk menunda menikah ada baiknya. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Yang penting sebelum memutuskan, silakan masing-masing bertanya kepada diri sendiri, di barisan mana ia berada. Tak lupa beristikharah juga, bertanya pada Yang Maha Tahu Segalanya. Allahu muwafiq ila aqwamit thoriq.
.:. Untuk kelima adikku tersayang, teruslah berjuang menggapai cita dan cinta. Tertunda bukan akhir segalanya..^^
(Termuat dalam Media Sosial Kompasiana click here)
Singkat cerita, akhirnya tiga orang Ustadz bersedia memberikan wejangan khusus kepada kami. Mereka adalah Ust. Asfuri Bahri, Lc (Staf BPK Pusat), Ust. Fahmi Rusydi, Lc (Ma'had Al Hikmah Bangka) dan Ust. Asril Abdullah, Lc (Pengasuh PP Husnul Khatimah) Kebetulan ketiganya sedang mengikuti diklat yang diselenggarakan Rabitah Alam Islami di Mekkah. Yang pasti beliau-beliau sudah menikah dan punya anak, jadi nggak bakal ada lagi cletukan "NATO, no action talking only" seperti biasa.
Di restoran Ma'azim, pada pinggiran kota Madinah yang bergaya lesehan, dauroh singkat tentang nikah itu dilaksanakan. Setelah menikmati nasi Bukhori dan ayam panggang, kemudian mendengarkan tilawah dari seorang di antara kami, saya sebagai moderator langsung memulai obrolan dan mempersilakan para Asatidz untuk mulai berbicara. Ustadz Asfuri dengan gayanya yang kalem memberikan motivasi menikah kepada kami. Ustadz Fahmi bercerita tentang masa lalunya ketika menjadi sekjen KAMMI Pusat periode pertama. Bagaimana antara Ikhwan dan Akhwat pada waktu itu begitu terhijab, bahkan menikah satu atap organisasi masih menjadi suatu hal yang tabu. Sedangkan Ustadz Asril menyampaikan tentang etika pergaulan dengan lawan jenis dan serba-serbi kehidupan berkeluarga.
Yang sangat menarik adalah ketika Ustadz Asfuri bercerita tentang proses pernikahannya dulu, sewaktu masih menjadi mahasiswa LIPIA Jakarta. Betapa miskinnya beliau pada saat itu. Bagaimana beliau menikah hanya bermodalkan sebuah Hadits Rasulullah SAW, bahwa ada tiga golongan manusia yang dijamin pasti akan ditolong Allah. Salah satunya adalah seorang pemuda yang menikah untuk menjaga keselamatan agamanya. Menurut beliau, esensi 'ubudiyah menikah adalah ketawakalan yang tinggi kepada Allah ta'ala. Memang sangat spekulatif, tapi dalam spekulasi itu ada kenikmatan yang luar biasa yang lahir dari rasa harap kepada Sang Maha Penolong.
Dan memang benar, soal menikah sulit terlogika dengan akal manusia. Secara nalar setelah menikah beban kehidupan seorang hamba akan bertambah. Namun yang tidak disadari, ternyata Allah juga menambahkan kekuatan kepada hamba tersebut untuk mampu memikul bebannya. "Jika mereka miskin, maka Allah akan menjadikan mereka kaya..", begitulah termaktub dalam Al Qur'an. Saya sendiri, meskipun belum merasakan langsung, menyaksikan bagaimana teman-teman mahasiswa Madinah membuktikannya.
Sebut saja namanya Asman. Mahasiswa fakultas Hadits ini menikah sejak tingkat dua. Istrinya ditinggal di Indonesia. Kini sudah dikaruniai seorang putri. Setiap menerima tunjangan beasiswa, ia harus membaginya menjadi dua, sebagian buat hidup selama sebulan dan sebagian yang lain harus dikirim ke Indonesia. Namun dengan beban keluarga tersebut tidak menjadikannya lemah dalam belajar. Ia pernah bercerita bahwa IPK-nya terus meningkat sejak ia menikah, meski beberapa waktu kosong harus ia isi dengan mencari nafkah. Kontribusinya dalam dakwah juga diakui teman-teman. Ia tetap aktif berkarya, menulis, menterjemah dan bahkan menjadi striker bola tim nasional kami. Wajahnya tenang, teduh dan tetap ceria.
Saya pernah mendapatkan jawaban yang tidak terbantahkan darinya soal menikah. Waktu itu ketika mahasiswa asal Garut ini memotivasi saya, saya beralasan ingin fokus studi dulu, S2, S3 dan seterusnya. Kemudian ia balik bertanya, "Antum masih kuat menahan tidak? Masih bisa menjaga pandangan? Kesucian diri?" Saya pun menjawab, "Sulit!". Asman kembali menimpali dengan sebuah kaidah, "Akhi, daf'ul mafasid muqoddam 'ala jalbil masholih". Bahwa menghindari kemafsadatan itu harus didahulukan daripada mencari kemaslahatan.
Betul juga kata Asman. Khayalan yang tidak halal dan pandangan yang tidak terjaga itu adalah mafsadat. Apalagi kalau sudah terjerumus kepada pacaran, konsumsi pornografi, onani dan penyakit bujang lainnya. Sedangkan belajar, S2, S3 dan status sosial, itu semua adalah maslahah. Jadi menikah untuk menahan mafsadat tersebut tadi harus menjadi prioritas, dibanding sekedar menggapai maslahat yang tidak darurat. Memang betul, yang sudah menikah sebagian waktunya tersita untuk mengurusi keluarga. Tapi coba hitung, berapa waktu yang dibuang para bujang untuk melamun, berimajinasi, chatingan, fesbukan, colek sana-sini, HTS-an atau abi-umian? Sedangkan yang pertama berpahala dan yang kedua mengarah ke dosa? (Deg! Kena banget Coy..).
Bahkan sebenarnya antara nikah dan studi tidak perlu dibenturkan. Semua bisa berjalan saling beriringan. Faruq Azad telah membuktikannya. Mahasiswa asal India ini adalah teman sekelas saya di fakultas Syari'ah semester kedua. Waktu itu ketika masuk kelas pertama kali kami membawa daftar mata kuliah yang tertulis di atasnya IP semester pertama. Saya yang saat itu duduk di sebelahnya mengintip berapa IP yang diraihnya. Luar biasa, 4.98, Hampir sempurna! Kemudian iseng saya bertanya kepadanya, "Antum sudah menikah?" Faruq menjawab, "Sudah". Lalu ia balik bertanya berapa nilai saya. Saya pun menjawab, "4.86". Kemudian setelah dia tahu nilai saya tidak lebih tinggi darinya dan ternyata saya belum menikah, dia pun berkata, "Miskin Anta!" yang artinya, kacian deh luuu…
Ada lagi, Abdul Latif panggilannya. Ia adalah tetangga kamar saya, asal Yaman. Ia sudah menikah dengan satu anak. Namun kemampuan ilmiyahnya membuat mulut semua orang ternganga. Ia peraih IP lima. Sempurna! Ia juga hafal Alqur'an 30 juz. Bahkan ia juga menguasai qiro'ah sab'ah. Ia pun hafal ratusan Hadits dan Syair Arab. Tahun kemarin ia menjadi perwakilan kampus dalam ajang mahasiswa nasional. Orangnya sangat ramah, tenang, dewasa dan berwibawa. Saya sering memintanya privat khusus dalam I'rab Nahwu dan ilmu Mawaris.
Begitulah, tugas belajar tidak menghalangi langkah mereka untuk menggenapkan separuh agama. Bagi mereka menikah bukan sekedar melaksanakan sunnah, tapi menikah adalah proyek besar membangun peradaban umat: turut serta melahirkan generasi robbani. Pernikahan yang barokah, akan menghasilkan lompatan-lompatan fantastis dalam hidup seseorang. Secara kedewasaan, spiritual, finansial, performa lahir, dan banyak hal lain. Bahkan teman saya bilang, dengan menikah kemudian berpisah, bisa menjadi kenangan tersendiri bagi kehidupan suami istri dan menambah harumnya bumbu romantika berkeluarga.
Kembali kepada dauroh kami tadi. Setelah mendapatkan motivasi menikah dari Ustadz Asfuri, terlihat teman-teman tambah bersemangat dan semakin antuzias mengikuti obrolan. Termasuk saya sendiri. Pandangan saya menerawang jauh, membayangkan rangkaian moment spesial itu. Mengkhayal saat-saat nadhor, ta'aruf, khitbah, akad, malam pertama, honeymoon, program pacaran, punya anak, so sweet.. (lebay.com).
Namun tiba-tiba para Ustadz kembali melanjutkan uraian yang membuat kami semua kaget. Khusus kami para penuntut ilmu, yang sudah dinantikan umat di Indonesia, mereka bertiga sangat menyarankan kalau bisa jangan buru-buru nikah dulu. Menunda sebentar sampai selesai S3 ada baiknya. Kata mereka, nanti kalau sudah menikah kami tidak akan bisa fokus lagi belajar. Apa lagi kalau sudah punya anak. Kebutuhan biologis, kasih sayang, materi, susu bayi, masalah dengan mertua, dan seterusnya, akan banyak menyita perhatian dan tenaga. Apalagi kalau harus melanjutkan S2 ke pelosok Sudan, Libia atau Pakistan, mau bawa istri? Glek! Tubuh kami yang sejak tadi sudah melangit karena motivasi, tiba-tiba saja jatuh kembali ke bumi. Kok jadi begini endingnya?!
Yah, sebenarnya nasehat tambahan Ustadz di atas ada betulnya. Bagi sebagian orang, menikah sambil kuliah ternyata menimbulkan banyak masalah. Apalagi bagi para mahasiswa S1 di Madinah, yang belum boleh membawa serta istri. Dosen kami di kelas pernah bilang, "imma an tu'adzdzibaha au tu'adzdzibaka". Kalau tadi adalah kisah suksesnya, coba simak kisah sedihnya berikut ini.
Sebut saja namanya Usman (bukan nama sebenarnya). Mahasiswa asal Bandung ini menikah pada liburan musim panas pertama, yaitu masuk tahun kedua kuliah. Awalnya Usman terkenal sebagai mahasiswa yang rajin. Selalu datang ke kelas paling awal dan duduk paling depan. Ia juga aktif mengikuti kajian para Masyayikh di Masjid Nabawi. Namun setelah menikah, teman-temannya merasakan perubahan yang sangat mencolok dari perilakunya. Ia menjadi sering melamun. Di kelas selalu sambil chating. Ia pun mulai jarang kelihatan di masjid Nabawi. Itu semua berimbas pada prestasi akademiknya.
Lain Usman, lain lagi Hammad. Ia langsung menikah setelah dinyatakan lolos seleksi ke Madinah. Semangat! Mahasiswa angkatan lama ini bahkan baru bisa menyelesaikan jenjang S1 setelah delapan tahun lamanya. Sepertinya beban keluarga adalah penyebabnya. Kasihan memang, dua kali istrinya melahirkan secara sesar ia tidak bisa pulang mendampingi. Meskipun ia sangat produktif dalam dakwah dan bisnis, namun proses tholabul ilmi yang menjadi amanahnya menjadi tidak maksimal.
Ada lagi yang lain. Rio namanya. Teman seangkatan saya ini, sekilas adalah mahasiswa yang cerdas, dilihat dari cara berbicara dan wawasannya. Namun ternyata prestasi akademiknya tak seperti penampakan dhohirnya. Nilainya pas-pasan. Bahkan sering absen kuliah. Ia pun jarang keluar dari kamar, apalagi aktif di beberapa organisasi yang ada. Saya tidak bisa memastikan apakah itu karena ia sudah punya tanggungan keluarga atau ada faktor lain. Namun yang saya ketahui ketika masuk tanggal tua ia harus kerepotan mencari pinjaman sana-sini untuk mengirim wesel ke Istri. Terlihat beban yang cukup berat menggantung di wajahnya.
Soal finansial, ada lagi yang lebih parah. Panggil saja namanya Abu. Mahasiswa asal Afrika Selatan ini terkenal sebagai rajanya hutang. Terlebih di kalangan mahasiswa Indonesia. Ia berpindah dari mahasiswa satu ke mahasiswa yang lain untuk meminjam uang, bahkan kepada orang yang belum ia kenal. Parahnya, ia juga terkenal bandel dalam membayar utang. Telat satu atau dua semester itu biasa. Ketika ditanya alasannya kenapa, ia selalu bercerita tentang anak dan istrinya di pelosok Afrika sana.
Banyak lagi kisah sedih yang lain. Ada yang sampai stres karena harus berpisah dengan istri. Ada yang sampai nggak kuat dan terpaksa pulang ke tanah air sebelum tamat. Ada juga kisah lucu bagaimana ketika pulang ke Indonesia ternyata sang anak yang sudah besar tidak mengenal bapaknya dan bertanya, "Om ini siapa ya?" atau malah lari terbirit-birit sambil menangis menuju sang Ibu. Semua memberikan pelajaran bahwa ada banyak konsekuensi pernikahan yang harus kembali dipertimbangkan (mlempem mode:on).
Tak terasa obrolan kami sudah berjalan dua jam lebih. Penjaga restoran sudah memberikan sinyal pengusiran (yalla shodiq..:p). Kajian nikah kami harus berakhir sampai disini. Namun saya sebagai moderator agak bingung mengambil kesimpulan. Antara yang awal dan akhir. Antara menikah atau fokus dulu kuliah. Antara menghormati anjuran para Ustadz dan mengakomodir teman-teman yang lagi bersemangat.
Akhirnya secara sepontan terlontar juga sebuah penyimpulan seadanya. Bahwa dalam masalah ini berlaku teori relativitas. Tergantung kemampuan dan kondisi kejiwaan masing-masing. Bagi yang terbiasa melakukan banyak hal dalam satu waktu, bercabang dalam pikiran, sepertinya menikah saat kuliah adalah anugerah di atas anugerah. Apalagi kalau sudah sangat kebelet (hehe..). Namun bagi para penuntut ilmu yang belum mampu, dalam berbagai sisinya, dan tidak bisa fokus menghadapi bermacam masalah, sepertinya pilihan untuk menunda menikah ada baiknya. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Yang penting sebelum memutuskan, silakan masing-masing bertanya kepada diri sendiri, di barisan mana ia berada. Tak lupa beristikharah juga, bertanya pada Yang Maha Tahu Segalanya. Allahu muwafiq ila aqwamit thoriq.
.:. Untuk kelima adikku tersayang, teruslah berjuang menggapai cita dan cinta. Tertunda bukan akhir segalanya..^^
(Termuat dalam Media Sosial Kompasiana click here)
Label:
Catatan Ringan
Langganan:
Postingan (Atom)



